Menolak Cinta Bos Mafia

Menolak Cinta Bos Mafia
52. Aku Mencintaimu


__ADS_3

"Ilina, kamu sudah bangun?"


Dari tadi.


Ilina tidak menoleh meski tahu Noah mendekatinya.


Dia baru saja keluar, entah ke mana, namun sepertinya tidak pergi jauh. Ada aroma khas yang tercium oleh Ilina, membuatnya sejenak melirik, tapi kemudian tidak bereaksi.


Bunga lagi.


Entah mau sampai kapan dia melakukannya.


"Apa yang kamu lakukan?"


Mengapa dia harus menanyakan hal yang begitu jelas?


Tentu saja Ilina bersiap. Perang sudah berada di depan mata dan sudah waktunya Ilina turun tangan langsung. Ia sudah memutuskan ikut campur pada permainan Noah sejak awal, jadi Ilina akan mengakhirinya juga dengan tangannya sendiri.


Disamping itu, tak tahu kenapa, Ilina hanya ingin pergi membunuh Benedict.


Dia punya hutang pada Ilina, dan hutang harus dibayar bagaimanapun caranya.


Terutama hutang yang sangat besar.


"Ilina."


Tangan Noah tiba-tiba mencekal pergelangannya, menghentikan Ilina menempel jarum beracun ke kulitnya.


"Aku memahami kemarahanmu. Tapi tenanglah dulu. Kita berdua bisa melakukannya bersama. Aku bersamamu."

__ADS_1


Kepala Ilina memiring bingung. "Marah? Aku? Kenapa?"


"...."


Kemarahan bukanlah sesuatu yang boleh dilakukan oleh orang seperti Ilina. Bukankah Ilina sudah bilang?


Prinsip itu tidak akan berubah. Menghargai, dihargai, terluka, melukai, kecewa, mengecewakan, segala bentuk emosi dan reaksi tidaklah penting.


"Aku melakukannya untuk diriku sendiri. Aku berpikir melakukannya, maka kulakukan." Ilina menarik tangan dari Noah. "Dan sejak kapan aku berkata aku mengajakmu bersamaku?"


"Ilina—"


"Dari awal aku tidak melihatmu. Sedikitpun."


Ilina kembali sibuk melakukan pekerjaannya.


"Aku datang hanya untuk mengambil alih Palmer. Kamu mati, kamu di sampingku, kamu melakukan apa pun, tidak akan mempengaruhiku. Senior Mahesa hanya memintaku membantumu."


"Lalu?" Segera ia beranjak, melewati Noah dan bunga anyelir di tangannya. "Aku akan balas mencintaimu jika bungamu tidak layu sampai aku mati. Kulihat itu masih mustahil."


...*...


Noah menatap kekosongan sofa di mana Ilina baru saja duduk, dan beranjak pergi dengan kalimat menyakitkan di lidahnya.


Padahal diam-diam sudah tahu bahwa hati Ilina yang batu baru sedikit tergores oleh beberapa bunga pemberiannya. Jelas saja tidak akan semudah itu meski mereka sudah bercinta.


Dia adalah gadis yang akan melakukan apa pun untuk dirinya sendiri. Bukan berarti dia menyukai Noah saat dia menerima jamahan tangannya.


Namun ditolak ternyata menyakitkan.

__ADS_1


Mata itu, ekspresi dingin itu, Noah dapat memahaminya.


Tidak boleh ada emosi.


Itulah yang diajarkan Mahesa.


Namun ... sedikit saja, apa tidak bisa Noah menemaninya?


Berhadapan dengan orang serupa dengan dirinya ternyata menakutkan. Dia tidak goyah pada apa pun yang seharusnya bisa membuat dia goyah.


Lalu bagaimana Noah merebut hati Ilina?


Setelah membunuh Benedict, Ilina pasti akan kembali ke desa itu.


"Ilina." Noah menjatuhkan kepalanya ke sandaran sofa. Menatap sayu udara kosong yang samar-samar masih meninggalkan jejak aroma gadis itu. "Aku pun sama sepertimu."


Mereka akan selalu sama.


Selalu.


Dia bersikeras mendapatkan apa yang dia mau, melakukan apa pun untuk meraihnya, dan Noah akan mendapatkan apa yang ia mau.


Akan ia dapatkan gadis itu, bahkan jika harus mengorek isi otak Benedict.


Noah punya kesabaran yang sangat amat banyak setelah bertahun-tahun hidup dalam persembunyian.


Sebagaimana Ilina menipu dirinya sendiri dengan menganggap dia tak peduli pada rasa sedih akan kematian pelayannya, Noah pun tahu cara menipu diri sendiri untuk tidak terluka.


Karena tujuannya hanya memiliki Ilina.

__ADS_1


...*...


__ADS_2