Menolak Cinta Bos Mafia

Menolak Cinta Bos Mafia
59. Obsesi


__ADS_3

Emlia menatap kesal pria di hadapannya. Menerima Noah dalam hidupnya adalah keinginan Mahesa, tapi jika ada satu hal yang Ilina tidak mau terima dari Mahesa, maka itu adalah Noah.


Kenapa?


Pokoknya tidak mau. Tidak ada alasan lain atau penyebab emosional apa pun.


"Aku tidak akan berhenti," ucap Noah begitu Ilina berbalik, ingin masuk ke kamarnya saja. "Aku akan terus datang mengganggumu."


Dengan kesal Ilina berbalik. "Begitu caramu membuktikan cintamu pada seorang gadis? Memaksa dan keras kepala?"


"Cinta? Mendengar cinta darimu membuatku bahagia." Noah beranjak. Mendekati Ilina dan membungkuk tepat di samping telinganya. "Tapi, Lia-ku Sayang ...."


Tangan Noah membelai sudut bibirnya.


"Aku berlutut padamu bukan mengatakan cinta, tapi obsesi."


Ilina mengepal tangannya. Kesal melihat Noah tersenyum tanpa beban.


"Akan kubuat obsesiku terbalas. Bagaimanapun caranya. Kamu yang mengajariku, kan?" Noah meraih tangan Ilina, mengecupnya lembut. Tapi berbeda dari kecupannya, perkataan Noah tajam. "Ambil apa pun, tanpa menghargai pemiliknya."


Jadi dia mau mengambil hati Ilina bahkan jika Ilina tidak mau, kah?


*


Noah tahu Ilina pasti kesal, karena itu berlawanan dengan ucapannya, Noah tidak mengganggu dia hari ini.


Sementara membiarkan Ilina tenang, Noah berpikir untuk mengajak ibunya jalan-jalan setelah sekian lama.

__ADS_1


Yah, tidak banyak hal bisa dilihat di desa seperti ini, namun Mama bukan tipe wanita kota yang benci desa.


"Mama pikir hari ini bisa bertemu gadismu."


Noah terkekeh, mengeratkan genggaman ke tangan ibunya. "Tolong bersabar sebentar lagi. Mama akan segera bertemu dia."


Usapan Mama di pipinya membuat Noah berpaling. "Agak aneh mengetahui ada wanita menolak wajahmu."


"Itu bukan soal wajah, Ma."


"Ah, benar juga. Dia kan menyukai Mahardika. Apa boleh buat."


Noah langsung berhenti berjalan. "Hei, jangan mengatakannya seperti aku tidak lebih tampan dari Mahesa. Mama seharusnya berkata aku yang paling tampan."


"Sulit berkata begitu saat sainganmu Mahesa."


Karena demi Tuhan, kenapa harus selalu dia?


"Apa Mama punya saran, bagaimana membuat wanita keras kepala itu mau menerimaku?"


Mama malah tersenyum. "Makin keras wanita menolakmu lalu makin keras kamu berjuang mengubah penolakannya, buah dari itu adalah ingatan abadi."


"Apa itu?"


"Dia akan selalu ingat bahwa kamu melakukan hal itu untuknya. Wanita gampang lupa pada kebaikan tapi sepertinya tidak pada bagaimana mereka diperjuangkan. Jadi, saran Mama, bersabar saja."


Itu sama sekali bukan saran. Walau Noah menerimanya karena paham.

__ADS_1


Dibawa ibunya berkeliling, abai pada bagaimana warga desa memandangi mereka penasaran. Ada dua alasan mengenai hal itu, Noah rasa.


Pertama, Noah membeli rumah termahal di desa ini yang bagi seluruh warga desa, itu mungkin sudah sangat luar biasa. Dan kedua, meski berada di desa, Mama memakai setelan mewah yang sederhana tapi elegan, dan Noah yang seorang publik figur secara alami punya vibes berbeda.


Tidak ada yang berani mengajak bicara duluan. Mungkin karena mereka masih menilai situasi dan coba memahami kenapa orang kaya seperti mereka memilih tinggal di desa.


"Permisi."


Untuk pertama kali, Noah mendengar seseorang bicara padanya. Ia menoleh, mengangkat alis pada seorang gadis yang entah kenapa Noah kenal tapi tak ingat.


Siapa?


"Ya?"


Gadis itu malu-malu menunjukkan ponselnya. "I-ini kamu, kan? Andreas Noah?"


Ck. "Begitulah." Noah sudah bukan artis, dan ia sedikitpun tidak berminat jadi penyanyi lagi. Maka tidak ada gunanya menjaga kesopanan pada fans. "Lalu?"


Gadis itu menatapnya dengan wajah tersipu. "I-itu, a-aku ingat pernah merawatmu saat terluka. Kamu dirawat di puskesmas dekat sini."


Sesuatu seperti itu pernah terjadi? Maaf saja, Noah memang tidak suka ingat jika tidak menarik.


"Jadi begitu." Noah berbalik. "Jika tidak ada perlu, aku pergi. Ibuku sedang ingin ketenangan."


"Ah—"


Dia masih mau bicara, tapi Noah membawa Mama pergi.

__ADS_1


__ADS_2