Menolak Cinta Bos Mafia

Menolak Cinta Bos Mafia
37. Kamu Menggemaskan


__ADS_3

Ilina tidak banyak bertanya ke mana Noah membawanya. Mereka berkendara cukup lama hingga Ilina terlelap beberapa waktu, namun langsung terbangun begitu Noah ingin kembali menggendongnya.


"Aku bisa berjalan."


Pria itu tetap menggendongnya. "Aku tahu kamu terluka, Lia."


Lagi. Dia berpura-pura seakan Ilina adalah Lia dan Lia bukan Ilina.


Pria itu membawanya masuk ke sebuah bangunan tiga lantai yang dua lantai bawahnya nampak ramai dikunjungi oleh orang-orang.


Ilina tak tahu apa itu, tapi nampaknya itu semacam fasilitas serupa restoran atau kafe.


Noah naik lewat pintu belakang. Menggunakan tangga yang langsung membawa mereka ke lantai tiga, sebuah tempat nyaris serupa dengan apartemen, namun lebih luas.


Interior kamarnya agak unik di mata Ilina. Noah menaiki tangga besi untuk membawa Ilina ke sebuah kasur tinggi, lalu dia turun untuk kembali naik membawa baskom berisi air hangat.


"Sikumu membiru." Noah mengelap hati-hati tangannya yang berbau anyir.


Apa sekarang dia lagi-lagi mau bermain 'lupakan yang kita lihat dan pura-pura kita tidak saling kenal'?


Apa dia tidak bosan?


"Kamu memanfaatkanku." Ilina tidak mau meladeni permainan Noah. "Aku tidak memintamu menghargaiku. Aku berkata, kamu memanfaatkanku yang berarti kamu tidak peduli padaku."


"...."

__ADS_1


"Sekarang kamu memintaku melihatmu dan meneteskan liurmu di tubuhku?"


Noah berhenti sejenak. Namun dia kembali mengelap tanpa membalas perkataan Ilina.


"Aku tidak membenci caramu."


Sungguh. Ilina lumayan suka bagaimana pria ini bergerak.


Pertama dia melimpahkan kotoran pada Ilina, lalu berpura-pura menjadi korban. Di tengah jalan dia menyukai Ilina, dan sekarang menariknya untuk memiliki Ilina.


Orang egois yang benar-benar mementingkan diri sendiri.


Orang yang sebenarnya sejenis dengan Ilina.


Pria tampan itu memejam. Langsung menangkup tangan Ilina agar lebih lama menyentuh pipinya.


"Tapi aku tidak bisa bersamamu," bisiknya dengan senyum puas.


Noah membuka mata. Tampak seperti ingin menciumnya namun berhenti beberapa inci dari bibir Ilina. "Apa yang harus kulakukan agar kamu menginginkanku juga, Ilina?"


Akhirnya dia berhenti. Cukup memuakkan bersandiwara setiap saat.


"Apa di wajahku terlihat aku membutuhkan sesuatu agar berubah pikiran?"


Ujung jemari Noah bergerak halus di kulit lehernya. Dia jelas-jelas merayu Ilina, meski dia menyamarkannya dengan berhenti di punggung tangan. Bertingkah polos padahal dalam kepala senantiasa melecehkan Ilina.

__ADS_1


Obsesi gilanya. Ilina melihat itu sangat jelas dari mata Noah.


"Aku ...." Noah berusaha mengatur napasnya. Dia selalu terlihat sesak setiap kali dia menatap Ilina. "Aku ingin membeli tatapanmu hari itu."


Hari itu?


"Aku terbakar, Ilina. Kamu memeluk permen pemberian Mahesa dan tampak sangat polos menyukainya. Sejak saat itu, aku diam-diam berpikir, apa aku harus menghilangkan seluruh permen di dunia agar kamu berhenti tersenyum untuk orang itu? Bagaimana caraku menghilangkan permen di tanganmu?"


Ilina hanya menatap tajam ujung jemari Noah di bibirnya.


"Tapi kemudian aku berpikir. Daripada menghilangkan permen, mengapa aku tidak memberimu hal lain? Maka aku mencobanya. Aku memberimu berbagai hal yang mungkin saja kamu sukai. Tapi kamu membuangnya dengan wajah dinginmu yang menggemaskan."


Ternyata dia tahu.


"Aku ... tidak keberatan dengan caramu memandangku."


Kening Noah menekan lembut keningnya.


"Aku bahkan tidak keberatan kalau kamu menginjakku."


"...."


"Kamu menggemaskan, Ilina."


...*...

__ADS_1


__ADS_2