
Ilina memasang sarung tangan begitu seluruh penjaga di depan ruangan Benedict mati. Ia mengisyaratkan Ryo untuk menendang pintu, dan Noah secara alami memeluknya dari serangan tembakan beruntun.
Lagi, ketika Ilina melirik, dia cuma tersenyum.
Kenyataan dia memakai kemeja seakan mau konser alih-alih perang menandakan dia bahkan tidak menganggap tembakan itu mampu membunuhnya.
Orang sombong.
Tapi sialnya Ilina juga punya kesombongan semacam itu.
Jadi Ilina menjentikkan jari, untuk sebuah tembakan beruntun yang berasal dari belakang mereka.
Noah menutup telinganya dari suara terlampau bising. Lalu menarik Ilina agar mengikutinya, tiba di dalam ruangan Benedict berada.
Mata Ilina memicing pada sejumlah orang tersisa. Melempar jarum sebelum ada reaksi pertahanan hingga seluruhnya tumbang tanpa sisa.
Kini Benedict benar-benar di hadapannya, duduk angkuh seolah tak sedang kalah.
"Aku mengagumi keangkuhan." Ilina berjalan mendekat. Waspada pada sesuatu seperti senjata tersembunyi atau pistol.
Namun kewaspadaannya surut ketika Ryo melompat ke belakang Benedict, mengarahkan pistol ke kepalanya sebagai ancaman.
__ADS_1
"Lia Bumantara." Benedict menatapnya dengan senyum tertarik. "Tidak kusangka anaknya Arman benar-benar ada."
Lalu dia menatap Noah.
"Dan setelah puluhan tahun, datang bersama kotoran dari Palmer untuk balas dendam."
Ilina mengeluarkan kotak jarum dari sakunya. Suara teriakan samar masih terdengar, menandakan sekarang pembantaian masih berlangsung. Tapi pria ini sedikitpun tidak peduli, entah karena tahu sudah kalah atau karena memang tidak peduli.
"Aku tidak tahu bahwa Benedict Palmer seorang pujangga yang menggelikan." Ilina mengocok botol kecil racun paling istimewa dan hanya untuk Benedict. "Datang untuk balas dendam? Untuk siapa dendam itu? Apa aku terlihat dendam padamu?"
Noah malah mencium sejumput rambut Ilina. "Ilina-ku tidak punya waktu untuk dendam pada kotoran. Benarkan, Ilina?"
Abaikan dia.
"Tidak." Ilina mendekat. Berhenti tepat di depan meja kerja Benedict. "Aku membunuhi mereka satu per satu juga, seperti keluargamu."
Ekspresinya agak berubah. Jadi dia salah paham Ilina dari keluarga Bumantara. Berarti sampai akhir Xavier tidak membocorkan kenyataan bahwa Ilina tidak memiliki hubungan dengan keluarga Bumantara.
"Aku sebenarnya tidak suka bicara pada orang mati, tapi akan kulakukan terakhir kali." Ilina memperlihatkan wujud aslinya sebagai manusia tak berhati. "Benedict Palmer. Apa arti kesombongan bagimu?"
...*...
__ADS_1
Noah tidak menyukai mata Ilina itu. Ada perasaan dingin menyusup dalam hatinya padahal Noah tidak pernah merasa seseorang melampui dingin hatinya ini.
Pertanyaan itu, tak tahu kenapa, Noah tak mau mendengar jawabannya.
"Kesombongan." Benedict menarik senyum sebelum dia tertawa terbahak-bahak. Wajahnya terlihat menjijikan bagi Noah saat dia menatap Ilina penuh rasa tertarik. "Apa kesombongan bagimu, Gadis Muda?"
"Aku akan menjawabnya setelah mendengarmu."
Noah menahan tangan Ilina. "Buat apa bicara dengan orang seperti dia terlalu lama? Ilina, jangan buat—"
"Kesombongan adalah jubah dan mahkota kekuasaan." Benedict hanya lurus menatap Ilina meski Ryo menekan pistol ke pelipisnya. "Kesombongan adalah hal yang tidak akan mengikuti kebaikan hati. Kesombongan adalah egoistis. Dan kesombongan adalah keindahan."
Ilina menarik senyum tipis. "Kamu benar."
"Ilina—"
"Kesombonganku," Ilina memanjangkan tubuhnya, "adalah memastikan dunia berjalan sesuai kehendakku."
Hal selanjutnya adalah hal yang tidak siapa pun bisa bayangkan terjadi. Ketika tangan Ilina terulur meraih leher Benedict dan pria itu mengarahkan senjata pada Ilina, sesuatu lebih dulu bergerak.
Noah menebas vertikal udara di antara kedua orang itu, disusul suara erangan Benedict yang kehilangan kedua matanya.
__ADS_1
*