Menolak Cinta Bos Mafia

Menolak Cinta Bos Mafia
49. Kamu Tergoda?


__ADS_3

Ilina pura-pura tidak tahu. Melirik makanan yang Noah buatkan untuknya baru saja.


Pria itu mengarahkan sendok untuk menyuapi Ilina, sabar mengawasinya mengunyah meski itu hanya sesendok bubur yang ditambah suwiran daging ayam asin.


Wajah Noah terlihat rumit. Membuat Ilina terpikir untuk berkata, "Xavier berkata dia menyukaiku."


Ternyata benar. Dia melihat Ilina dan Xavier berciuman.


".... Kamu menyukainya juga?"


".... Bagaimana jika iya?"


Agak aneh sebenarnya melihat orang seperti Noah, yang terbiasa hidup dalam kebohongan dan kepalsuan, sekarang memasang wajah seolah dia begitu ketakutan.


Ilina melirik ke sisi tempat tidur. Pada kumpulan bunga mawar di vas putih. Ada tujuh bunga mawar merah di sana.


Melelahkan.


Bertingkah seperti ini membuatnya tercekik.


"Kamu memberiku mawar hari ini." Ilina mengulurkan tangan pada vas itu, namun dengan cepat Noah mengambilkannya. "Kupikir itu pink."


Merah, semua orang sudah tahu. Lambang cinta dan gairah.


"Kamu ingin warna lain?"


"Tidak. Aku suka ini." Ilina tersenyum halus. "Aku menyukai ini, Noah."


Noah tersentak.


Tentu saja dia tak sebodoh itu. Tidak perlu pengulangan bagi Ilina jika hanya ingin berkata ia suka bunganya.


Pria itu ikut tersenyum. Telinganya bergerak-gerak merespons apa yang dia rasakan sekarang.

__ADS_1


Dia melepaskan tangan pada sendok di mangkuk bubur itu. Perlahan mengikis jarak di antara mereka untuk mencapai bibir Ilina.


Sesaat sebelum mereka bersentuhan, Noah benar-benar tersenyum lepas.


"Miliki aku, Ilina."


Sampai saat ini, Noah selalu menciumnya dengan ritme lembut. Berbeda dari cara Xavier yang perasaanya meluap-luap, Noah masih terus menahan diri dalam batasan seolah dia takut Ilina mengetahui terlalu banyak.


Tapi Ilina sudah lelah dengan permainan ini.


Dia bersandiwara, Ilina bersandiwara, setiap hari mereka saling tersenyum lalu berpaling dengan wajah dingin.


Apa itu cinta?


Bagaimana itu terasa?


Apa itu bertahan?


Bagaimana agar itu ada?


"Ilina."


Noah menggumamkan namanya. Meraih tangan Ilina yang meremas kelopak mawar untuk berpindah ke pipinya.


"Lakukan sesukamu." Pria itu menyerahkan kekangan lehernya pada Ilina. "Sentuh aku dan berbuat sekehendakmu. Aku akan senang dengan apa pun itu, Ilina."


Ujung jemari Ilina bergerak di pipi Noah. Meninggalkan usapan lembut tanpa makna sebelum ia kembali menyatukan bibir mereka.


Memang tidak terasa buruk pria tampan ini menyerahkan diri.


Ilina berlama-lama mencium bibirnya meski merasa sesak. Pelipis Noah agak basah oleh keringat, namun sebenarnya Ilina juga sama panasnya.


"Aku membenci Xavier." Noah mengecup ujung jemari Ilina. "Dia mati karena ciuman manis darimu. Bisakah aku saja, Ilina?"

__ADS_1


Ilina agak tersenyum. "Pria tampan suka merayu, begitu yang kutahu."


"Kamu tergoda?"


Mungkin saja.


...*...


Noah tak tahu kenapa Ilina tiba-tiba menerimanya. Namun ia mungkin tak mau tahu.


Disingkirkan sejenak mangkuk bubur dari sana, membiarkan tangan Ilina di tengkuknya melingkar.


Noah merasa panas. Terdorong untuk mengamuk ketika ia justru menyentuh hati-hati pinggang Ilina, sepenuhnya pasrah pada kendali yang dia pegang.


Bunga mawar itu tersingkir dan Noah tidak peduli akan suara vas pecah. Bibirnya yang berada dalam belaian Ilina jauh lebih penting untuk ia rasakan.


Dia benar-benar bukan gadis yang peragu. Meski kentara bahwa dia tidak terlalu terbiasa, Ilina menatapnya, dan mendorong diri untuk melakukan seperti apa yang dia mau.


Ilina dengan tenang menanggalkan kancing kemeja Noah. Dia melakukannya sendiri, bahkan tanpa Noah pancing atau minta.


Ujung halus jemarinya menyentuh permukaan kulit dada Noah. Hanya bermain-main sebentar sebelum dia menarik diri.


"Aku lapar."


Napas Noah memburu berat.


Itu adalah akting terburuk Ilina yang pernah ia lihat, karena dengan begitu sengaja dia berpura-pura tidak terjadi sesuatu.


Tak mau dia melakukan kekejaman itu lagi, Noah segera meraih tangan Ilina. Menariknya untuk jatuh bersama ke tempat tidur.


"Aku tidak masalah jadi makanan."


Ketika dia berguling dan mencium Noah sekali lagi, sedikit saja ia tahu bahwa Ilina sudah mulai melihatnya.

__ADS_1


...*...


__ADS_2