Menolak Cinta Bos Mafia

Menolak Cinta Bos Mafia
41. Kenangan Tentang Ibu


__ADS_3

Tidak.


Racun adalah senjata wanita. Pria tidak meracuni seseorang. Pria memukul dan menebas seseorang. Itu sebuah perbedaan yang sangat jelas bagi Ilina.


Jadi saat ia melawan pria, Ilina tidak waspada pada risiko diracuni. Ia waspada pada risiko ditikam.


"Teh apel adalah minuman favorit ibuku."


Ilina mengangkat alis samar pada cerita Xavier tiba-tiba.


"Ke mana pun dia pergi, kapan pun itu, ibuku seolah memerlukan keberadaan teh ini. Aku tidak tahu kenapa. Rasanya tidak terlalu enak, bagiku."


".... Ini enak."


"Benarkah?" Xavier tersenyum.


Senyum dia dan Noah pun mirip. Senyum yang terkesan dia polos, padahal berbahaya.


"Apa yang disukai ibumu, Lia?"


Ilina menatap permukaan teh di gelasnya ketika pertanyaan itu melayang.


Haruskah ia bilang, 'Ayahmu membunuhnya, jadi bukan hanya minuman kesukaan yang aku tidak tahu, wajahnya pun aku belum pernah lihat secara langsung'.


Tapi Ilina segera tersenyum, menyadari bahwa pemikiran itu terlalu dangkal dan lemah.


Ada hari-hari di mana hatinya dipenuhi kebencian. Hidup dalam persembunyian, tak bisa bermain dengan anak yang sepantaran, terkurung dalam sepi sambil sesekali melihat punggung Mahesa yang datang sekali atau dua kali setahun.


Alasan kenapa Ilina tidak mementingkan informasi pemberian Noah adalah ... karena nyatanya ia benci kedua orang tuanya.


Apa itu salah Ilina karena ia lahir lalu mereka dibunuh? Apa itu salah Ilina karena mereka saling berebut kuasa?

__ADS_1


Terhina, tumbuh di atas tangan orang lain, itulah yang ia rasakan dari pemberian orang tuanya.


"Marshmallow." Ilina tersenyum tulus. "Ayahku selalu memberikan marshmallow pada Ibuku untuk membujuknya. Dan Ibuku akan tersenyum dengan pipi memerah jika Ayah melakukannya."


Bukan hanya Noah yang tahu cara berbohong dan meyakini kebohongan itu nyata agar benar-benar terlihat bahwa itu nyata.


Xavier terpaku pada jawabannya.


Dia pasti berpikir Lia adalah anak Bumantara, namun jawaban semacam itu, dan ketulusan pada senyum Ilina akan mematahkan sedikit saja keyakinannya.


Arman Bumantara dan Sasmita Bumantara sudah mati. Jadi jelas tidak ada kenangan ibunya diberikan marshmallow lalu pipinya merah.


Itu kenangan Ilina sendiri.


"Ibuku juga menyukai pemandangan bulan." Ilina terus tersenyum manis dengan pipi bersemu merah. "Ibuku senang berjalan-jalan di malam hari. Menggandeng tanganku saat masih kecil, lalu bercerita bahwa suatu saat aku akan bertemu pria yang mencintaiku dan membawakan bulan untukku."


...*...


Xavier menelan ludah.


Lalu Ibu berkata, "Wanita berbahaya, Putraku."


Xavier tersentak waktu itu. Namun karena Ibu sakit, ia diam saja mendengarnya.


"Wanita pandai berbohong. Mereka egois, menghalalkan apa pun demi yang mereka inginkan, dan manipulator yang lebih menakutkan dari pria."


Tangan lemah Ibu menjangkau wajahnya.


"Berhati-hati dengan wanita. Istrimu, di masa depan, jangan cintai dia melebihi batas. Orang yang bisa kamu cintai tanpa batas hanya adikmu dan Mama."


Bagi Xavier itu adalah wasiat. Dan ia tahu, itu memang benar.

__ADS_1


Meski wanita cenderung bodoh dalam bersiasat, mereka punya senjata yang tidak dimiliki oleh pria. Karena itu tidak seharusnya ....


"Saat Ibuku marah, itu sangat menakutkan."


Gadis yang mengaku bernama Lia itu masih menampilkan senyum lembutnya saat menyesap teh apel kesenangan Mama. Bercerita tentang 'ibunya'.


"Tapi Ayah pasti tidak melawan. Hanya diam, diam-diam mengajakku tersenyum dan berkata Ibu sangat cerewet."


Apa itu nyata?


Dia benar-benar terlihat sedang mengenang kisahnya yang romantis. Namun Arman Bumantara sudah mati. Siapa yang dia kenang?


"Ibumu seperti apa, Xavier?"


Napas Xavier agak memberat. Ia menelan ludah samar, mulai merasa bahwa ialah yang terjebak alih-alih gadis ini.


Sebisa mungkin ia kembali tersenyum. "Ibuku orang yang tegas."


"...."


"Aku sering dimarahi karena bermain terlalu lama. Ibu berkata aku harus belajar dan menjadi seseorang yang melampaui ayahku juga kakekku."


Saat Lia tertawa kecil dengan polosnya, Xavier tak sadar ia sudah mengulurkan tangan.


Ditarik perlahan kacamata dari pangkal hidung gadis itu, tahu bahwa ini bukan palsu. Lensanya tebal. Mata dia benar-benar rusak.


Apa Xavier salah menduga?


"Apa sulit melihat tanpa ini?"


Lia menggeleng. "Aku hanya tidak bisa melihat jelas. Wajahmu jadi samar."

__ADS_1


Sulit untuk Xavier tidak tersenyum.


...*...


__ADS_2