
Tulip?
Dia suka bunga?
Xavier Palmer mendekati pohon di mana Lia memejamkan mata seolah sedang terlelap. Ceroboh sekali tidur di tempat terbuka seperti ini.
Namun Xavier berjongkok, memandangi parasnya yang memancarkan hal misterius nan halus.
Apa semua gadis desa memang punya wajah seperti itu?
Entahlah, karena Xavier pun sulit menjelaskannya. Mereka seperti ... seperti menyatu dengan alam dan indah dengan sendirinya.
Mama pun begitu. Meski hidup sebagai istri seorang Benedict Palmer, Mama jarang memoles wajahnya dengan make up.
Alisnya tidak pernah dicukur ataupun dicabut. Bulu-bulu halus serupa kumis tipis tumbuh di atas bibirnya, namun Mama terlihat cantik dan anggun seperti alam.
Bibir Lia hari ini dipoles pewarna alami. Seperti lipbalm berwarna yang selalu Bella pakai setelah mandi.
Angin berembus kencang ketika Xavier mengulurkan tangan pada wajah gadis itu. Dia tak bergerak, tapi matanya berkedip samar pertanda dia bangun.
"Aku memiliki sesuatu untukmu, Lia."
Kelopak matanya terbuka. "Kamu tidak datang berlatih hari ini?"
Xavier hanya tersenyum. "Pejamkan matamu."
Dengan patuh dia memejamkan matanya kembali, dan Xavier merogoh sakunya untuk mengeluarkan hadiah yang telah ia persiapkan pada Lia.
Ia meraih tangan gadis itu hati-hati. Menyelipkan sebuah cincin berlian kecil yang nampak serasi dengan kulit tangan Lia.
"Apa ini?" Dia menatapnya polos.
"Itu milik Ibuku." Xavier menjatuhkan diri ke samping Lia. "Ibuku memiliki sedikit perhiasan di koleksinya. Dan cincin itu adalah cincin kesayangannya."
"Mungil. Ibumu pasti tipe wanita yang sederhana."
"Sangat. Satu-satunya hal mewah yang Ibu senangi adalah adikku."
Lia tersenyum manis. "Kamu memberikannya padaku?"
"Ya."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Apa aku harus mengatakannya?" Xavier ingin menutup mulut, tapi segera berhenti dan berdehem. "Aku—"
"Menyukaiku?"
"Harusnya kamu membiarkan aku mengatakannya sendiri."
Lia terkekeh. "Ekspresimu mudah ditebak."
Yah, mungkin saja. Xavier hanya ikut tertawa. "Kamu memiliki seseorang yang kamu sukai?"
"Tidak."
"Jahat sekali. Itu seperti kamu berkata aku pun tidak."
"Memang."
Xavier menatapnya lekat meski ia terus tersenyum. "Boleh aku mengatakannya?"
"Apa?"
...*...
Ilina memiringkan wajah. Tentu saja ia sudah tahu karena memang dari awal itulah yang ia mau. Namun mendengarnya dua kali dari mulut orang mati yang berpura-pura hidup, Ilina agak terkejut.
Seolah dia berkata 'aku bersungguh-sungguh dan bukan karena keinginanmu'.
Ilina menunduk. Menghidu tulip dalam pelukannya sebelum ia kembali menatap Xavier.
Jatuh cinta, yah?
"Bagaimana kamu tahu seseorang mencintaimu, Xavier?"
Ternyata dia terkekeh. Memegang tangan Ilina dan mengusap jemari di mana cincinnya tersemat.
"Menyukai seseorang berarti ingin memilikinya, Lia. Sementara disukai oleh seseorang bukanlah hal yang harus seseorang ketahui. Aku tidak peduli bagaimana kamu memandangku. Aku menyukaimu. Hanya itu."
"Pernyataan cinta yang dingin."
"Aku hidup untuk itu."
__ADS_1
"Benar—"
"Lia." Xavier mendekatkan tubuhnya. "Aku menyukaimu."
Kenapa dia mengulangnya lagi?
Maksudnya, dia ingin Ilina juga berkata menyukainya?
Sebelum Ilina bisa memahaminya, Xavier mengikis jarak di antara mereka. Ilina menatap bibir pinknya yang samar-samar terlihat mengilap.
"Xavier, aku—"
"Tidak apa." Xavier menarik tangan Ilina ke dadanya. "Aku memilihmu."
Sensasi bibir itu menyentuh bibirnya.
Ilina menatap kelopak mata Xavier yang terpejam sebelum ia memutuskan ikut terpejam. Hal yang awalnya hanya sentuhan bibir berubah jadi kecupan dan semakin mengarah pada ******* bibir.
Dia mencium Ilina sepenuh hati. Seperti Ilina menciumnya sungguh-sungguh.
Rasanya itu berlangsung sangat lama. Sangat amat lama dan dalam ketika tiba-tiba Ilina merasakan gejolak aneh di jantungnya.
Jangan bilang!
"Lia." Xavier melepaskan ciumannya.
Tetap tersenyum meski darah segar menetes di hidung pemuda itu.
"Saat Ibuku menikmati teh apelnya di taman ini, dia berkata: wanita yang terlihat indah adalah wanita yang mempunyai racun. Saat mereka menggunakannya, mereka memenangkan banyak hal."
Ilina terbatuk. Mengeluarkan darah segar yang sama seperti Xavier.
"Beberapa hari setelah itu, Ibuku jatuh sakit dan perlahan-lahan kehilangan tenaganya. Aku tidak tahu siapa yang melakukannya. Aku tidak memahami kenapa itu terjadi. Tapi saat bertemu denganmu, aku tahu. Kalian wanita memang senang bermain dengan racun."
Xavier menekan lembut keningnya pada kening Ilina.
"Aku menyukaimu, Lia. Atau siapa pun namamu yang sebenarnya. Aku menyukaimu dan rasa manis racun di bibirmu."
Darah segar mengalir dari sudut bibir Ilina ketika Xavier beranjak, meninggalkannya begitu saja.
...*...
__ADS_1