
"Nona."
Ilina sudah menunggu kedatangan Harja esok harinya. Ketika Noah belum keluar kamar—dia punya kebiasaan keluar pukul delapan kecuali ada perlu.
Karena ada hal penting yang mau ia minta, Ilina menyuruh Harja segera bicara dengan suara samar.
"Putra Pertama Benedict Palmer mencari tahu seluruh daftar orang yang memiliki motif kuat menyerang mereka. Mereka memintanya secara langsung pada organisasi Oto."
Oto? Itu salah satu organisasi rahasia yang sejak awal Ilina waspadai. Mereka tak sekuat dan sebesar organisasi dunia yang diandalkan oleh pemerintah. Namun mereka tangguh dan terkenal brutal.
Mereka menerima permintaan apa saja, apa pun itu, termasuk menghapus nyawa petinggi negara.
Dikatakan bahwa anggotanya tidak memiliki identitas resmi.
Ilina menaruh perhatian pada mereka sejak ada permintaan untuk mencari keberadaan Ilina. Tapi mereka tidak berhasil menemukannya berkat bantuan dari Mahesa.
"Dia cerdas juga." Ilina jadi tertarik pada putranya Benedict.
Oto dikenal sebagai organisasi yang tidak berpihak pada satu kelompok. Meski itu mencurigakan karena kenetralan adalah keberpihakan tak berwarna, namun yang jadi poin adalah dipermukaan mereka dikenal menyerang siapa saja.
Ketiadaan rasa takut dalam organisasi itu membuat mereka terkesan tidak mempertimbangkan ketika memberi informasi. Ilina tidak tahu informasi apa saja yang sudah dikantongi Oto mengenai dirinya.
Bertanya pada mereka alih-alih pada organisasi lain berarti memang mereka berniat mengulik satu per satu siapa kemungkinan lawan mereka.
"Kalau begitu," Ilina menatap buah ratu di tangannya yang tak sengaja ia pegang sejak tadi, "bunuh rekan bisnis Palmer yang punya hubungan dengan Bumantara. Tidak peduli siapa, tapi kematiannya harus berdampak pada kenaikan saham Bumantara."
"Itu terlalu mencolok, Nona."
"Tidak apa." Ilina meletakkan buah ratu di hadapan raja meski melangkahi sejumlah pion. "Kalau terjadi kecurigaan, bunuh lagi satu anggota keluarga Bumantara dan pancing Palmer merayakan kematian itu. Biarkan mereka bertengkar."
"Baik, Nona."
Harja segera pergi setelah mendengar semua perintah tanpa meninggalkan suara.
Ilina hanya tersenyum, cukup menikmati ketika ia melihat satu per satu dari mereka mulai kebingungan.
Jangan puas dulu.
Meskipun Ilina tidak terlalu memusingkan siapa yang salah di antara mereka, tapi ini cukup menyenangkan membalas dendam.
Ketika Ilina harus hidup di tempat tanpa listrik bertahun-tahun, hanya melihat wajah Ayah dan Ibu dari mimpi yang tidak nyata, lalu bertahan seorang diri dibawah asuhan orang asing, bukankah selama ini mereka sudah terlalu bahagia?
Tapi, organisasi Oto ini. Haruskah Ilina mencari tahu tentang mereka?
...*...
Sementara menunggu hasil dari perintahnya, Ilina tetap harus terjebak di sini.
Perilaku agresif asisten Noah menjadi-jadi. Pagi hari ketika melihat Ilina sibuk membaca buku, dia langsung marah.
"Aku asisten Noah untuk urusan pekerjaan. Pekerjaan, bukan pembantu! Ini tugasmu membawa pakaian ke laundry dan kamu malah sibuk membaca?!"
Kenapa Ilina harus mengurusi pakaian orang lain?
Pakaiannya ia cuci sendiri dan ia keringkan sendiri. Noah juga sepertinya tidak pernah menyuruh dia melakukan itu, lalu kenapa dia marah seakan-akan itu perintah Noah?
__ADS_1
Sialnya, Noah sejak tadi mengurung diri di kamar.
Entah apa yang dia lakukan karena kamarnya terkunci, makanya Marissa sibuk mengurusi Ilina.
"Kemari!" Marissa tiba-tiba menarik kasar tangannya, menyeret Ilina yang tergopoh-gopoh memakai kacamata.
Catatan penting. Jangan pernah sekali-kali lari dengan kacamata minus apalagi yang longgar, karena dunia akan serasa gempa.
Kepala Ilina sakit akibat guncang penglihatan. Tapi tubuhnya didorong hingga ke depan pintu.
Seolah tak cukup, dia melempar sejumlah uang dan tas Ilina.
"Setidaknya pergilah membeli bahan makanan yang habis karenamu!"
Tangan Ilina terkepal.
Gadis itu, haruskah ia bunuh saja? Entah apa lagi masalah dia tapi dia terus mengganggu dan itu sangat menyebalkan.
Tidak.
Kalau ia membunuh asisten Noah, justru Noah yang akan curiga. Orang itu tidak perlu tahu siapa Ilina. Permainan mereka hanya seputar keluarga Palmer dan Bumantara.
Ilina menghela napas jengkel. Bangkit dari posisi menyedihkan itu.
Posisi jatuhnya agak salah. Pergelangan Ilina terkilir ringan. Ditinggalkan tempat itu beserta uang yang tak ia lirik, berjalan masuk ke lift.
Sudah beberapa kali ia melihat Noah memakainya, jadi Ilina tahu cara menggunakan benda ini.
Pun karena orangnya Ayana mengikuti Ilina.
Entah ke mana ia harus pergi, tapi lebih baik menjauh dulu daripada pusing oleh ocehan anak gadis seperti Marissa.
Seorang wanita bercadar berjalan santai dengan temannya melewati Ilina.
"Ada pria asing mengikuti Nona," bisik salah satu dari mereka saat berpapasan.
"Biarkan saja."
Hari ini Ilina hanyalah gadis biasa yang sedang bersedih setelah diusir oleh wanita menjengkelkan.
...*...
"Di mana Lia?"
Noah mendekati asistennya yang sibuk membongkar sesuatu di sekitar tempat tidur Lia di dekat sofa.
"Aku menyuruhnya berbelanja."
"Marissa."
"Dia hanya bermalas-malasan, demi Tuhan, Noah! Aku paham kalau kamu membiayai adik sahabatmu yang aku tidak tahu siapa itu tapi berhenti pura-pura baik pada orang lain! Itu menjijikan."
Maksud Noah bukan ....
Hah, Marissa mulai menyebalkan.
__ADS_1
Dia memang mengkhawatirkan Noah dan semua itu demi keselamatannya, tapi dia terlalu posesif hingga itu jadi mengganggu.
Noah hanya diam melihat dia membongkar sana-sini, berusaha menemukan satu saja benda mencurigakan.
Percuma.
Noah juga sudah mencarinya diam-diam saat Lia mandi, namun tidak ada. Buku catatan yang dia miliki, ternyata setelah ditulis, dia merobeknya dan entah diletakkan di mana kertas-kertas itu.
Bajunya dilipat dengan cara aneh hingga sulit ditiru dan Noah tidak bisa membongkarnya. Tidak akan ada yang dia temukan, tidak peduli bagaimana dia mencari.
Satu-satunya yang bisa jadi bukti mungkin racun. Tapi Lia meletakkan racun itu di dalam baju yang dia pakai.
"Lakukan sesukamu." Noah berbalik, masuk ke kamar lagi untuk beristirahat.
Tapi ia mulai cemas ketika jam menunjuk ke angka empat sore, Lia belum kunjung pulang.
Dia tidak tersesat, kan?
Tidak. Bahkan kalau dia bukan Ilina, dia diawasi oleh orangnya Ilina. Tapi kenapa dia jadi sangat lama?
"Noah?"
"Aku akan mencarinya. Pulanglah, Marissa."
"Tapi—"
Noah menarik jaketnya dan bergegas keluar.
Tidak seharusnya mereka keluar bersama seperti ini. Belum ada yang tahu bahwa Noah tinggal bersama Lia, namun Noah juga tidak bisa menduga-duga dia baik-baik saja.
Mau tak mau ia harus mencari.
Diam-diam menelepon seseorang yang bisa memberinya informasi.
Sambil berusaha bertindak seakan ia tak peduli diikuti, Noah melangkah ke arah yang diberitahukan, menemukan gadis itu duduk memandangi sekumpulan bocah bermain.
Tidak pernah Noah melihat dia memasang ekspresi seperti itu. Wajah yang seakan-akan menggambarkan dia penasaran dan tertarik.
Diam-diam didekati Lia, bermaksud tetap sembunyi namun ternyata dia masih sadar. Instingnya luar biasa.
"Apa kekasihmu sudah pulang?"
"Entahlah." Noah ikut melihat ke arah Ilina melihat. "Kamu menyukai anak-anak?"
"Aku benci."
"Benarkah? Lalu kenapa memandangi mereka?"
"Karena sulit menebak mereka. Aku benci segala sesuatu yang tidak bisa kutebak."
Aku membencimu karena sulit menembakmu, rasanya Noah mendengar kata itu tersirat.
Perasaannya saja, kah?
...*...
__ADS_1