Menolak Cinta Bos Mafia

Menolak Cinta Bos Mafia
51. Keheningan Malam


__ADS_3

Bagi Noah, hidup adalah tentang diam dan bergerak dalam keheningan.


Saat ia pertama kali melihat Ilina yang juga melakukan hal sama untuk hidupnya sendiri, Noah tahu bahwa gadis itu juga merasakan keheningan pekat yang sama.


Sampai malam hari tiba, dia tidak menangis.


Hanya terlihat kosong dan baik-baik saja.


Tengah malam Noah sadar Ilina bangun dari tempat tidur, pergi ke bawah untuk duduk seorang diri.


"Aku menyuruhmu pergi."


Dia seolah bicara pada Harja dan Ayana.


"Aku menyuruh kalian pergi. Aku bilang aku butuh kalian. Noah memanfaatkanku dari awal. Aku tinggal berlindung di belakangnya, membiarkan dia diserang lalu meninggalkan dia. Kalian tahu maksudku. Kenapa tidak mendengar?"


Noah hanya mendengar Ilina dalam keheningan.


Entah Ilina tahu dirinya sekarang sudah duduk bersandar pada pembatas dekat ranjang atau tidak.


"Harja."


"...."


"Ayana."


"...."


"Ini menyebalkan. Aku bicara jadi dengarkan. Begitu seharusnya. Begitu yang selama ini terjadi. Kenapa sekarang tidak?!"

__ADS_1


Jadi begitu.


Ini pertama kali bagi Ilina merasa kehilangan.


Dia baru lahir ketika orang tuanya pergi. Kematian Arman tidak pernah membuat Ilina merasa kehilangan, sebab dari awal mereka memang tidak ada dan tidak pernah ada.


Dia tidak tahu rasanya kehilangan.


Dia asing dan tidak memahaminya.


Dia hanya terbiasa pada rasa sepi ketika ada Harja dan Ayana di sekitarnya.


"Aku mengerti. Kalian marah karena aku berpura-pura bodoh mengikuti permintaan Noah, benar? Ayo kembali ke desa saja. Ledakkan saja kediaman Palmer dan Bumantara lalu kita kembali ke desa. Itu lebih damai. Aku tahu. Harja, Ayana."


Apa yang harus Noah lakukan? Sesak rasanya mendengar Ilina meracau pada khayalannya sendiri.


Orang mati tidak akan kembali.


...*...


"Orang tanpa hati sepertimu tidak mungkin pernah menghargai seseorang."


Ilina menatap datar bayangan Susan yang tiba-tiba datang di kepalanya.


"Kamu memperlakukan orang lain seolah mereka tidak terlihat, lalu sisanya seperti alat. Orang sombong. Tidak mau mengakui kesepianmu meskipun orang lain memperlakukan kamu seperti manusia."


"Aku bertaruh dia sebenarnya hanya pura-pura." Seorang bayangan lagi muncul.


Sosok asisten cerewet yang tersenyum sinis pada Ilina.

__ADS_1


"Berpura-pura jadi manusia yang bersedih dan kehilangan. Bukankah asistenmu itu lelah padamu? Hidup saja sebagai batu. Selamanya jadi batu."


Ilina hanya melihat mereka penuh ketenangan. "Aku harus menjaga ketenanganku agar tetap menang."


"Ya, menanglah dalam kesendirian. Itu kemenangan sejati bagimu."


Susan berdiri di belakangnya. Menarik tangan Ilina untuk meletakkan bidak catur di atas papan dengan suara sangat keras.


"Jangan menghargai. Jangan berbelas kasih. Injak siapa pun, tidak peduli siapa mereka," bisik dia sarkastik.


"Itu adalah—"


"Ilina."


Seluruh bayangan itu lenyap, menyisakan Ilina terkesiap dalam hening malam.


Entah sejak kapan Noah turun, datang menghampirinya ketika Ilina hanya ingin berdiam diri sendiri sekarang.


"Apa aku mengganggumu?" Noah mengulurkan tangan ke wajahnya. "Ini malam hari, Ilina. Duduklah di tempat tidur. Akan kubuatkan sesuatu yang hangat agar kamu nyaman."


Ilina menatap ke belakang Noah. Kembali nampak sosok Susan dan Marissa yang sedang tertawa mengejek kepadanya.


Sorot Ilina mendadak sayu. Untuk sejenak saja, ia merasa memang lemah dan menyedihkan.


Aku tidak bisa bersikap mengikuti emosi.


Ilina memejam.


Jangan merasakan apa pun. Sedikitpun.

__ADS_1


Karena jika ia merasakan sesuatu lagi, maka seluruh pertahanannya akan hancur.


...*...


__ADS_2