
Ilina berpura-pura seakan Noah tidak sedang melihatnya. Masih terasa menjijikan, tapi Ilina cukup tahu cara bersabar ketika ia sudah memutuskan bersabar.
Dengan manis ia menyendok marshmallow yang meleleh di gelas cokelatnya, menyantap itu seperti sangat bersemangat.
Yah, ia memang cukup bersemangat.
Mahesa selalu memberinya marshmallow sebagai hadiah.
Rasa panas bersamaan dengan pahit manis terasa. Ilina juga tahu cara membuat wajahnya terlihat menggemaskan—setidaknya, itu kata Mahesa.
"Hati-hati." Dia mendekat sungguhan. Memakan umpan.
Lagi-lagi menyentuh tangan Ilina dengan alasan bantu memegang gelas berisi cokelat panas itu.
"Ini pertama kali kamu makan marshmallow?"
Ilina mengangguk. "Enak."
Dia tertawa kecil. "Membakarnya juga enak. Atau dijadikan toping es krim pun bisa."
"Benarkah?"
"Ya. Akan kutunjukkan nanti. Kapan-kapan."
...*...
Jadi dia bukan menganggap Noah bodoh, tapi menganggap apa pun yang Noah pikirkan, dia bisa menguasainya, kah?
Lihat dia. Tiba-tiba jadi polos sungguhan. Makan marshmallow dengan wajah menggemaskan. Sekarang dia yang merayu.
Dan Noah mendekat sesuai kemauannya. Menghidu aroma lembut yang tercium dari tubuh Lia.
Itu mengingatkan Noah pada aroma keringat Lia di seprai dan sarung bantalnya. Wanginya menggoda.
"Tubuhmu masih panas." Noah bertahan untuk tetap berdiri di jarak kurang dari satu penggaris.
Tangannya terasa terbakar memegang bagian bawah gelas, dan dia pasti tahu itu, tapi baik dia atau Noah tidak berniat memperlihatkannya.
"Makan dan beristirahatlah yang cukup. Aku tidak bisa melihatmu sakit terlalu lama."
Lia tidak menjawab. Matanya kini fokus melihat sisa marshmallow yang ada di gelas.
Dia terlihat tulus menyukainya. Ternyata dia masih punya sisi gadis di dalam sana.
Apa yang harus Noah lakukan padanya?
__ADS_1
...*...
"Marissa, untuk sementara waktu aku harus menolak tawaran muncul di media."
Tentu saja Marissa terkejut. "Noah, kamu mengerti kan bahwa ini pekerjaan dan bukan sesuatu yang dilakukan kapan kamu senang kapan kamu bosan?"
"Aku mengerti. Tapi aku rasa aku butuh waktu menenangkan diri."
"Ada apa? Apa sesuatu terjadi lagi?"
Noah melirik ke arah Lia duduk, terlihat masih lemas meski dia kembali melakukan rutinitasnya mencatat di buku.
Tentu saja Marissa melihat lirikan mata itu dan berusaha keras tidak mengerutkan kening.
"Noah?"
"Aku ...." Noah bersikap seolah tak terjadi apa-apa. "Akan kuterima tawaran di acara live music saja. Media entah televisi atau sosial media, untuk sekarang tidak."
"Setidaknya jelaskan ada apa."
"Akan kujelaskan nanti. Tolong, Marissa."
".... Tidak." Marissa menatap dingin padanya seolah memahami apa niat Noah sebenarnya. "Aku rasa kamu sudah tidak waras, Noah. Kamu ingin mengorbankan kariermu cuma untuk menghabiskan waktu dengan dia?!"
"Marissa, itu bukan—"
"Bukan apa?! Aku menahan diri tidak berkomentar, Noah, karena aku percaya padamu! Tapi tolong! Tolong setidaknya sadarkan dirimu sedikit!"
"...."
"Apa yang gadis itu berikan padamu, kutanya padamu! Apa dia membantumu dulu saat kamu sendirian?! Apa dia menemanimu dulu saat kamu butuh bantuan?!"
"...."
"Tidak ada yang menemanimu! Tidak satupun termasuk dia! Kamu melakukannya sendiri, berjuang sendiri, mendapatkan semuanya sendiri, lalu sekarang itu tidak penting karena gadis antah-berantah itu datang?!"
"Marissa, dengar, aku tidak—"
"Apa dia bahkan melihat kamu sebagai manusia?!"
Marissa menunjuk-nunjuk Lia di sana.
"Lihat betapa mengerikan dia! Aku dan kamu berdebat karenanya, dia bahkan tidak berkedip atau berpikir harus mengatakan sesuatu! Dia tidak menghargaimu dan kamu menyukainya?!"
Saat melihat ada air mata di wajah Marissa, Noah memutuskan diam. Gadis itu pun segera beranjak, keluar begitu saja dari apartemen.
__ADS_1
Pandangan Noah berpindah pada Lia. Bergerak mendekatinya untuk duduk di sofa yang memang dekat dengan posisi dia duduk.
"Kamu mendengarnya? Dia berkata kamu mengerikan."
Lia baru berhenti menulis. "Aku tidak paham untuk apa kamu memelihara bawahan tidak berguna."
Noah terkekeh. Bawahan tidak berguna, yah?
Sebenarnya sih bukan begitu. Cuma dari awal memang ... Noah tidak pernah mengandalkan Marissa.
Dia mempercayai Noah, mengkhawatirkannya dan selalu ada. Namun Noah ....
"Dia menyedihkan." Lia melirik Noah. "Berteriak sampai tenggorokannya sakit sementara kamu bahkan tidak peduli apa yang dia katakan."
Noah hanya tersenyum tipis.
"Kurasa dia sebenarnya tahu kamu tidak akan peduli jika dia mati sekalipun." Lia tersenyum miring dan kembali menulis.
Mungkin dia bermaksud untuk mempertahankan hening itu dan Noah beranjak saja ke dalam kamar. Tapi apa yang Noah lakukan adalah turun, mendekati Lia yang seketika menutup bukunya.
"Badanmu masih panas." Noah menyentuh tangan gadis itu hati-hati. "Berbaringlah lagi, Lia."
Dia diam.
"Aku ... hanya mencemaskanmu."
Noah memegang satu tangan Lia yang lain—atau lebih tepatnya menahan dia dari menusukkan suntikan mini berisi racun itu.
"Apa aku bahkan tidak boleh melakukan itu?"
Dia tersenyum. Menarik kembali tangannya secara sukerala, dan mendekatkan wajah mereka.
Noah jadi dapat melihat jelas warna cokelat karamel di mata Lia yang nampak bersinar jika dilihat dari dekat.
"Aku bukan gadis itu, Tuan." Dia berbisik.
Telapak tangan Lia dengan sengaja mendarat di pahanya, seolah tahu justru itu lebih mencekik Noah.
"Aku bisa membiarkanmu mendekat, lalu membiarkanmu menjauh. Aku juga bisa membiarkanmu mendekat, lalu menghabisimu. Berhati-hati."
Noah tersenyum. "Tentu saja."
Mengerti bahwa sekarang dia tak mau didekati, Noah menjauh. Masuk ke tempat tidurnya untuk menikmati debaran menyenangkan ini.
...*...
__ADS_1