
Xavier Palmer berdiri diam memandangi jejeran jenazah keluarganya yang malam hari dikumpulkan diam-diam.
Tidak seperti saat kematian Paman Lucas yang bunuh diri, atau Callista yang mobilnya terjun ke jurang, ataupun dua paman juga bibinya yang mati overdosis obat, lima jenazah ini jelas-jelas dibunuh mengenaskan.
Beberapa isak tangis terdengar. Disamping geraman dan pertengkaran mengapa mereka begitu lemah dan tidak berdaya di bawahan tekanan teror semacam ini.
Lelah dengan permainan konyol mereka, Xavier berbalik. Meninggalkan semuanya untuk naik ke kamarnya, meski ia tahu seseorang mengikuti.
"Xavi."
Atau lebih tepatnya dua orang. Mereka adik dan juga sepupunya.
"Aku tidak percaya ini perbuatan Paman Noah." Xavier melepaskan jas hitamnya yang sepanjang hari digunakan.
Saat mereka sibuk mengurusi jenazah, Papa mengarahkan sejumlah pembunuh mengejar mereka yang diyakini menjadi target.
Semuanya terbunuh, kecuali Andreas Noah.
Ada kabar yang masuk ke telinga mereka bahwa Noah bekerja sama dengan keluarga Bumantara hingga sekarang kemarahan keluarga tertuju pada Noah dan Bumantara.
"Dan aku tidak percaya ini perbuatan Bumantara."
Setidaknya itu keyakinan Xavier.
Adiknya yang baru memasuki tahun pertama kuliah dan sepupunya yang berada dua tahun di bawah itu duduk di kasur Xavier.
"Aku mendengar Papa berkata bahwa Paman Noah berafiliasi dengan Mahesa Mahardika. Bukankah itu cukup untuk Paman memiliki kekuatan melakukannya?" Bella berspekulasi.
__ADS_1
Tapi sepupu Xavier, Tabios, membantahnya. "Tidak. Paman Noah bukan orang yang seperti itu."
"Apa maksudmu?"
"Ada sesuatu yang Kakek inginkan dari Paman Noah." Xavier menarik kursi. Duduk menyilangkan kaki dan mulai memikirkan hal itu di kepalanya. "Sepertinya Paman Noah menolaknya, karena itu Papa memburu Paman."
"Bukankah justru karena itu Paman mulai membalas?"
"Paman Noah mengabaikannya." Tabios menjatuhkan diri ke kasur Xavier. "Paman tidak pernah peduli pada apa pun tentang kita. Apa pun itu. Bahkan saat Kakek mengirim pembunuh padanya, Paman seperti berkata bahwa itu tidak penting."
Bella mengerutkan kening. "Apa Mahesa Mahardika yang melindunginya?"
"Lebih seperti Paman menyerahkan apa yang Kakek inginkan pada Mahesa Mahardika, lalu Mahesa Mahardika tersenyum polos sambil diam-diam menertawakan betapa lucu Kakek."
Xavier menopang pipinya dan menghela napas.
"Lalu apa maksudmu dengan Bumantara bukan pelakunya?"
"Kenapa Bumantara harus membunuhi keluarga kita satu per satu dan membiarkan diri mereka dicurigai. Mereka dirugikan. Papa menyerang Bumantara, lalu Bumantara menyerang kita."
Dan kita seperti sedang bermain di atas panggung yang disiapkan seseorang, adalah lanjutan perkataan Xavier, namun sengaja ia tahan karena Bella juga tidak akan mengerti.
Benedict Palmer alias ayahnya tidak ingin menerima kenyataan bahwa mereka dimanipulasi, karena itu melukai harga diri.
Jadi meski dia harus menghancurkan Bumantara yang sebenarnya cuma pengalih perhatian, Benedict Palmer akan tetap melakukannya.
Karena harga diri adalah segalanya.
__ADS_1
Andreas Noah. Pria itu menakutkan, di mata Xavier.
Mereka pernah bertemu, secara tidak sengaja di pusat perbelanjaan Singapura.
Mungkin karena Xavier sudah terbiasa melihat orang-orang seperti ayahnya dan juga kakek, ia bisa merasakan tekanan dari sekitar Noah.
Palmer punya ketakutan pada Noah. Karena itulah Kakek menekan Noah agar masuk secara resmi ke keluarga mereka.
Namun Noah dengan angkuh menginjak tawaran itu, berjalan dengan penampilan seadanya seolah berkata, uang receh dari pengemis masih lebih bernilai daripada Palmer dan seluruh isinya.
"Hei, Xavier." Suara Tabios menarik lamunan Xavier ke dunia nyata. "Apa maksudmu meminta informasi anak Arman Bumantara? Kamu percaya dia ada?"
"Jika dia ada, aku percaya dia diasuh oleh Mahesa Mahardika."
Tabios terduduk. "Benarkah? Kenapa?"
Karena Mahesa Mahardika selalu mencari sesuatu yang bisa membuatnya berkuasa.
Anak Arman Bumantara adalah keturunan Bumantara yang berhak atas kekayaan Bumantara. Hanya butuh satu orang untuk dia mengambil alih Bumantara jika dia mau.
Makanya jika dia hidup, dia pasti di tangan Mahesa. Pertanyaannya, apa anak Arman Bumantara benar-benar ada dan akan menyerang mereka?
"Lalu siapa gadis yang katanya berada di sekitar Paman Noah itu?"
Tatapan Xavier bergeser ke meja. Di mana sebuah gambar dari jarak jauh memperlihatkan Noah keluar dari klub malam yang beberapa waktu lalu tiba-tiba meledak, membawa seorang gadis muda di gendongannya.
Xavier juga bertanya-tanya. Siapa gadis yang membuat Noah sudi menggendongnya?
__ADS_1
*