
Ilina tidak suka ia sakit di tempat ini. Bukan cuma harus beristirahat, ia pun harus menjaga kewaspadaan pada pria itu.
Dia mulai berani setelah berpura-pura tidak berdaya. Ilina tak bisa mengerti apa yang dia inginkan, tapi orang itu akan terus membuatnya tak nyaman sebelum dia mengungkapkan niat aslinya.
Rasanya seluruh tubuh terutama kepala Ilina sakit sampai akhirnya Harja datang. Dia datang terang-terangan, meminta izin pada Noah bahwa ada pesan dari Nona Ilina yang harus disampaikan pada Lia, serta membawa sejumlah pakaian lagi.
Bahkan baju baru kemarin belum ia gunakan semuanya, padahal hanya ada tiga lembar.
Ilina bukan orang kota. Pernah ia hanya memakai dua buah baju yang diganti setiap sekali sehari. Citranya di desa pun terkenal miskin, jadi Ilina lebih tahu hidup miskin daripada hidup kaya.
"Nona." Harja merendahkan suaranya meski Noah masuk ke kamar untuk memberi privasi. "Mungkin sebaiknya Nona memegang ponsel agar saya tahu kondisi Nona."
"Aku tidak ingin punya celah." Ilina tidak menolak ketika Harja mengecek suhu di keningnya. "Daripada itu, katakan sesuatu. Apa yang membawamu kemari?"
"Kami sudah menyiapkan identitas palsu atas nama Lia sesuai perintah. Kami juga sudah menyiapkan lokasi di luar pulau yang menjadi tempat asal palsu Nona. Beberapa waktu kemarin, mereka mengecek tempat itu dan pulang setelah memastikan bahwa Nona bersih."
"Noah?"
Harja terdiam sejenak. "Ada kesulitan dalam mendapat informasinya, Nona. Saya merasa untuk identitas orang itu, Tuan Muda sengaja menghalanginya."
Senior Mahesa berpihak pada Noah.
Kalau begitu, dia bisa marah jika Ilina membunuhnya. Tapi apa yang Senior Mahesa sedang mainkan?
Orang itu memang hobi menjaili orang, jadi Ilina bukannya terlalu kaget. Hanya, dia biasanya menyukai orang-orang yang menguntungkan dan memberi kekuatan tambahan pada kelompoknya.
Apa yang bisa diberikan oleh anak haram Palmer itu?
Tidak. Kalau dipikir lagi, Noah Palmer menyerahkan keluarga Palmer ke tangan Ilina dengan alasan balas dendam.
Bohong. Dia pendusta yang sangat palsu.
Manusia memiliki keserakahan. Tidak peduli semuak dan semenderita apa dia, pasti ada keserakahan.
Dia menyerahkannya pada Ilina karena benda itu tidak berharga. Tapi terlepas dari bagaimana benda itu juga tidak berharga bagi Ilina, harta kekayaan keluarga konglomerat dapat sebanding dengan apa?
__ADS_1
"Nona."
Napas Ilina menderu kasar. "Aku baik-baik saja. Tetap pertahankan tempo permainan. Persiapkan saja semuanya baik-baik. Aku bisa mengatasi masalahku di sini."
"Saya akan mengirim obat untuk Nona."
"Terima kasih." Ilina mengerang kasar. "Juga ...."
"Ya, Nona?"
"Aku ingin marshmallow."
Harja tersenyum tipis. "Saya akan meminta Tuan Muda membelikan khusus untuk Nona."
Setidaknya itu membuat Ilina tersenyum. "Beritahu Senior aku ingin memakan permennya. Jadi ... hah."
"Saya mengerti, Nona. Tuan Muda memahami kemauan Nona."
Harja bergegas undur diri. Meninggalkan Ilina yang masih sibuk mengatur napas dan pikirannya mengenai Noah.
Tapi selama Mahesa berdiri di belakangnya, berarti ada sesuatu tentang dia yang luar biasa.
Bagaimana Ilina menangani dia?
...*...
"Apa yang suruhan Nonamu katakan?"
Ilina sedang melarutkan cokelat panas setelah menerima paket obat dan marshmallow-nya ketika Noah keluar.
Dia memang berdiam diri di kamar sangat lama. Jarang Noah masuk kamar, lalu keluar dalam beberapa menit kecuali memang masuk hanya untuk ganti baju.
Lama-lama, Ilina jadi curiga bahwa ada sesuatu di dalam sana yang dia lakukan. Tapi sulit untuk memastikan karena tidak ada apa pun di kamar Noah.
Bukan itu membuktikan tidak ada apa-apa, namun itu menandakan dia melakukan pekerjaan tanpa harus memiliki perangkat mencolok entah komputer raksasa atau sejumlah alat komunikasi canggih.
__ADS_1
"Nona memintaku mengurangi interaksi di depan publik." Ilina tentu hanya mengarang. "Nona bilang dia tidak peduli dengan pekerjaanmu, tapi jangan libatkan aku pada sesuatu yang berisiko membocorkan misiku."
Noah mendekat. Kali ini Ilina tak menahannya, membiarkan saja dia mengecek isi kotak yang baru dibuka.
"Marshmallow dan permen. Ini pemberian Nonamu juga?"
"Bukan."
"Permintaan pribadimu?"
"Hm."
Dia memandangi Ilina dalam diam. Tentu saja aneh baginya. Ilina yang semula tidak suka ditanyai dan tidak tertarik menjawab, berbaik hati menjelaskan hal tidak penting.
Sekarang ... apa yang akan dia lakukan?
"Apa yang kamu buat?" Ternyata dia masih bergerak lambat.
"Cokelat." Padahal sudah tahu. "Kamu mau?"
Matanya menunjukkan kalau dia waspada.
"Tidak." Dia tersenyum dengan kesan 'aku masih ingin hidup'.
Padahal Ilina akan membuatkannya kalau dia berkata iya.
Strategi berubah. Daripada membunuh dia, lebih baik menjinakkannya.
Sesuai kata Mahesa, sebelum dibuang, pastikan dulu dia berguna atau tidak berguna. Jika dia berguna maka dia hidup, jika tidak berguna maka seharusnya dia menghilang.
Itu adalah hukum.
"Demammu sudah membaik?"
"Kurasa."
__ADS_1
...*...