Menolak Cinta Bos Mafia

Menolak Cinta Bos Mafia
11. Rayuan Tersirat


__ADS_3

Noah tidak tahu, tapi perkataan Marissa membuatnya jadi memerhatikan Lia dari sudut lain.


Sekarang ini mereka hanya sama-sama diam di depan televisi. Dia duduk di dekat kasur lipatnya, tampak fokus menulis sesuatu di atas buku catatan.


Apa yang selalu dia tulis? Itu sepertinya bukan laporan, nampak seperti buku diary.


"Nona membunuh seseorang lagi dari keluarga Palmer."


Dia tiba-tiba bicara. Membuat Noah segera berpura-pura tidak memperhatikannya. "Benarkah?"


"Dengan ini kecurigaan Palmer akan semakin besar bahwa mereka ditargetkan. Tidak akan aneh kalau seseorang dikirim untuk memastikan kebenarannya. Asistenmu benar. Untuk sekarang berbahaya keluar."


"Terlalu bersembunyi hanya akan membuat kecurigaan diletakkan padaku."


"Kamu dianggap sebagai orang yang ketakutan dan kebetulan selamat setelah lari menjauh. Besar kecurigaan mereka tidak akan membuat mereka tahu kamu yang membunuh atau terlibat pembunuhan."


Itu benar.


Justru jika Noah bergerak terlalu biasa dan berani, kecurigaan akan semakin besar. Tingkahnya akan dianggap 'tidak kenal takut padahal juga Palmer' yang jelas akan mengerucutkan kecurigaan.


Noah tidak punya kekuatan di mata mereka, namun punya motif sebagai anak haram yang pernah ingin dibunuh lalu balas dendam.


"Aku akan mengikutimu."


Noah harus memastikannya.


Identitas gadis ini.


Sebab seperti yang diyakini Marissa, ia tak biasa tertarik pada seseorang begitu saja.


...*...


Apa maksud tatapannya itu?


Ilina merasa instingnya terusik.


Malam harinya Noah masuk ke kamar untuk tidur, Ilina pun menarik selimut untuk tidur. Kegelisahan membuat Ilina tak menutup matanya terlalu cepat.


Dan sesuai dugaan, tiga jam yang lama ia menunggu, Noah tiba-tiba keluar kamar, berdiri memandanginya entah untuk tujuan apa.


Ilina hanya mau memakai pakaian barunya saat keluar, karena pakaian yang ia bawa memiliki beberapa bagian tersembunyi.


Sekali lagi ia menyiapkan racun, tapi sengaja memilih yang tidak mematikan.


Dia tidak boleh mati setelah Ilina pergi sejauh ini untuknya.


Namun diluar dugaan, Noah kembali masuk ke kamarnya begitu saja.


Sulit dimengerti sebenarnya apa maksud dia, karena Ilina juga bukannya bisa membaca pikiran.


Apa, sih?


Ilina tahu dia curiga ia berbohong soal identitasnya, namun kenapa dia harus melakukan tindakan barusan? Semakin dilihat, semakin dia menyebalkan.

__ADS_1


Kenapa Senior Mahesa mengirim orang itu ketika tahu Ilina tidak suka orang seperti dia?


Tapi bicara soal Senior Mahesa, dia tidak menemui Ilina. Tentu saja itu akan memicu kecurigaan jika Ilina yang menjadi Lia tiba-tiba dapat bertemu dengan konglomerat besar.


Ilina hanya bertanya-tanya apa yang Mahesa sekarang sedang pikirkan. Apa yang istimewa dari Noah?


Orang itu tidak pernah peduli kecuali pada mereka yang memiliki kemampuan. Noah kemungkinan bukan hanya mencari Ilina untuk berlindung karena takut dibunuh. Tapi kalau benar, lalu apa yang dia cari dari Ilina?


...*...


Saat Ilina masih sibuk berpikir apa sebenarnya maksud Noah malam itu, dia tiba-tiba memanggilnya untuk sebuah hal tidak terduga.


"Aku tahu kamu pandai memasak, tapi mekanisme peralatan di kota dan desa berbeda. Agar Marissa berhenti marah-marah, tidak ada salahnya belajar memasak lagi, kan?"


Itu ... terdengar masuk akal.


Ilina diam saja. Menatap pisau tajam yang disiapkan di atas meja, dekat dengan tangan Noah.


Kenapa dia keluar dari kamar kemarin hanya untuk menatap Ilina? Rasanya sebelum hal itu terjawab, sulit untuk Ilina bisa fokus sepenuhnya dan berhenti berpikir dia berbahaya.


Atau bahkan jika terjawab pun, dia masih membuatnya merasa dia bahaya.


"Pakai ini." Pria itu menyerahkan kain pada Ilina.


"Apa ini?" Bentuknya seperti baju, tapi hanya menutupi bagian depan.


"Apron. Kamu tidak tahu apron?"


Ilina tidak pernah lihat. "Orang desa memasak tanpa ini."


"Tunggu." Apa dia mau menikam Ilina? "Pakai saja punyamu agar aku lihat."


"Hanya ada satu."


Kenapa tidak ada cadangan?


"Lia." Noah menatapnya dengan mata yang aneh. "Aku tahu hubunganku denganmu dimulai oleh kekerasan. Tapi bukankah kita harus saling percaya? Aku tidak akan membunuhmu, dan tolong jangan membunuhku."


Ilina memiringkan wajah, bingung.


Kenapa?


Kenapa ia harus percaya hanya karena mereka bekerja sama?


Kepercayaan adalah kedustaan. Kerja sama dilandasi oleh kekangan dan dominasi, bukan kepercayaan.


Tapi Ilina tidak bisa menunjukkan sikap terlalu agresif. Ia bertindak sebagai Lia, pelayan yang protektif dan perseptif. Dirinya bertindak 'untuk' Ilina Bumantara bukan 'sebagai' Ilina Bumantara.


Jadi mau tak mau Lia harus bersikap seolah-olah ia berbuat salah karena terlalu curiga.


Tak apa. Kalau dia benar-benar menurunkan kewaspadaan karena itu, maka lebih mudah bagi Ilina menganalisis.


"Aku hanya akan mengajarimu agar kamu nyaman bergerak. Buat saja yang ingin kamu buat."

__ADS_1


Dia menepi ke sudut yang agak mencurigakan. Kenapa harus di sisi di mana dia bisa menikam perut Ilina dari belakang?


Tapi lagi-lagi ia berusaha biasa. Mengambil pisau di atas meja untuk mulai memotong-motong sayuran. Dia menyiapkan sayuran, jadi Ilina memotongnya.


Meski tidak terlalu sering masak, Ilina beberapa kali belajar dari Ayana untuk keperluan seperti ini.


Tak ia sangka benar-benar akan dipakai.


"Lia, itu sudah dicuci."


Ilina batal mencucinya di keran. Bermaksud mencari wajan tapi tidak menemukannya.


Bagaimana caranya dia menumis tanpa wajan?


"Maaf." Tiba-tiba saja dia berdiri di belakang Ilina, nyaris membuat dia tertusuk pisau lantaran terlalu tiba-tiba.


Tapi Ilina berhasil menahan diri, melihat bahwa Noah hanya mengambil sesuatu berupa mangkuk tapi memiliki gagang yang diletakkan di atas permukaan kompor listrik.


Dia memasukkan sejumlah minyak zaitun, lalu bantu memasukkan sayuran ke dalamnya.


Apa ini?


Perasaan Ilina gelisah.


Dia seperti mendekat. Sengaja mendekat.


Tapi Ilina tidak bisa menyuruh dia menjauh.


...*...


Waspada sekali. Perempuan ini perempuan desa atau perempuan yang lahir di zaman perang?


Noah paham bahwa mereka mesti berhati-hati dan ia pun berusaha terus waspada kapan saja Lia kelepasan menusuknya dengan jarum beracun.


Tapi dia terlalu waspada sampai rasanya berduri untuk didekati.


Hanya ... juga menggoda.


Mungkin ini pertama kali Noah benar-benar berusaha tidak menyentuh kulit tangan wanita. Rasanya seperti jika ia menyentuh tangan itu tanpa izin, maka dirinya akan tercabik-cabik.


Menarik.


Terlepas dari bagaimana mereka terlihat dan bagaimana seharusnya hal ini tidak penting sekarang, Noah tetap merasa ada sesuatu yang harus dilihat.


Lia, Ilina. Berbedakah mereka? Atau memang orang yang sama?


"Aku sudah minta mereka menyiapkan kacamata secepat mungkin." Noah merendahkan suaranya sebagai isyarat rayuan tersirat. "Kurasa kamu kesulitan melihat dengan mata itu. Terutama untuk memasak di meja yang rendah begini."


Dia tak menanggapi, seolah tak tahu maksud Noah.


Atau mungkin tak peduli.


Ilina hanya bergerak mengaduk tumisannya, hingga Noah pun mundur memberi ruang lagi.

__ADS_1


...*...


__ADS_2