
Orang dengan logika sekeji itu tidak akan mungkin turun dari tempatnya untuk membantu Noah.
Sebenarnya Noah pun paham bahwa jika Ilina Bumantara mau, sejak dulu dia membunuhi semua musuhnya satu per satu.
Sudah dua Palmer yang mati, satu rekan bisnis mereka yang cukup besar, satu lagi keluarga Bumantara itu sendiri dari kalangan senior mereka.
Namun gadis itu masih tidak tersentuh.
Kalau gadis ini bukan Ilina, maka Ilina Bumantara yang asli cuma perlu mengirim satu gadis desa ke kota untuk melenyapkan banyak orang.
Bahkan tanpa itu pun, sebenarnya sudah cukup. Kenapa gadis itu membantu Noah dengan mudahnya?
"Mahesa."
Noah tersentak. "Mahesa?"
"Selama di punggungmu ada dia, Nonaku akan melihatmu. Atau mungkin sejak awal dia tidak melihatmu. Dia melihat Mahesa di bayanganmu."
Kamu tidak terlihat, tidak penting, dan tidak layak diperhatikan. Itulah yang tersirat.
Bagaiamana Noah tidak curiga jika setiap kali mengucapkan kalimat keji itu, dia tampak meresapinya dan bukan cuma mewakili sang Nona?
Noah hanya tersenyum tipis. Tak perlu ia membalas karena apa pun yang ia katakan sudah cukup jelas balasannya.
Dirinya tidak terlihat di mata Lia ataupun Ilina Bumantara.
...*...
Noah tak bisa tidur setelah itu.
Perasaannya jadi sedikit tidak menentu. Apa dirinya terlalu fokus memerhatikan Lia sampai-sampai kehilangan fokus pada tujuan awalnya?
Kalau dipikir-pikir, apa yang aku inginkan?
Balas dendam bukanlah tujuan Noah. Atau sebut saja ia ingin tapi tak terlalu berambisi.
Hari itu dirinya tertembak karena membiarkan dirinya tertembak. Noah terluka bukan karena ia berhasil dilukai.
Tentu saja ia terluka dan itu menyakitkan. Tapi saat Noah tahu identitasnya diketahui, pergi keluar mencari Ilina memang sudah seperti melempar diri pada kematian.
Ia tahu risikonya. Ia menerjang karena ingin menemukan Ilina.
Agar ... gadis itu menyelesaikan apa yang tak mau ia selesaikan.
Dari awal perebutan kuasa dan menyingkirkan pesaing itu membingungkan. Mengapa mereka harus repot-repot menyingkirkan orang yang tidak peduli pada mereka?
"Kamu tidak penting."
Noah menghela napas kecil dan terus mendengar suara dari imajinasinya sendiri. Seolah-olah Ilina berbicara padanya, mengatakan apa yang tadi Lia katakan.
"Aku tidak membantumu. Aku hanya bosan dan kebetulan keberadaan Mahesa di belakangmu menarik. Kamu ... tidak layak."
__ADS_1
Apa Noah menjadi gila karena kebengisan gadis kecil? Tapi kenapa Ilina Bumantara begitu terobsesi pada Mahesa?
Baiklah, obsesi mungkin belum bisa dipastikan, namun sepertinya dia memang peduli sampai repot-repot menerima tawaran Noah.
"Ryo."
"Ya, Boss?"
"Kirim seseorang ke desa itu diam-diam. Cari seseorang bernama Susan dan tanya dia mengenai identitas gadis yang kubawa."
"Riokai."
Jika Noah mengasumsikan dari sikap Lia, Ilina Bumantara yang entah juga Lia atau bukan itu sepertinya belum tahu apa pun mengenai organisasi Oto.
Awalnya Noah pikir setidaknya dia tahu bahwa Oto tidak berbahaya bagi Ilina. Namun kemarin, di hari yang sama kematian Sulaiman Bumantara, satu orang anak buahnya mati dibunuh oleh bawahan Ilina.
Noah tahu karena orang yang membunuhnya berhubungan langsung dengan Mahesa.
Mahesa Mahardika. Orang itu juga misterius dan berbahaya. Jika bukan karena dia, Noah tidak akan pernah tahu di mana Ilina berada. Dia membesarkan Ilina secara sukarela, bahkan meminjamkan intelejen padanya.
Kenapa?
Dan kenapa aku ingin tahu?
Noah bertanya-tanya ketika memutar posisi berbaringnya membelakangi tembok kamar.
Mungkin sebelum bertemu, sebenarnya ia sudah tergoda pada Ilina Bumantara.
Mereka hidup seperti orang lemah, hanya bisa kuat dalam bayangan sebab itulah kedamaian bagi mereka.
Meski itu menyenangkan, jauh di hatinya yang masih tersisa, ada pikiran seandainya semua sedikit lebih normal.
"Dia melihat Mahesa dalam bayanganmu."
Haruskah Noah berusaha terlihat di mata Nona angkuh itu?
Tapi, di mana ia bisa menemui Nona angkuh yang keberadaannya tidak diketahui itu?
...*...
"Lia."
Ilina mengangkat wajah saat tiba-tiba Noah keluar dari kamar dan memanggilnya. "Apa?"
"Tolong bereskan kamarku. Aku bekerja sepanjang malam dan terlalu lelah. Bisa kamu lakukan?"
Hampir Ilina berkata kenapa dirinya harus melakukan itu, tapi segera ingat ia menyamar sebagai asisten. Membersihkan kamar tentu saja juga tugas asisten.
Tapi kenapa tiba-tiba dia membiarkan Ilina ke kamarnya? Dia selalu mengunci kamar setiap kali dia di dalam.
Awalnya Ilina pikir itu karena dia takut diam-diam dibunuh saat tidur. Ternyata bukan cuma itu.
__ADS_1
Karena kapan pun dia di kamar, pintu kamarnya selalu terkunci. Mandi, ganti pakaian, atau sekadar masuk beberapa menit lalu keluar.
Ilina menoleh pada Noah yang sedikitpun tidak melihatnya saat masuk ke kamar. Pria itu berkutat di dapur, sibuk bersenandung dengan pikirannya sendiri.
Ada yang berubah.
Ilina rasa mulai sekarang ia harus membenci pria. Terutama pria yang tidak tahu berterus-terang.
Mahesa selalu menunjukkan perasaannya. Bahkan meski hanya lewat isyarat sederhana, namun jelas dan mudah dipahami. Apa gunanya dia melakukan sesuatu yang berbelit-belit?
Ilina membersihkan kamarnya tanpa sedikitpun peduli apa yang ada di dalam sana. Jika pria waspada itu membuka kamar begitu saja, maka berarti tidak ada sesuatu yang bisa didapatkan sebagai petunjuk.
Lepas membersihkan, Ilina berniat meletakkan kain kotor di keranjang, namun Noah memberi perintah lain.
"Ada tempat laundry di lantai bawah. Tanyakan pada resepsionis jika kamu kebingungan."
Maksudnya Ilina harus ke bawah mencuci ini? Kenapa tiba-tiba dia memperlakukan Ilina seperti bawahan sungguhan? Dia selalu memasang sikap waspada.
Pura-pura lembut namun mengawasi. Dia merayu sekaligus memancing dengan perangkap tak jelas. Sekarang dia mengabaikan?
Pria seperti dia adalah tipe yang paling ia benci sekarang. Ilina tak keberatan menjalankan peran. Ia kesal karena Noah terus mengujinya.
...*...
Noah benar-benar berharap dia menunjukkan sedikit ekspresi. Untuk memastikan benar dia Ilina atau bukan, Noah mau tak mau harus banyak bermain ambigu.
Serupa taktik gerilya yang dia lakukan dengan mempermainkan psikologi keluarga Palmer dan Bumantara, Noah ingin mempermainkan kejiwaannya.
Orang yang kalah adalah orang yang marah.
"Noah, aku datang."
Noah membuka mata ketika Marissa menutup pintu apartemennya.
"Di mana gadis itu?"
"Melakukan pekerjaan."
Marissa jadi sedikit lebih tenang seolah tadi dia sudah memikirkan kemarahan apa yang diberikan pada Lia. "Kenapa tiba-tiba memintaku membeli handphone? Milikmu rusak?"
"Kacanya retak." Setelah Noah retakkan.
"Kurasa kasus pembunuhan yang belakangan terjadi sudah diatasi." Marissa mengeluarkan ponsel yang Noah minta sambil mulai memberinya informasi. "Tapi perseteruan panas Bumantara dan Palmer sekarang jadi sorotan. Menurutmu benar-benar Palmer yang membunuh Sulaiman Bumantara? Tapi kenapa? Palmer juga kehilangan dua anggotanya. Atau Bumantara yang memulai?"
"Memahami perseteruan antar pesaing bisnis itu memusingkan, Marissa. Apa yang nampak tidak mungkin apa yang terjadi. Mereka sama-sama sudah tahu siapa, tapi berpura-pura tidak tahu karena itu lebih menguntungkan."
"Berhenti berbelit. Menurutmu siapa?"
"Mereka satu sama lain."
*
__ADS_1