
"Senior."
Ilina mengikuti langkah Mahesa yang bergema melewati mayat-mayat yang tersisa. Merasakan keheningan ini, Ilina rasa Mahesa membunuh Palmer yang tersisa meski Ilina mau melakukannya sendiri.
Dia pun sudah memegang sejumlah dokumen penting di tangannya. Kemungkinan berencana langsung pergi jika Ilina tak menahannya.
Untuk sesaat Ilina merasa takut ketika Mahesa berbalik. Bukan karena pandangannya menjadi dingin tiba-tiba karena Ilina sudah tidak berguna atau karena ucapan tadi yang meski khas dia, tetap saja terdengar sangat dingin di telinga.
Ilina ... hanya merasa takut.
"Ada apa, Ilina?"
Ilina mengatup mulutnya sebentar. "Apa Senior menyuruhku menerima pria itu?"
"Noah?"
"Ya."
"Kamu tidak menyukainya?"
"Senior berkata bahwa cinta—"
"Aku juga berkata bahwa lakukan apa pun yang kamu inginkan."
Mahesa melangkah ke arahnya. Berhenti di depan Ilina yang memalingkan wajah dengan napas memburu gelisah.
"Ilina." Tangan Mahesa menggelitik telinganya agar Ilina mendongak. "Aku ... tidak membutuhkanmu."
Ilina tertegun.
"Karena itulah aku hanya memberitahumu hal yang kamu perlukan untuk hari ini. Jika ada cinta di hatimu, kamu tidak akan pernah bisa menghancurkan Palmer dan Bumantara dalam semalam."
"...."
__ADS_1
"Setelah ini, lakukan sesukamu. Aku tidak membutuhkanmu dalam hal yang kulakukan. Jadi berhenti mengejarku." Mahesa tersenyum tipis. "Aku tidak ingin kamu kelelahan untuk hal tidak berguna."
"...."
"Aku menyukai orang rusak yang kesepian dan terluka." Mahesa mengecup keningnya. "Karena itu berhenti memaksakan diri memenuhi ekspektasiku. Pergilah dan lihat hal lain. Jangan khawatirkan apa pun sekarang. Kamu boleh melihat dunia lebih luas lagi. Bukan duniaku lagi."
Mahesa berlalu pergi, meninggalkan Ilina yang tertunduk menguatkan kepalan tangannya.
Dasar orang licik.
Tapi .... Tapi apa benar ada dunia lain selain kegelapan dan kesepian di neraka ini?
*
Noah memasuki ruang bawah tanah di mana Tabios duduk menunggunya.
Hari itu, beberapa saat setelah Xavier Palmer mati, Tabios tiba-tiba menemuinya dan meminta perlindungan Noah. Anak ini mengaku diutus oleh Xavier, berkata dia akan memihak jika dia dibiarkan hidup.
Jelas, awalnya Noah tidak terlalu peduli.
"Calon pemimpin Palmer yang baru." Pintu terbuka, dan sosok Mahesa memasuki ruangan itu. "Cukup bagus. Siapa dia, Noah?"
"Tabios. Sepupu Xavier."
Mahesa menjatuhkan diri di kursi terdekat, tampak memegang dokumen yang Noah yakin berisi sebagian besar aset Palmer.
"Kudengar kamu dan adiknya Xavier Palmer memiliki hubungan."
Tabios tersentak. Jelas dia berpikir Mahesa tidak mengetahui apa pun. Meski kemudian dia menjawab datar, "Aku tidak akan balas dendam."
"Kenapa?"
"Paman Ben membunuh seseorang untuk tujuan pribadinya." Tabios mencengkram kuat kepalan tangannya. "Dia membunuh orang lain lalu sekarang orang itu balas dendam. Paman yang memulainya."
__ADS_1
"Hmmm. Menurutmu, dia bersalah?"
"Ya."
"Menurutku tidak."
Tabios tersentak kaget.
"Noah, menurutmu tidak, kan?"
Dasar bajingan. Kenapa dari semua orang, harus bajingan macam ini yang merawat dan menjaga Ilina?
Jika saja saat itu Noah sudah tahu, ia akan membawa Ilina pergi jauh agar bisa hidup bersama seumur hidup.
"Melakukan sesuatu dengan tujuan tertentu dan dengan segala cara, itu memang kebiasaan manusia." Noah melipat tangan. "Benedict tidak berbuat salah. Dia hanya melakukan apa yang dia inginkan untuk mencapai tujuannya, yaitu membunuh Arman di kapal itu."
Tabios mematung tak percaya. "Lalu kenapa kalian balas dendam?"
"Karena kebetulan perbuatan Benedict mengusik kedamaian seseorang. Manusia juga makhluk yang tidak senang jika kedamaiannya diusik oleh seseorang," jawab Mahesa, tergelak kecil.
Mendengar itu, Tabios semakin tercengang.
"Dan kebetulan yang kamu usik adalah gadis berhati batu yang akan melakukan segalanya untuk menghancurkan gangguan seperti Benedict."
Ayo selesaikan ini karena Noah mau cepat-cepat menemui Ilina.
Didekati keponakannya itu, menepuk bahu Tabios seraya berkata, "Lupakan soal balas dendam. Apa yang terjadi malam ini bukan dendam. Tapi perbedaan kekuatan antara kalian dan Ilina."
Tabios mendongak.
"Kamu akan hidup mengambil pekerjaanmu sebagai Palmer, mengelolanya untuk Ilina karena dia lebih kuat darimu. Kamu mengerti artinya?"
Jika dia memikirkan hal lain diluar tugas yang diberikan, dia akan melihat sekali lagi tragedi malam ini.
__ADS_1
"Urus sisanya dengan bajingan di sana." Noah berbalik. Pergi meninggalkan mereka untuk segera mencapai Ilina.
*