
Ilina mengecek ekspresi Noah sekecil apa pun itu retakannya.
Sayangnya kali ini dia mengendalikan diri dengan sangat baik. "Apa rencana itu masih harus dilakukan, Lia?"
"Mengapa itu harus tidak dilakukan?"
Dia sedang berpura-pura tidak mengetahui identitas Ilina, kan? Maka berarti mereka berdua sedang sama-sama saling membohongi bahwa malam itu tidak pernah terjadi.
Malam itu Noah melihatnya sebagai Ilina.
Malam itu, Ilina melihat samar-samar bayangan Noah yang gelap.
Mereka sekarang sedang berpura-pura seolah itu tidaklah nyata.
Jadi tentu tidak ada alasan untuk membatalkan rencananya menemui Xavier.
*
Dia menguji Noah.
Sebenarnya Noah tidak mau sedikitpun mengangguk atau berkata dia benar jadi ayo lakukan, tapi sekarang Ilina sedang bergerak dalam misi mengambil alih keluarga keluarga Palmer.
Mau tak mau memang dia harus bergerak di hadapan mereka sedikit.
"Aku akan membantumu, Lia. Katakan saja yang harus kulakukan."
Gadis itu menunjuk satu per satu gambar anggota keluarga Palmer. "Bunuh mereka."
Jay, Robane, Yolan, Fauzi, Elen. Semua anggota keluarga yang berusia dua puluh lima tahun.
Usianya Noah.
Mereka semua suksesor, namun bukan orang utama seperti Xavier dan Benedict. Jadi strateginya adalah menghabisi cadangan dulu baru menginjak yang utama, kah?
".... Kapan mereka mati?"
"Besok."
"Jika itu terjadi, maka seluruh Palmer akan benar-benar memburu semua yang berpotensi. Kamu akan kesulitan bersembunyi."
Ilina tersenyum. "Bukankah aku bersembunyi di balik punggungmu?"
Jangan berdebar. Jangan berdebar atau dia mencium hal mencurigakan lagi.
"Aku tidak yakin bisa melindungimu, Lia."
Noah mengulurkan tangan. Menggelitik diam-diam telapak tangan Ilina tapi seolah hanya menyentuhnya sebagai bentuk simpati.
"Aku tidak ingin kamu terluka. Lakukan apa pun yang kamu inginkan dan jangan terluka."
Dia mencurigai Noah, yah? Dan itu benar-benar jelas ketika malamnya Noah mendapat sebuah hadiah dari kotak pizza yang ia pesan.
Ryo mengirim pesan.
__ADS_1
Yang secara singkat, Ilina sedang mencari pimpinan organisasi Oto untuk diajak bekerja sama.
Mahesa Mahardika tidak memberitahu apa pun mengenai Noah pada Ilina.
Sedikitpun, nampaknya, karena itu Ilina selalu menatap Noah dengan kesan permusuhan yang kental.
Noah memindahkan pizza itu ke piring lebar, membuang kotak bekasnya ke tempat sampah bersama balasan yang akan diterima oleh Ryo nantinya.
Setelah itu, Noah tentu mengetuk pintu kamar. Menjadikan alasan pizza agar berinteraksi dengan gadis batu itu.
"Lia, aku akan masuk."
Meski itu kamarnya, Noah bertindak sebagai tamu. Menemukan Ilina sedang duduk di atas kasur, menyisir rambut panjangnya sendiri.
"Aku merasa harus merayakan kebebasanku sebelum masalah besar terjadi."
Noah duduk di tepi kasur. Meletakkan piring berisi pizza itu di tengah-tengah.
"Makanlah. Kamu menyukai rasa keju, kan?"
Hanya tebakan. Masakan dia selalu terasa gurih. Dia juga kadang-kadang minum susu sampai belepotan di sekitar bibir atasnya.
Mungkin dia suka keju.
"Akan kubantu menyisir rambutmu. Kalau tidak keberatan."
Alasan satu-satunya kenapa dia mau adalah untuk memancing Noah.
Gadis itu menyerahkan sisir di tangannya, duduk membelakangi Noah agar ia mudah menyisir rambutnya.
"Lia," panggilnya lembut.
Meski Ilina tidak menjawab dan hanya makan.
"Apa kamu akan kembali ke desa itu nanti?"
*
Ilina tidak menduga pertanyaan itu.
Bukankah sudah jelas ia akan kembali ke tempat dirinya merasa seperti nyaman, damai dan tentram?
Untuk apa juga Ilina tinggal di tempat semacam ini hanya untuk setiap hari diawasi oleh Noah, lalu menunggu kapan Palmer mengirim pembunuh padanya.
"Ilina."
Gadis itu melirik. Penasaran dengan ekspresi Noah yang tiba-tiba memanggil namanya.
Sayangnya Ilina tidak bisa berbalik. Embusan napas Noah di bahunya terasa nyata. Seperti sedang menggoda Ilina namun juga seperti jebakan agar ia terperangkap.
"Apa kamu tidak lelah tinggal di desa?" tanya dia dengan suara mengambang yang ambigu.
Dia benar-benar tidak lelah menggoda Ilina.
__ADS_1
Ilina lelah tinggal di kota. Terlalu banyak kendaraan, udara kotor, suara bising, dunia yang terlalu warna-warni hingga matanya sakit. Tempat ini bukan tempatnya dan Ilina berterima kasih pada Tuhan sebab ia lahir di desa.
"Bukankah setelah merebut Palmer, maka kekayaan mereka adalah milikmu? Kamu ingin meninggalkan itu?"
Meninggalkan kekayaan?
Kekayaan itu yang membuat Ilina sekarang tidak diketahui oleh siapa pun. Tentu saja tidak. Semua itu adalah tambahan dana bagi Ilina.
Balas dendam hanya 'alasan' yang membenarkan tindakan Ilina.
"Aku rasa dengan kemampuanmu, kamu justru akan lebih sesuai tinggal di kota dan mengendalikan semua itu," bisik dia tanpa henti.
Orang ini bodoh atau sengaja membodoh-bodohi diri? Kemenangan mutlak adalah ketika kalian mendapatkan sesuatu tanpa harus melakukan sesuatu.
Kenapa Ilina harus tinggal di kota untuk mengurusi uang receh itu ketika ia bisa tidur di desa dan kekayaannya tetap berkembang?
Mahesa akan menggunakan itu sesuai keperluan mereka. Ilina tidak merasa itu cukup penting untuk dirinya turun tangan, membuang-buang keringat hanya karena kekayaan kecil Palmer.
"Apa tidak bisa—"
Sebelum Noah selesai mengatakan omong kosongnya, tiba-tiba terdengar suara alarm berbunyi.
Itu agak mengejutkan, tapi Ilina lanjut memakan pizza-nya yang ternyata enak dilidah.
Bisa ia rasakan Noah terus menyisir rambutnya. Menyelesaikan itu setelah berulang kali meluruskan seluruh sudut rambut Ilina sebelum dia bangkit.
Tangannya mengumpulkan rambut Ilina yang rontok, meletakkan itu di atas tiga lembar tissu lalu digulung dan dikantongi.
Ilina menatap dia tanpa ekspresi. Noah pun hanya tersenyum seolah dia tak habis melakukan hal konyol.
Sungguh kesintingan orang ini sulit untuk Ilina pahami.
"Biar aku saja." Ilina tiba-tiba beranjak. "Diam di tempatmu."
"Tapi, Lia—"
"Aku datang ke sini untuk balas dendam sesuai permintaanmu," sergah Ilina ketus.
Berharap dia sadar diri. Bukankah dia yang berpura-pura tidak punya kekuatan, meminta kekuatan padahal sebenarnya cuma malas mengurusi semua ini?
Ilina melepaskan kacamatanya, berlalu untuk mengambil kotak racunnya.
Serangan mendadak setelah kematian lima orang dari keluarga Palmer. Ternyata Benedict rela mengorbankan lima keluarganya untuk mengikuti jejak Ilina.
Pria kejam itu layak jadi lawan. Karena Ilina pun tak tahu cara berbelas kasihan.
Tepat saat pintu apartemen didobrak paksa, Ilina berbalik melempar satu jarumnya.
Ah, apa Ilina pernah bilang bahwa Mahesa menyuruhnya latihan melempar dengan mata yang buruk ini?
Kacamata adalah alat bantu. Tapi alat bantu kadang tidak bisa digunakan. Jadi Ilina menghabiskan harinya latihan melempar jarum yang saat melayang tak dapat ia lihat untuk mengenai sasaran bergerak.
Kadang-kadang, karena terlalu banyak bergerak, itu mengenai mata seseorang. Jadi jangan salahkan Ilina.
__ADS_1
*
*