Menolak Cinta Bos Mafia

Menolak Cinta Bos Mafia
53. Malam yang Indah


__ADS_3

"Nona."


Ilina melewati sekumpulan orang berpakaian hitam yang menutup wajah mereka. Karena Harja dan Ayana sudah tidak ada lalu Benedict mengetahui identitas Ilina, maka sekarang waktunya ia berhenti bertindak diam-diam.


Malam ini akan ia akhiri kepura-puraan orang mati yang bertingkah seolah mereka hidup itu.


"Bantai semua orang kecuali Benedict dan keluarga inti Palmer." Ilina memasang pelindung peluru di tubuhnya saat memberi instruksi. "Seperempat dari kalian, pergi dan cari seluruh kerabat Palmer. Bunuh mereka."


Palmer adalah mitos.


Itu sudah diputuskan sejak mereka memutuskan mengusik Ilina.


"Seperempat lagi, pergi dan lakukan serangan awal. Kacaukan keamanan mereka dan tarik semua keamanan berpusat ke pintu depan."


Mereka bergerak tanpa suara.


"Seperempat lagi, menyebar di sekitarku dan tetap diam sampai sinyal datang."


Sisanya adalah seperempat. Ilina mengepang kilat rambutnya, melepas kacamata hingga penglihatannya memburam.


"Ayo pergi."


Sisa dari mereka akan menyerang langsung di belakang Ilina.

__ADS_1


Dirinya bermaksud langsung masuk ke mobil ketika tiba-tiba sekumpulan orang berpakaian hitam lagi muncul. Berbeda dari pasukannya yang berpakaian polos, mereka memakai lambang not di dada mereka sebagai identitas.


"Perintah Anda, Nona?" Ryo secara alami datang seolah memang sudah sewajarnya Ilina memerintah.


Ini adalah perang, jadi Ilina tidak memasukkan masalah pribadi. Jika dia minta perintah, maka Ilina akan memberikannya.


"Bagi dua diri kalian. Satunya menyebar mengikuti orangku, sisanya pergi ke kediaman Bumantara."


Ilina berjalan melewati mereka.


"Malam ini Bumantara dan Palmer tidak pernah ada di dunia."


...*...


Ilina tidak menokeh ketika Noah muncul tanpa pelindung apa pun di wajahnya. Dia hanya memakai kemeja hitam biasa dan masih mewarnai diri dengan aroma cengkeh yang kuat.


Kini mereka berdiri di depan kediaman Palmer, mendengar jelas suara jeritan samar di dalam sebagai awalan dari pembantaian ini.


Jika Noah sengaja datang terlambat, Ilina bisa menebak dia mengurus perihal sesuatu yang bisa mengganggu mereka. Entah dari pihak kepolisian atau pihak-pihak luar yang sejak awal disiapkan, memang akan merepotkan kalau mereka juga bergerak mengusik malam yang indah ini.


Ketika sinyal datang dari dalam, Ilina memberi isyarat untuk mereka bergerak.


Besok pagi semua orang akan ditemukan terbunuh. Jadi tidak boleh ada kerusakan fatal pada pintu pagar atau tembok. Ilina melewati tembok tinggi itu dengan tali yang disiapkan orangnya, melompat mulus di atas rerumputan di susul Noah dan lainnya.

__ADS_1


"Ilina, kamu akan memakai jarum malam ini?"


Ilina melirik, lalu diam karena malas menjelaskan.


Racun yang ia gunakan hari ini adalah racun buatannya, salah satu racun terbaik.


Ia tidak akan membiarkan siapa pun mati kecuali tersiksa malam ini. Jadi belati atau pedang Noah tidak dibutuhkan.


Orangnya dan Noah bergerak terorganisir menuju ke seluruh sudut mansion. Ilina menerima koordinat Benedict Palmer, langsung menuju ke sana hanya bersama Noah dan Ryo di belakangnya.


Di depan ruangan pria itu terdapat sejumlah pria bersenjata lengkap. Mereka langsung menembak, tapi Noah menariknya berlindungi bersamaan dengan Ilina melempar jarum.


"Kamu tidak menggunakan kacamatamu?" Sempat-sempatnya dia bertanya. Mengelus pipi Ilina lembut. "Lemparanmu selalu mengenai mata mereka saat tidak melihat, Ilina. Itu membuat mereka jadi sangat berisik."


Ilina mendekatkan wajah mereka, membuat Noah tersenyum ingin menciumnya.


Lalu secepat kilat Ilina beranjak, tak peduli jika Noah tersungkur.


Pria gila. Ilina benar-benar berpikir dia itu sempat terluka oleh sikap keluarga Palmer. Ternyata sampai ke sel-sel tubuhnya pun dia tak peduli.


Yang dia lihat malam ini hanya Ilina menari dan dia mau menciumnya.


...*...

__ADS_1


__ADS_2