Menolak Cinta Bos Mafia

Menolak Cinta Bos Mafia
18. Aku Kesal


__ADS_3

"Nona."


Ilina menunduk. Pura-pura tetap melamun ketika seseorang duduk di sisinya. Jadi Ayana tetap berusaha keras menyusupkan orang, kah?


"Ada Tuan Muda di gedung ini."


Ekspresi Ilina seketika berubah. Tuan Muda, berarti Mahesa?


"Di mana?"


"Beliau akan tampil di acara selanjutnya. Kemungkinan akan bertemu Andreas Noah."


Cuma ada satu alasan Mahesa berada di sini di hari Ilina berada di sini. Dia datang menemui Ilina!


Sulit untuk Ilina tidak tersenyum lebar. "Aku akan menunggu."


"Juga, Nona—"


"Aku tahu. Target selanjutnya orang yang paling berpengaruh dibawah tiga orang yang paling berkuasa. Targetkan dua orang."


"Baik."


Mood Ilina tiba-tiba berubah baik.


...*...


Ada apa?


Dia tersenyum sendiri samar-samar. Noah bergegas datang begitu selesai siaran dan menemukan Ilina malah terlihat sangat senang.


Pikir Noah dia sebal dengan sekitaran yang ramai.


Noah ikut tersenyum kecil. Jarang-jarang juga sebenarnya dia tersenyum. Tapi perhatian Noah segera beralih ketika pintu ruangan dibuka, memunculkan sosok Mahesa.


Astaga. Kenapa dia terang-terangan menampilkan dirinya di sini sekarang?


"Lama tidak bertemu, Noah."


Ada Marissa tersisa di sini, jadi Noah hanya bisa bertingkah sebagai teman. "Kukira kamu tidak suka tampil di acara TV."


Mahesa Maherdika memang tidak pernah berniat jadi artis meski wajahnya wajah pangeran mahkota, jadi jarang sebenarnya dia tampil.


"Hanya mencari hiburan." Dia mengedik. Lalu mengajaknya berbasa-basi tentang kegiatan tak penting mereka belakangan yang seluruhnya adalah kedustaan.


Dia jika harus Noah katakan adalah orang yang juga membesarkan Noah. Meski sebenarnya tidak secara keseluruhan, namun Oto bisa bergerak dalam struktur yang sempurna berkat dia.


Tujuh puluh persen anak buah Noah adalah pemberian Mahesa. Pola didik, pola strategi, segala macam hal di organisasi mereka diketahui dengan pasti orang ini.


Noah menghormatinya, tapi juga mewaspadainya. Tak jauh beda dari Ilina Bumantara yang dia besarkan, Mahesa Mahardika memandang seluruh manusia tak lebih dari alat mencari tujuan.


"Marissa, lama tidak melihat, kurasa kamu semakin cantik."


Marissa terkekeh manis diberi pujian. "Aku tidak secantik istrimu, tentu saja."

__ADS_1


"Aku setuju."


"Jahat!"


Mahesa tergelak. Lalu matanya bergulir pada Lia yang sejak tadi diam. "Siapa dia, Noah?"


Padahal sudah tahu.


"Lia." Noah tentu harus bertingkah seolah dia tidak tahu. "Lia, kemarilah. Ini ... seniorku. Mahesa Mahardika."


"Heeeh. Asisten barumu? Wajahnya jelek."


Noah terkejut Mahesa merendahkan orang begitu saja, padahal biasanya dia yang paling manis memuji seseorang meski kenyataannya tidak manis. Tapi yang lebih mengejutkan, Lia tak sanggup melihat Mahesa, seperti gelagat adik kelas pemalu yang ditembak oleh seniornya di belakang sekolah.


Kenapa dia?


"Marissa, kenapa Noah bisa membawa orang sejelek ini di sisinya?"


Marissa bahkan tersenyum canggung. Dia tak berani menjatuhkan orang terang-terangan, apalagi di depan Mahesa. Mungkin sekarang dia lebih bingung kenapa Mahesa Mahardika yang dikenal baik, ramah, dan lembut, malah mengolok-olok orang.


"Dia ... orang desa." Marissa berusaha menjawab. "Dia adik temannya Noah, dan dia hanya pembantu."


"Membantu seseorang yang tidak berguna. Aku tidak mengerti pada kebaikan hatimu yang tiba-tiba itu." Mahesa menepuk-nepuk punggungnya.


Yang lebih penting Lia. Kenapa dia memerah?


Pipinya memerah. Jelas memerah. Bukan malu atau tersinggung, tapi seperti dipuji dialah gadis paling cantik di dunia.


"Noah, dengarkan aku." Mahesa menarik bahunya dan pura-pura berbisik. "Jangan berbuat baik pada gadis yang terlihat tidak berguna. Mereka cuma akan menggerogotimu seperti kanker. Setidaknya buat dia jadi simpanan atau sesuatu."


Ia paham Mahesa sedang bertingkah di depan Marissa, tapi kenapa dia ....


Ah, begitu, yah. Sialan.


...*...


Jangan berbuat baik pada orang tidak berguna.


Ilina tersenyum menangkap maksud Mahesa.


Jangan berbuat baik begitu saja pada Noah. Ambil keuntungan darinya dan bukan cuma membantu dia. Mengambil alih keluarga Palmer memberinya kekayaan, tapi sebuah keuntungan dihitung dari nilai barang itu sendiri.


Palmer tidak bernilai. Cari keuntungan lain.


"Kurasa aku sedikit berlebihan." Mahesa tiba-tiba menunduk padanya. "Maafkan aku, Gadis Kecil. Lia, namamu? Salam kenal."


Mata Ilina tidak mau memandangnya. Ia memilin ujung pakaiannya sambil terus berusaha bernapas teratur.


Wangi cendana. Wangi rayuan dari Mahesa yang berarti kamu cantik dan aku tergoda.


Dasar menyebalkan. Kenapa dia selalu melakukan hal semacam itu hanya untuk menolak Ilina? Dia datang cuma untuk berbuat iseng.


"Kemarikan tanganmu."

__ADS_1


Ilina spontan memberikan tangannya hanya agar mereka bersentuhan. Ia tak peduli pada apa pun kecuali saat tangan hangat Mahesa memegangnya, hanya sekilas, untuk meninggalkan sepucuk permen.


Permen berbungkus merah dan hitam. Darah dan bayangan.


"Makanlah itu. Gadis menjadi cantik saat tersenyum, bukan cemberut."


Begitu saja dia pergi, meninggalkan Ilina yang tersenyum lebar melupakan dunia.


*


Dia dan Mahesa saling kenal.


Seorang Mahesa Mahardika tidak pernah menghina di depan orang lain. Sekalipun tidak pernah. Bahkan di depan orang kecil atau untuk kepentingan akting di depan orang yang mau dia kelabui.


Pada dasarnya menghina lewat mulut adalah tindakan orang rendah. Mahesa hanya menghina lewat tindakan.


Kalau dia hina, jatuhkan dia dari panggung. Kalau dia rendah, singkirkan dia dari layar. Mulut diciptakan untuk mengeluarkan kalimat bermutu. Prinsup Mahesa tidak pernah berubah.


Dia tidak menghina Lia. Dia menggodanya.


Seperti seorang kakak menggoda adiknya. Tapi Lia ... tersenyum seperti gadis yang dirayu.


"Aku rasa otakmu sudah rusak." Marissa menggeram jijik pada senyum Lia. "Dia menghinamu buruk rupa dan kamu tersenyum. Asal tahu saja, istrinya bahkan lebih cantik dari tuan putri negara barat!"


Dia tidak mendengar. Dia tenggelam dalam rasa berbunga.


Noah berbalik. Menatap ujung jemarinya yang gemetar tiba-tiba.


Apa? Kenaps rasanya sesak dan ia mau menghancurkan tempat ini?


Aku kesal, gumam Noah dalam dirinya sendiri.


...*...


"Lia, bawa ini."


Suasana hati Ilina sedang luar biasa baik sampai ia tak memikirkan kenapa Noah sejak tadi menyuruhnya ini itu. Asistennya diam saja bermain ponsel, tapi dia terus meminta Ilina berjalan.


Mereka pindah dari gedung televisi satu ke lokasi kedua. Noah manggung di lokasi yang ramai, tapi Ilina lebih sibuk memandangi sebungkus permen di tangannya.


"Senior sangat hebat." Ilina mengingat salah satu kenangan yang ia sukai tentang Mahesa. "Kenapa Senior diam saja padahal punya kekuatan? Senior harus jadi penguasa dunia."


Saat itu, Mahesa tertawa terbahak-bahak. Mengacak rambut Ilina dan menertawakan ucapannya yang dia anggap polos.


"Emil, kuberitahu satu hal. Penguasa sejati tidak pernah diterima secara sukarela. Entah dia penguasa baik, atau penguasa yang kejam."


"Kenapa?"


"Karena kekuasaan sejati hanya dipimpin oleh satu orang. Dunia sekarang tidak menyukai konsep satu itu. Karena itu aku harus punya kuasa mengendalikan mereka dan menekan keinginan mereka."


"Kenapa tidak bunuh saya yang melawan?"


"Emil, Sayangku, membunuh satu dua orang berbeda dari membunuh ratusan, ribuan, jutaan orang. Tidak salah menggunakan kediktatoran, tapi selalu paham sebelum membunuh, pastikan dia berguna atau tidak berguna."

__ADS_1


Andreas Noah. Apa yang berguna dsri orang itu?


__ADS_2