
"Hei! Itu garam! Garam! Kamu diminta membuat kopi, bukan membuat tumisan!"
Bisakah dia diam? Ilina menyentuh toples garam untuk mencari tahu. Bagaimana ia bisa seketika tahu itu garam atau gula jika tidak memastikan dari dekat dulu?
Kopi yang ia buat dirampas begitu saja, lalu Marissa pergi membawakannya pada Noah seolah-olah dia yang buat. Ilina sungguh tidak keberatan tapi sekali lagi, bisakah mereka bertemu di kamar saja alih-alih di sana?
Ia ingin tidur untuk memulihkan diri sekarang.
"Noah, apa menurutmu Lucas dibunuh?"
Noah menyaksikan tayangan tanpa banyak suara. "Entahlah."
"Ini kasus pembunuhan pertama yang terjadi di keluargamu. Aku tidak bisa tidur memikirkan kalau-kalau mereka mengincarmu kapan-kapan. Kamu butuh kekuatan, Noah."
Sepertinya dia punya otak sedikit.
Ilina diam-diam masuk ke kamar mandi, lebih baik menyendiri di sana sampai si Marissa itu pulang. Telinganya sensitif sejak dulu sekali, terutama saat matanya mulai tidak berfungsi. Suara dia yang melengking membuat Ilina terganggu.
Bersyukurnya cuma butuh waktu dua setengah jam sampai Noah datang, memberitahunya untuk keluar.
"Marissa memang banyak bicara. Dia tidak bermaksud buruk. Maafkan aku, Lia."
"Tidak masalah." Ilina juga bisa membedakan mana maksud buruk, mana maksud tidak penting.
Orang yang bermaksud buruk padanya semua sudah bergelantungan di neraka. Jadi ketika gadis itu masih hidup, berarti dia memang bukan bermaksud buruk.
Dia cemburu.
Tak menyukai keberadaan Ilina di sini, nampaknya.
"Daripada itu, apa belum ada respons apa-apa dari keluarga Palmer?"
Noah duduk di depan televisi dan mematikan salurannya karena takut Ilina terganggu. Rupanya dia paham ia tak suka suara. "Belum. Setidaknya, padaku."
Benarkah?
Ilina tidak lupa bahwa orang ini sebenarnya juga mencurigakan.
Ada sesuatu yang dia sembunyikan dalam ceritanya yang dramatis itu. Tapi memang belum ada laporan apa-apa dari Harja hingga bisa dibilang kalaupun ada reaksi, itu belum terlalu penting.
Lagipula, ini masih awal mula. Tidak mungkin tiba-tiba mereka tahu itu perbuatan Ilina dan Noah.
Tempo permainan masih berada di tangan Ilina. Akan ia kacaukan sesuka hatinya.
...*...
Noah mengajaknya pergi.
Pagi-pagi buta saat Ilina baru selesai mandi, pria itu keluar dari kamarnya dan berkata, "Ayo keluar membeli kacamata dan kebutuhanmu."
__ADS_1
Tiba-tiba sekali. Namun Ilina melihat ada niat lain dalam ajakannya hingga setelah mempertimbangkan, ia setuju untuk ikut.
Ilina baru sadar bahwa ia cuma memasukkan dua lembar baju ke dalam tas lusuhnya hingga mau tak mau ia memang memakai baju yang nampak tidak indah.
Itu sama sekali tidak masalah saat bercermin di depan kaca rumahnya di desa, namun ternyata berbeda saat ia bercermin di kamar mandi mewah.
Ini mencolok. Orang tampan seperti Noah jalan bersama gadis berpakaian desa itu justru sangat amat mencolok.
"Pakai ini."
Ilina tak menyangka pria itu juga berpikir sama. Dia menyerahkan baju yang kemungkinan adalah bajunya sendiri pada Ilina.
"Ini baju pria, tapi unisex di tubuh wanita. Gambarnya tidak mencolok. Kurasa pas di tubuhmu."
Diambil pakaian itu tanpa banyak bicara, Ilina kembali bercermin dan menemukan wujudnya asing.
Baju kaos itu memang super panjang, ditambah dengan jaket raksasa memeluk Ilina sampai ke pertengahan paha.
Apa tidak masalah memakai baju seperti ini?
Yah, tapi Noah yang berikan, jadi seharusnya tidak masalah.
Hanya sehari juga. Ilina tinggal membeli beberapa pakaian wanita yang sesuai.
...*...
Dia benar-benar memakai baju yang Noah berikan tanpa sedikitpun memberi satu komentar. Kaus oversized yang bahkan kebesaran di tubuh Noah itu jelas lebih besar lagi di tubuh wanita.
Memang tampak seperti minidress kasual, tapi mengetahui gadis desa ini yang memakainya, entah kenapa jadi agak lucu.
Kecuali menyinggung ekspresi wajahnya yang benar-benar tampak datar.
Mereka bergegas keluar dan turun ke lobi. Jika ada satu saja ekspresi Lia yang cukup kentara baginya, itu adalah ekspresi asing dia menatap sekitaran.
Mungkinkah putri dari konglomerat malah tidak tahu sama sekali mengenai kota? Rasanya mustahil. Noah tahu dia bersembunyi tapi ia cukup yakin Ilina tidak sedeso Lia dalam menatap.
Meski itu tidak bisa jadi alasan mengatakan dia bukan Ilina atau dia benar-benar polos.
Noah memakai topi dan masker untuk menghindari wajahnya diketahui oleh publik. Untuk sekarang mungkin cukup aman, yang merepotkan adalah fans tidak kenal waktu dan situasi.
Mereka terus saja—
"Lia?"
Ketika Noah menoleh, gadis itu tertinggal jauh sekali.
Sibuk menatap lantai trotoar dengan mata menyipit tajam sampai-sampai sulit percaya dia gadis yang sama yang membunuh penyusup malam itu.
Mata Ilina Bumantara tidak mungkin rabun lalu tidak diberi penanganan. Mereka orang berbeda, kah?
__ADS_1
"Kemarikan tanganmu." Noah mengulurkan tangan.
"Untuk?"
"Matamu bermasalah dan tempat di sekitar kita kurang kamu kenali. Berbeda dari desa, kamu tidak bisa berjalan di sini dengan mata tertutup."
Lucunya dia agak ragu, walau kemudian tetap memberikan tangannya untuk digenggam.
Noah dalam kepala berpikir.
Tangan yang nyaris membunuhnya dengan jarum ternyata lebih halus dari untaian benang sutra.
*
Mahesa Mahardika pernah berkata, kepura-puraan yang dilakukan dalam kemunafikan adalah kegeniusan.
Artinya, orang yang berpura-pura lalu terlihat meyakini kepura-puraan itu adalah orang genius.
Orang ini terlihat seperti itu.
Ilina tidak akan lupa bagaimana dia benar-benar bisa mematahkan tangan Ilina waktu itu, tapi melihat dia sekarang tampak sedikitpun tidak berbahaya, itu justru menakutkan.
Dia membantu Ilina berjalan. Melangkah cukup lambat untuk ukuran langkah pria tinggi agar Ilina yang perempuan dapat menyusulnya tanpa kesulitan akibat penglihatan buruk.
Mereka tidak naik kendaraan apa pun, karena tower apartemen Noah berjarak cukup dekat dari pusat perbelanjaan yang mau dia datangi.
Di tengah keramaian asing menyesakkan itu, seseorang tiba-tiba berjalan di belakangnya, diam-diam menyentuh tangan Ilina yang tak digenggam.
Tentu ia paham itu isyarat.
Ternyata Ayana.
"Apa yang ingin kamu beli?"
Ilina hanya memasang wajah datar. "Tidak tahu."
"Itu kebutuhanmu, Lia. Aku juga tidak tahu apa yang perlu dibeli."
Ilina diam-diam melirik ke sekitar. Ia menghafal postur Ayana dan beberapa orangnya Harja, jadi tahu mereka berkeliaran di sekitar untuk mengawasi Ilina dan Noah.
Tempat ini terlalu besar. Sebelum berpikir apa yang ia butuhkan, Ilina sudah sakit kepala duluan melihat manusia berkeliaran di mana-mana.
"Baju." Setidaknya itu yang utama.
Tapi sebenarnya mungkin tidak terlalu perlu juga sebab Ayana sudah menyiapkannya.
Jika saja dia tidak mengajak Ilina keluar, maka Ayana bisa mengantarkan baju dan kebutuhan dengan alasan 'Nona Ilina' memerintahkan 'Lia' memakainya selama misi.
...*...
__ADS_1