
Itu sangat menyebalkan ketika dia sudah tahu tentang Ilina namun ia sendiri belum tahu apa pun mengenai Noah.
Lelah berpikir tanpa solusi, Ilina bangkit dari tempat tidur itu. Baru saja ia akan turun, pintu kamar sudah terbuka, dan Noah masuk menghampiri.
"Beristirahatlah, Lia."
Lia? Dia menyebutnya 'Ilina' sebelum Ilina pingsan.
"Mereka memberimu obat dan tubuhmu belum sempurna menetralisirnya." Noah berlutut. Mengangkat kakinya perlahan ke tempat tidur dan menuntun Ilina kembali berbaring. "Tidurlah di sini. Ini kamarmu sekarang."
Apa lagi yang coba dia lakukan?
"Aku tahu kamu kebingungan." Noah memegang tangannya tanpa izin. "Percaya padaku, Lia. Jika sudah waktunya, aku akan memberitahu semua yang kamu ingin ketahui tentangku. Untuk sekarang, berbaringlah."
Ilina menatap dia tanpa emosi.
Sengaja tak bersuara sampai pria itu pergi dan mematikan lampu agar Ilina lebih nyaman terlelap.
Entah dia bodoh, pura-pura bodoh, atau memang tidak peduli dia berbuat bodoh.
Ilina dibesarkan oleh Mahesa dengan kekuatan, keyakinan namun juga kebebasan dalam jiwanya.
Perasaan tersengat yang Ilina rasakan di sekitar Noah, itu seperti isyarat bahwa Ilina harus berhati-hati sebab pria itu coba merebut miliknya.
Ilina kembali terduduk. Namun ia melakukannya perlahan dan hati-hati.
Dipandangi sekitar untuk menemukan adakah sesuatu yang diletakkan untuk mengawasi, lalu saat yakin tidak ada, Ilina meraba lipatan di bawah lututnya.
Ada sesuatu di sana. Perekatnya masih sempurna, tidak miring atau tersentuh. Berarti Noah tidak sampai mengecek setiap sudut tubuh Ilina.
Dibuka perekat itu pelan-pelan, membuka pelindung jarum di sana.
Ini bukan jarum beracun. Hanya jarum biasa.
Ilina menusuk pahanya dengan benda tersebut, cukup dalam sebelum ia menutupi lukanya dengan plaster berwarna kulit yang tadi digunakan menutupi jarum.
Selanjutnya Ilina berbaring. Memutuskan untuk tidur meski perutnya lapar, sampai ia terbangun oleh suara Harja.
Ada sebuah cip yang tertanam dalam diri Ilina, dan itu bereaksi terhadap rasa sakit dan luka yang ia derita.
Sensor itu akan otomatis terkirim ke dua arah, Mahesa Mahardika dan Harja. Mereka sudah sepakat. Jika luka yang Ilina alami sangat kecil, maka itu berarti sebuah isyarat dalam situasi genting namun rahasia.
Jika luka Ilina sebesar sayatan, maka berarti siaga.
Dan jiia ia terluka parah, maka orang-orang khusus Mahesa akan langsung datang menerobos situasi untuk menyelamatkannya.
Karena itu Ilina tidak bisa sembarang terluka.
"Nona."
Pintu kamar Noah tertutup, menyisakan Ilina dan Harja.
Pria yang telah merawatnya setengah hidup Ilina itu bergerak memeriksa sekitaran untuk benar-benar memastikan tidak ada sesuatu.
__ADS_1
Dia menemukannya di bawah tempat tidur.
"Ini sensor getar, Nona. Perlu saya mencabutnya?"
"Biarkan saja."
Pantas ketika Ilina mau beranjak, dia langsung muncul. Hanya itu yang ada, jadi Harja berdiri menunggu instruksi.
"Pria itu tahu identitasku." Ilina diam-diam mengepal tangan. "Kurasa dia sudah curiga sejak awal. Aku tidak peduli caranya bagaimana. Dapatkan sesuatu tentang dia yang setara dengan harga identitasku."
"Saya rasa informasi ini menarik, Nona." Harja berlutut untuk lebih rendah dari posisi Ilina. "Saya belum bisa memastikan siapa pria itu, tapi ada pergerakan mencurigakan di belakangnya. Klub malam yang Nona datangi kemarin tiba-tiba meledak dan dikabarkan karena kecelakaan listrik."
Noah meledakkannya? Orang yang bersembunyi dari Palmer karena tidak punya kekuatan?
"Bukan cuma itu. Asistennya dan pria yang Nona habisi, keduanya dikabarkan menghilang. Pihak kepolisian menyatakan tidak adanya korban jiwa dalam ledakan, namun saya cukup yakin bahwa dua orang itu adalah korban jiwa yang disembunyikan."
Punya kekuatan memanipulasi kematian orang. Andreas Noah berbohong mengenai ketidakmampuannya.
"Dan saya rasa, Nona, Tuan Muda terlibat dalam hal itu."
"Aku tahu Senior melakukannya." Segala hal tentang Ilina, diketahui oleh Mahesa.
Tidak.
Segala hal yang dilakukan oleh orangnya Mahesa, mau yang dia tolong, dia rawat apalagi dia besarkan tentu dia tahu.
Bukan cuma Ilina yang dirawat oleh Mahesa. Andreas Noah juga demikian.
"Baik, Nona."
Ilina diam sejenak. Tiba-tiba terpikir sesuatu yang sempat ia lewatkan. "Harja, apa sudah ada informasi mengapa Palmer mengejar Noah yang merupakan anak haram?"
"Untuk saat ini belum, Nona. Tapi orang yang bertugas mencari informasi itu mengabarkan bahwa keluarga Palmer gelisah akan ledakan yang terjadi di klub malam. Padahal tidak ada keluarga mereka yang terlibat, kecuali Andreas Noah."
"Mereka mengajarnya bukan karena Noah anak haram."
Memang aneh kenapa Palmer repot-repot harus membunuh anak haram mereka dengan banyak cara rumit kalau Noah cuma anak haram.
Kepala keluarga Palmer bahkan tidak pernah mengulurkan tangan pada Noah.
Noah punya kekuatan. Dia menyembunyikannya. Kekuatan yang cukup membuat keluarga Palmer gentar.
"Juga, Nona."
"Hm?"
"Pria itu sepertinya bertukar surat dengan seseorang lewat jalur udara secara manual. Apa Nona tidak pernah mendengar suara elang berkeliaran di sekitar sini?"
"Aku beberapa kali mendengarnya."
"Itu milik pria itu."
Elang. Burung, lebih tepatnya, adalah alat komunikasi manual yang tidak lagi digunakan di zaman sekarang. Cuma satu yang Ilina tahu masih menggunakannya.
__ADS_1
Mahesa Mahardika.
Untuk menghindari pelacakan digital, dia memanfaatkan komunikasi lewat burung yang dia latih sendiri.
Mahesa Mahardika memiliki kekuatan yang sangat besar dan dapat mengguncang negara ini, karena itu dia bergerak sangat hati-hati dalam berbagai hal.
Jika Noah menggunakan cara sama, maka ....
"Harja, bocorkan identitasku pada Palmer."
"Nona."
"Mereka semua orang mati. Berbisik ke telinga orang mati tidak akan membuat identitasku terancam."
Ilina menatap dingin ajudannya.
"Jangan beri nama Ilina. Buat sebuah nama lain dan berikan kesan aku dibesarkan okeh keluarga Bumantara sejak lama. Biarkan Benedict menyerang Bumantara."
"Akan saya lakukan."
"Bagus kalau Bumantara juga hancur. Tapi jika tidak pun aku tidak peduli. Lakukan itu sampai keberadaanku di belakang Noah diketahui."
"Akan saya minta pasukan mengawasi Nona lebih intens."
"Bagaimana dengan Oto?"
"Mereka belum mengetahui nama ataupun detail informasi Nona. Namun secara jelas mereka memberikan informasi bahwa anak dari Arman Bumantara masih hidup."
"Senior pasti tahu siapa pimpinan organisasi itu. Cari dia dan jadikan mereka bawahanku."
"Baik, Nona."
"Pergilah. Sisanya urusanku."
"Baik, Nona."
Ilina berbaring kembali, untuk sekarang cukup yakin bahwa rencananya masih dalam kendali.
*
Noah mengulas senyum ketika Ilina keluar dari kamar di sore hari. Gadis itu terlihat habis tidur sangat lama, masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya cukup lama sebelum dia keluar memakai dress lusuhnya lagi.
Mungkin dia nyaman dengan penampilannya itu.
Tidak mengubah kenyataan dia sudah sangat cantik, bagi Noah.
Kacamata tebalnya digunakan kembali. Ilina agak terlihat pusing, diam beberapa saat sebelum dia mendekati meja makan.
"Aku sudah menyiapkan makanan."
Noah mengulurkan tangan padanya. Tidak lagi merasa ditolak meski pandangan Ilina belum berubah. Masih sedingin yang kemarin.
...*...
__ADS_1