Menolak Cinta Bos Mafia

Menolak Cinta Bos Mafia
13. Alat Pemberian Semesta


__ADS_3

Dia pergi.


Ilina menatap minuman yang ada di tangannya, tapi hanya berpikir bagaimana sensasi kulit telapak tangan Noah menggelitik punggung tangannya.


Kenapa?


Kenapa dia tiba-tiba merayu Ilina?


Orang yang waspada tiba-tiba menurunkan kewaspadaan lalu mendekat. Itu isyarat kematian bagi Ilina.


Tapi buat apa dia membunuh Ilina setelah Ilina membunuh dua orang dari keluarga Palmer?


"Emil." Bayangan Mahesa berputar di kepalanya dan terasa manis hingga Ilina tersenyum. "Ada dua jenis kedudukan di dunia. Penguasa bijak, penguasai kejam. Dua-duanya sama."


"Kalau sama, lalu apa perbedaannya? Kenapa harus dua?"


"Karena jalannya berbeda." Mahesa sering mengusap kepalanya penuh sayang. "Jadi bijak artinya menghargai, jadi kejam artinya tidak menghargai. Manapun pilihan kamu, pilih yang paling menguntungkan."


"Kalau begitu, aku lebih suka jadi kejam."


"Kenapa?"


"Karena baik bisa jadi lemah."


Ilina tersenyum kecil. Membuang minuman pemberian Noah ke wastafel tanpa sedikitpun berniat mencobanya.


Orang bijak adalah orang yang menghargai.


Ilina tidak suka menghargai. Dirinya tak minta dihargai, dirinya tak mau menghargai.


Jika ada sesuatu yang ia inginkan, tinggal ambil saja. Jika sesuatu itu milik orang lain, tinggal rebut saja. Tapi jika sesuatu miliknya akan direbut, tinggal bunuh saja.


Rayuan yang memiliki maksud itu, apa pun tujuannya, injak saja.


Karena dia tidak lebih dari alat bermain yang Ilina dapatkan dari pemberian semesta.


...*...


"Noah?"


"Hm?"


"Kita akan ke mana?"


"Jalan-jalan."


Daripada dia sibuk meributkan hal merepotkan dengan Lia, lebih baik Noah mengajaknya jalan untuk sedikit menenangkan dia juga.


Lagipula, ada sesuatu yang mau Noah lihat sekarang.


Lia tidak mengatakan apa-apa padanya, tapi pasti dia tahu bahwa ada seseorang yang mengawasi Noah belakangan ini. Orang itu terus di sana, berpura-pura menjadi sipil tapi siang malam bergerak mengawasi pergerakan mereka.


Pantas saja Lia tidak ingin keluar. Akan mencurigakan kalau dia ketahuan lalu diselidiki dan ternyata tidak punya identitas.


"Marissa."

__ADS_1


"Ya?"


"Bagaimana menurutmu tentang Lia?"


Marissa sekilas terlihat kaget. "Aku tidak suka," jawabnya kesal.


"Aku bertanya alasanmu."


"Matanya menakutkan."


"Matanya rabun, jadi dia harus menyipit saat melihat."


"Tetap saja bagiku berbahaya." Marissa menyesap minumannya sambil menyamai langkah Noah. "Aku juga tidak suka bagaimana dia tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak percaya kenapa kamu menjadikan dia pembantu sementara menggunakan microwave saja dia tidak tahu."


Yah, itu karena dia memasak dengan kayu. Apa boleh buat.


"Dia juga selalu diam. Selalu mengunci mulutnya seperti hantu mengerikan. Aku tidak suka semua hal dalam dirinya!"


Noah tersenyum.


"Dan aku tidak suka karena kamu menyukainya," gumam Marissa, namun cukup terdengar oleh telinga Noah.


Ia berpura-pura tidak mendengarnya. Lanjut berjalan santai sambil terus mengobservasi sekitaran.


Sudah beberapa hari berlalu, tapi cuma satu penjagaan.


Kecurigaan pada Noah tidak terlalu kuat. Bagus, itu akan memudahkan dirinya dan Lia bergerak.


"Lalu? Kamu?"


...*...


Setelah kematian Callista, Ilina memang berniat diam saja.


Dalam peperangan, orang yang berhasil menguasai psikologi lawan adalah pemenang. Dan normalnya penyeranglah yang mendominasi.


Sekarang ini bisa diasumsikan keluarga Palmer sedang sibuk bertanya-tanya apa maksud dari serangan mendadak itu.


Mereka juga tak bisa mendapatkan hasil dari mengawasi seseorang, termasuk Noah, sebab Noah memperlihatkan kesan dia meringkuk ketakutan.


Belum ada informasi yang cukup penting dipedulikan, jadi Ilina menghabiskan harinya dengan bermain catur.


Itu terjadi tiba-tiba. Noah kemarin datang membawakan Ilina paket yang ia minta dari Harja, berisi dua buah kacamata dan sejumlah pakaian tambahan untuknya.


Ternyata dia juga membeli catur, lalu mengajak Ilina bermain daripada ia bosan.


Catur adalah permainan strategi yang memusingkan. Noah terang-terangan mencoba mencari tahu tentangnya, tapi Ilina bersembunyi dibalik identitas sebagai penjaga.


Artinya, Ilina tidak boleh terlalu jago, tidak boleh juga terlalu payah.


Kebetulan, Ilina memang tidak lagi sering bermain catur. Dirinya tak terlalu jago bermain dan memang tidak ada gunanya.


"Berapa usiamu, Lia?"


Dia tiba-tiba menanyakannya saat akan menang.

__ADS_1


"Dua puluh empat." Usia Ilina dua puluh satu, tapi jika ia menjawab jujur atau sekitarnya, dia akan semakin curiga.


"Hanya satu tahun lebih muda dariku."


Jadi dia berusia dua puluh lima? Lebih tua dari perkiraan. "Jika usiamu hanya dua lima, bagaimana kamu tahu pembunuh orang tua Nona adalah Benedict Palmer?"


...*...


Pertanyaan yang sulit dihindari.


Sebenarnya mudah mengatakan bahwa kapal pesiar yang menenggelamkan kedua orang tua Ilina Bumantara dipelopori oleh Palmer. Tapi sepertinya dia menanyakan untuk memastikan.


Noah tidak tahu apa yang sebenarnya ada dalam pikiran rumit dia itu. Meski ia terus berusaha memperkirakannya.


"Ibuku," jawab Noah setelah mempertimbangkan. Itu tidak bohong. Sama sekali. Memang kenyataannya demikian.


"Ibumu?"


"Ya."


Diluar dugaan, dia tidak bertanya mengapa ibunya Noah bisa tahu.


Padahal Noah sudah menyiapkan jawaban tentang apa yang ia ketahui dari ibunya.


Sebelum ibunya pergi untuk mengamankan diri, Noah mendengar banyak cerita tentang keluarga Palmer.


Itu bukan keluarga yang sangat spesial atau memiliki sejarah kotor khusus. Sama seperti keluarga kaya raya pada umumnya, mereka mempertahankan kekayaan mereka dengan berbagai cara dari depan layar maupun dari belakang layar.


Dari depan layar, terlihat keluarga mereka kaya karena kelancaran bisnis dan keluasan koneksi. Dari belakang layar, mereka mendoktrin anak-anak mereka untuk menghalalkan segala cara demi kekayaan mereka sendiri.


Sekali lagi, itu bukan cerita aneh atau baru bagi keluarga kaya raya.


Tapi normalnya orang lain akan bereaksi terhadap hal seperti itu.


Sedikit banyak dia pasti sudah menduga dari cerita Noah mengenai Benedict yang membunuh orang tua Ilina Bumantara. Kenapa gadis ini sedikitpun tidak bereaksi?


...*...


Sepertinya dia menunggu Ilina bertanya. Tapi ia tak mau karena itu cuma jadi celah.


Ibunya Noah masih hidup dan memiliki hubungan dengan Noah. Informasi yang diberikan Harja nyaris seluruhnya selalu benar, karena intelejennya berada langsung di bawah kuasa Mahesa Mahardika.


Pentingkah itu?


Biasanya Mahesa tidak akan menyembunyikan sesuatu tanpa alasan. Jadi bisa saja dia tidak tahu dan intel pun tidak tahu.


Namun yang lebih biasa, intel tahu segala hal.


Segala macam hal termasuk seorang anak yang menyembunyikan ibunya di suatu tempat lalu membuat seakan-akan dia dan ibunya sudah tidak saling kenal.


Untuk sekarang, Ilina akan berasumsi bahwa Mahesa Mahardika tidak tahu atau sengaja menyembunyikannya karena tidak penting.


Karena memang yang lebih penting adalah bagaimana langkah mereka selanjutnya setelah menyatakan perang.


...*...

__ADS_1


__ADS_2