Menolak Cinta Bos Mafia

Menolak Cinta Bos Mafia
60. Tersenyum


__ADS_3

Melihat dingin sikap putranya itu, Mama mengerutkan bibir. "Itu sangat mengherankan kenapa kamu benci dipuji orang."


"Aku hanya benci melihat mata yang memandangku sebagai alat. Mama tidak merasakannya? Fans-ku hanya melihatku seperti 'oh, dia Andreas Noah yang tampan dan kaya, andai aku bersama dia, aku bahagia'."


Noah meludah kesal.


"Aku benci wanita yang menunggu aku datang mengubah hidupnya. Aku tidak hidup untuk mereka."


Mama tertawa. "Tidak heran selera wanitamu seperti itu. Tapi akhirnya justru terus tertolak."


"Ilina memiliki apa yang tidak kumiliki, apa yang kumiliki dan apa yang ingin kumiliki." Noah tersenyum. "Itu yang membuat dia berbeda bagiku."


...*...


Dari dulu, Ilina menikmati yang namanya sepi. Ia sudah terbiasa hidup di dalamnya dan tidak pernah merasa itu buruk.


Tapi entah karena Harja dan Mutia sudah tiada, atau karena Mahesa sudah membuangnya, atau mungkin juga karena ia tak punya tujuan apa pun lagi, Ilina melihat kesepian ini berbeda.


Kesunyian yang melampui sunyi di hidupnya kemarin.


"Nona, Anda tidak menghabiskan makan siang Anda tadi. Anda pun tidak menghabiskan makam malam Anda kemarin. Jika Anda terus kekurangan asupan, imunitas Anda bisa terganggu."


Ilina menatap kosong piring makanannya, tak tahu lagi harus melakukan apa.


Apa, yah?


Apa kira-kira yang bisa membuatnya melupakan kesunyian ini?

__ADS_1


"Bawakan aku buku bacaan. Terserah tema apa."


"Habiskan dulu makanan Anda, Nona."


"Aku tidak lapar, Laras."


"Lalu, kamu bosan?" tanya suara lain yang tiba-tiba muncul itu.


Ilina mendongak terkejut, bukan karena Noah tiba-tiba datang, namun karena ia seharusnya bisa merasakan tapi terlalu merenung hingga tak sadar.


"Aku tahu kamu juga merindukan aku." Noah menyapukan ibu jarinya ke pipi Ilina. "Ada banyak hal menyenangkan yang bisa kita habiskan bersama."


Dasar terlalu percaya diri.


Ilina sudah malas menyuruh Noah pergi, jadi ia cuma berpaling, beranjak ke kamarnya untuk berbaring.


Tapi, bukan Noah namanya kalau dia tidak keras kepala. Sebelum Ilina bisa meraih pintu, tangan Noah sudah menariknya.


"Tidak tertarik."


Noah ternyata sedang sangat gila hari ini. Karena bersamaan dengan jawaban Ilina, dia tiba-tiba menggendongnya, hingga Ilina justru terpaku syok.


Belum cukup sampai di sana, tepat saat mereka melewati pintu keluar, sesuatu melesat secara bersamaan ke langit disusul suara letusan kembang api.


Ilina terpaku pada cahaya yang mendadak begitu terang di sepenjuru desa. Suara-suara bising dari letusan itu terdengar beruntun dengan pertunjukan cahaya di langit.


Lagi, lagi, lagi, dan lagi seolah tanpa henti.

__ADS_1


Suara yang ... jauh berbeda dari sepi di dunia Ilina.


"Nona-ku." Noah tak menurunkan Ilina dari lengannya, tapi justru membawa wajahnya pada Ilina. "Aku datang jauh-jauh ke tempat ini karena tidak ingin membiarkan kamu terkurung lagi."


Ilina tak bisa bersuara.


"Mahesa atau siapa pun, aku harap kamu melupakannya sekarang. Beri dirimu waktu. Aku dan kamu bisa saling menikmati."


.... Dasar bodoh.


Ilina membuang muka, tapi tak lagi mengatakan apa pun, termasuk minta diturunkan. Matanya tertuju lurus pada langit yang masih berwarna, membayangkan satu per satu hal di hidupnya kemarin kini sepenuhnya telah berganti.


"Aku ingin mempertemukanmu dengan Mama. Ayo."


Di depan wanita Korea yang asing bagi Ilina, Noah menurunkannya.


Wanita itu langsung mendekat, menyentuh wajah Ilina sambil tersenyum.


"Dia mengotori udara bersih desa hanya untuk menarik perhatianmu, Nona," ucap wanita itu. "Menurutmu dia masih harus berusaha? Bukan apa-apa, tapi itu mengkhawatirkan kalau dia membakar semua rumah di tempat ini besok."


Ilina diam.


Tapi kemudian tersenyum. Lama-lama semakin terlihat.


"Putra Anda memang tidak waras."


"Itu benar."

__ADS_1


Noah tertawa lebar. Tak menunggu waktu memeluk Ilina yang tak menghilangkan senyum di wajahnya.


*


__ADS_2