Menolak Cinta Bos Mafia

Menolak Cinta Bos Mafia
23. Gadis Yang Tajam


__ADS_3

Ilina tersentak. Terlonjak bangun meski tubuhnya lemah.


Spontan ia memegang lehernya, tersedak tanpa alasan jelas hingga kembali merasakan lonjakan detak jantung.


Tapi daripada peduli soal itu, Ilina menatap keberadaan seseorang yang duduk di lantai, tak bergerak ketika Ilina menarik tangan mereka agar lepas.


Apa yang dia lakukan?


Ilina merasa sangat lemah. Tapi tubuhnya memaksa untuk bergerak turun dari tempat tidur karena sepertinya sudah tidak ada Marissa yang dia bicarakan.


Ia tertatih-tatih meninggalkan kasur. Berusaha sangat keras karena tubuhnya serasa bisa ambruk seketika.


Begitu tiba di tempat tidur yang entah sejak kapan sudah rapi, Ilina kembali meringkuk. Menenangkan dirinya lantaran demam tinggi ini.


Apa karena perbedaan atmosfer di sekitar mereka? Atau karena ia memang agak lemah belakangan?


Ilina jarang makan sejak ada Noah. Ia berusaha makan sedikit dan tidak banyak variasi sebab pria itu terus mengawasinya.


Ilina juga tidak mengonsumsi banyak buah. Hanya makanan tidak sehat dari kaleng, makanan instan, dan berbagai macam tumisan berminyak sementara tidak memiliki banyak kegiatan berat kecuali membersihkan, cuci piring dan kadang-kadang mengikuti Noah keluar.


Pasti karena itu.


Sabar, gumamnya dalam hati. Aku harus sabar sebentar. Ada waktunya pergi. Cuma sebentar.

__ADS_1


"Lia."


...*...


Noah merasakan Lia beranjak, tapi ia tak bergerak karena ingin tahu yang dia lakukan. Ternyata dia cuma mau menjauh karena tak ingin ada Noah di sekitarnya.


Dirasakan dari langkahnya yang masih tertatih, Lia pasti masih belum menbaik sama sekali. Gadis itu hanya terganggu akan keberadaan Noah, padahal saat mengira ia Mahesa, dia tertidur pulas memegang tangannya.


Lia. Sedikitpun belum ada taktik Noah yang bekerja. Apa yang kira-kira bisa membuat dia sedikit terbuka?


Gadis biasa akan selalu luluh diberi perhatian. Jika tidak, mereka akan luluh dengan kekeraskepalaan dalam mengejar mereka.


Tapi dia cuma terus menatap dingin seakan-akan Noah mau membunuhnya.


"Lia."


"Aku hanga ingin menjelaskan bahwa aku di sana karena kamu menegang tanganku." Noah menyerahkan lipatan selimut tebal padanya. "Kamu meracau dan mungkin tidak sadar. Aku bersumpah tidak melakukan apa pun."


Lia menerima selimut itu dan berbaring tanpa melihat Noah lagi.


"Lia, makanlah sebelum tidur."


"Aku tidak suka makan saat sakit. Tidak suka bicara dan diajak bicara."

__ADS_1


Apa pernah dia suka?


Noah tetap memberanikan diri mendekat.


Ketika Lia langsung mengarahkan tangan untuk mencekiknya, Noah hanya menyentuh lembut wajah gadis itu.


"Aku mengkhawatirkanmu." Noah mengusap samar satu telapak tangan Lia yang ia tahan. "Aku hanya ingin memastikan kondisimu. Kumohon, Nona. Aku tidak memiliki maksud lain."


Tangan dia masih kuat.


"Aku tahu kamu menganggapku berbahaya dan bisa saja melukaimu. Tapi jawab aku, Lia. Jika aku berniat melukaimu, kenapa aku harus repot-repot menunda itu? Aku bisa melakukannya sekarang."


Dia menarik tangannya, meski agak kasar. "Aku benci pria sepertimu. Berpura-pura melakukan sesuatu yang tidak ingin kamu lakukan lalu bersikap seakan kamulah korban."


"Bukankah kamu juga sama?"


"Aku tidak berpura-pura." Lia berbaring. "Aku menganggapmu tidak penting untuk tahu tentangku."


Apa itu berarti 'lakukan sesukamu'?


Noah agak tersenyum tipis. Memasangkan selimut tebal pada Lia sebelum meninggalkannya.


Dia ... tajam sekali melihat sesuatu.

__ADS_1


...*...


__ADS_2