Menolak Cinta Bos Mafia

Menolak Cinta Bos Mafia
15. Logika yang Kejam


__ADS_3

"Setahuku wanita desa lebih lekat dengan sifat keibuan."


"Tidak semua orang kota memiliki rumah sebesar istana atau tinggal di tower tinggi."


Noah tersenyum samar. Artinya tidak semua orang sama.


"Kurasa benar." Matanya menatap sekitaran dan menemukan sebuah gerobak ice cream. "Lia, kamu ingin ice?"


"Tidak."


Cepat sekali menjawab. Dia bahkan tidak melirik tempat yang Noah maksudkan. "Akan kubelikan satu. Permintaan maaf karena sikap asistenku."


"Tidak."


"Kamu marah padaku?"


"Tidak."


"Lalu kenapa?"


"Tidak."


"Kamu mendengarku, Lia?"


"Tidak."


Noah menutup mulutnya dan samar-samar tersenyum.


Lucu.


Menggemaskan sekali.


Tapi Noah merasa ini adalah batas. Jika ia terlalu memaksa dengan alasan usil, mata yang serius memusuhinya itu akan semakin dingin.


Dia sepertinya membenci segala sesuatu yang membosankan.


*


Ilina bersikap seolah Noah tidak ada di dekatnya. Hanya diam memandangi anak-anak itu bermain sambil membiarkan pikirannya mengawang-awang.


Keseruan dalam bermain, yah?


Ilina pernah berada dalam fase di mana ia bertanya mengapa dirinya berbeda. Ia merasa dirinya berbeda dari anak-anak di sekitaran yang bisa bersenang-senang dan menganggap segala hal menyenangkan.


Orang-orang seperti Susan dan juga mungkin sekarang Marissa cenderung sangat membenci Ilina tanpa ia pahami alasannya apa.


Kemudian, Ilina bertanya pada Mahesa. Dan jawaban yang Mahesa berikan ....


"Kamu anak luar biasa."


Lalu mengapa ia dimusuhi adalah apa yang Ilina tanyakan selanjutnya.


Mahesa menjawab, "Karena kamu luar biasa, kamu tidak akan pernah paham perasaan anak yang lahir biasa."


"Apa ... maksudnya?"


"Beritahu aku, Ilina. Butuh berapa waktu menghafal perkalian seratus sampai seribu?"


"Satu hari."


"Anak biasa membutuhkan waktu paling standar satu minggu menghafal perkalian satu sampai sepuluh. Usiamu baru awal belasan, tapi kecerdasan dan logikamu sudah berbeda. Membaur sekalipun tidak akan membuatmu bisa berteman dengan anak biasa."


Ilina merasa sedih waktu itu.

__ADS_1


Tentu saja anak-anak sepertinya juga berharap punya teman dan biasa bermain seperti biasa.


Dirinya muak dibenci, muak dimusuhi tanpa alasan.


Tapi Mahesa berjongkok, memberinya semangkuk marshmallow dan berkata, "Anak-anak itu tidak membencimu karena kamu berbeda. Mereka membencimu karena secara alami kamu meremehkan mereka. Tidak apa. Jika kamu tidak punya teman, maka tidak perlu berteman. Bukankah tidak menyenangkan berteman dengan mereka yang tidak setara?"


Lambat laun Ilina jadi mengerti bahwa memang ia tak membutuhkan teman itu. Dirinya bisa hidup tanpa teman.


Tentu saja lelah, tentu saja muak, namun dirinya bisa melakukan apa pun.


"Lia."


Kaca lamunan Ilina pecah oleh panggilan samar itu. Ia melirik, dan Noah mengedik padanya.


"Ayo kembali," kata dia lagi. "Aku lapar."


Ilina beranjak. Meninggalkan taman dan ayunan tempat ia melihat anak-anak itu untuk ikut ke belakang Noah.


Pikir Ilina, Noah yang waspada itu sulit ditebak. Tapi ternyata Noah yang pura-pura tidak waspada jauh lebih sulit ditebak.


Sikap lunaknya pelan-pelan semakin terasa. Itu membuat tenggorokan Ilina serasa diganjal sesuatu yang menjijikan. 


Apa maunya? Kenapa dia terus merayu Ilina?


Haruskah ia bunuh saja orang ini, karena sepertinya dia mati atau tidak, tidak akan menyurutkan rencana Ilina?


Baik.


Ayo bunuh dia jika sekali lagi dia merayu. Sekali lagi dia mengatakan sesuatu yang menjengkelkan, Lia tidak akan peduli siapa dia. Jadi sekali lagi, tidak akan ada konsep menahan diri.


*


Jika ada satu lagi kelemahan Lia yang Noah dapatkan, maka itu adalah ... ketidakmampuannya dalam menahan haus darah.


Seolah dia sedang berpikir, 'bergerak ke kanan, bunuh, bergerak ke kiri, bunuh, berbalik, bunuh juga'.


Dia dibesarkan jadi pembunuh atau bagaimana?


Noah merasakan bahaya yang intensif. Ia tak lagi mengajak Lia bicara, masuk ke apartemen yang untung saja sudah tak ada Marissa.


Niat Noah tadinya mau mengajak dia masak bersama, tapi ia urungkan karena mata itu.


Noah hanya masuk ke kamar, berganti pakaian dengan sesuatu yang tak berbau.


Instingnya mengatakan Lia sedang dalam mode jangan dirayu.


Gadis itu berkutat di dapur sendirian. Sudah bisa memasak di kompor, membuka kaleng daging cincang, menumis dengan teflon, lalu menyajikannya di piring.


Sebenarnya masakan dia enak. Tapi bumbu dan cita rasanya tradisional.


Noah masih tak tahu kenapa ia berpikir dia Ilina Bumantara, tingkah dia sulit digambarkan sebagai pelayan biasa saja.


Mereka makan tanpa suara. Hanya memperdengarkan dentingan sendok dan piring.


Tentu saja Noah mengamati. Posturnya lagi-lagi sempurna, tapi dia makan hanya dengan sendok dan gestur tangan biasa saja.


Sepertinya dia juga tak tahu cara menggunakan garpu atau sumpit.


Lia. Kenapa dia begitu misterius?


*


Orang yang mengawasi bertambah satu.

__ADS_1


Tidak, dua, kah?


Pagi-pagi ketika Noah kemungkinan masih tidur di dalam kamar, ada surat kecil yang diselipkan oleh Harja untuk Ilina.


Isinya mengatakan sekarang keluarga Palmer sudah tahu akan keberadaan gadis asing di apartemen Noah, dan mereka menambah satu pria untuk mengawasinya.


Tapi satu lagi pria mengawasinya bukan dari keluarga Palmer.


Pria asing yang bukan suruhan Mahesa.


Otomatis saja Ilina mencurigai dua orang. Gadis pemarah itu, dan Noah sendiri.


Keduanya tak menunjukkan tanda-tanda apa pun, tapi terkhusus Noah, dia memang mahir mengatur ekspresi wajah.


Sebuah keharusan dari kepura-puraan adalah tidak bolehnya adal ekspresi.


Jangan terkejut, jangan tersinggung, jarang marah, jangan kesal, jangan sedih. Jangan lakukan apa pun kecuali diam, mendengarkan, memikirkan, memutuskan.


Itu adalah sesuatu yang diajarkan Mahesa padanya.


Noah adalah orang yang paling mencurigakan. Namun yang memiliki motif adalah Marissa.


"Lia."


"Ya?"


"Apa itu juga perbuatan Nonamu?" Dia memperlihatkan berita di tabletnya mengenai kematian salah satu anggota keluarga senior keluarga Bumantara. "Dia bermaksud mengadu keluarga Bumantara dan Palmer?"


"Ya." Lia menatap nama yang tertera di layar sebelum Noah mengambilnya kembali.


Sulaiman Bumantara. Itu kakek Ilina.


"Kurasa Nonamu jauh lebih kejam darimu."


Ilina hanya menatapnya datar. Mulutnya terbuka, tanpa sedikitpun emosi berkata, "Nona berkata, emosi adalah kelemahan."


".... Aku berpikir sama." Dia membalas tenang. "Karena itu menyembunyikan emosi adalah keharusan."


Itu benar.


"Jangan menghormati." Ilina bergumam. "Jangan menghargai, jangan berbelas kasih. Jangan buat orang peduli, dan jangan peduli pada orang lain."


*


Logika yang tajam.


Seorang gadis tidak sepantasnya mengatakan hal semacam itu di usianya yang masih dua puluhan lebih.


Pantas saja dia bisa membunuh semudah itu, bisa berencana membunuh seseorang semudah itu.


Sejak awal dia memang tidak menganggap siapa pun di depannya manusia.


Dia tak minta dianggap manusia. Dia tak minta dihargai, dihormati, dipandang atau dikasihi.


Sebagai balasan, dia pun tak akan melakukannya.


Bunuh yang perlu dibunuh, abaikan yang harus diabaikan, diam pada hal yang tidak berarti, awasi yang berpotensi merusak struktur hidupnya.


Bahkan kalau dia bukan Ilina, Lia sudah cukup menggambarkan sosok Ilina di kepala Noah.


"Kenapa ... Nonamu membantuku?"


*

__ADS_1


__ADS_2