
Ilina jarang berada dalam kerumunan. Seumur hidup ia menjadi Ilina Bumantara, tempat paling ramai yang pernah ia datangi hanyalah pasar kecamatan dan pasar malam yang diadakan di lapangan kecamatan pula.
Itupun terhitung jari.
Harja sudah diam-diam memberitahunya untuk masuk ke bus mana, tapi karena sulit melihat, Ilina butuh waktu menemukan bus yang dimaksudkan.
Pria di belakangnya sibuk mengawasi Ilina.
Ilina pun naik ke bus. Tak tahu di mana orangnya duduk, namun cukup tahu bahwa mereka memahami kesulitan Ilina.
Matanya buruk. Jadi mereka pasti menyiapkan tempat yang bisa diduduki tanpa harus dicari.
Di dekat pintu, ada dua kursi kosong. Segera Ilina duduk, dan Noah ikut duduk bersamanya.
Baru ia tahu bahwa anak buah Harja, Hariman, pergi membagikan karcis.
Ilina mengeluarkan uang pecahan yang seumur hidupnya baru pertama kali ia pegang langsung. Gara-gara matanya rabun, Ilina jadi tidak perlu terlalu banyak melihat sekitar.
Itu mengurangi respons yang juga dapat jadi informasi bagi Noah.
"Kamu memiliki rumah untuk ditinggali?" Ia bertanya seolah tak tahu.
"Ada." Noah memegang bahunya yang mungkin berdenyut sakit saat bus mulai berjalan. "Apartemen."
"Aku akan tinggal bersamamu. Menyamar sebagai asisten."
"Aku punya asisten."
"Asisten pribadi. Bukan urusan pekerjaan."
".... Pembantu?"
"Seperti itu."
Ilina sibuk menatap keluar. Kepalanya agak pusing, terus terang, tapi harus bersabar sampai mereka tiba di kota.
Agak keras usahanya untuk tidak banyak bergerak sebab Noah terus melihat.
Ia gugup. Bukan karena takut, tapi karena ini pertama kali dirinya pergi ke kota, meninggalkan lokasi persembunyian begitu saja.
Ilina sudah punya kekuatan yang cukup untuk melindunginya. Cukup bahkan untuk melindungi satu anak haram yang mau dibunuh oleh saudaranya sendiri.
Meski begitu, karena terlalu lama hidup di sana, ia sedikit merasa tak ingin pergi.
"Ada apa?"
Dia masih mencium kegelisahan itu meski Ilina sudah berusaha keras. "Hanya berpikir membeli kacamata baru."
...*...
Ilina merasa akan sakit. Entah karena Noah mengambil kesempatan mengamati celahnya dari sana atau karena perjalanan super duper panjang menuju kota memang sulit.
Ilina hanya tahu bahwa kondisinya buruk.
__ADS_1
Pikirnya Noah juga akan kesulitan. Tapi dia bahkan memutuskan tidak tidur lebih dari dua jam, lalu kembali terjaga memerhatikan Ilina.
Itu terasa seperti dia juga menghitung ritme napas Ilina.
Noah punya sisi menakutkan yang membuat Ilina terus waspada. Ketika dia mungkin tidak ingin tidur demi nyawanya sendiri, Ilina pun tidak ingin tidur demi keselamatannya sendiri.
Mahesa. Apa yang orang itu pikirkan saat mengirim Noah?
Menurut Ilina, tidak ada di dunia ini yang melampui kecerdasan Mahesa. Seseorang bisa memiliki gelar, bersekolah di universitas dunia, diakui dengan gelar nobel dan sebagainya, tapi orang itu tetaplah yang paling cerdas.
Panutan Ilina dan satu-satunya yang mengulurkan tangan ketika Ilina harus tumbuh diam-diam.
Apa yang dia inginkan dari anak haram ini?
Pertanyaan itu tidak terjawab bahkan ketika mereka tiba di sebuah bangunan apartemen tinggi lepas melewati sebuah perjalanan yang memakan hari.
Noah mengajaknya masuk tanpa banyak bicara. Masuk ke kotak elevator untuk pertama kali dalam hidupnya, lalu berhenti di lantai dua belas. Ilina mengikuti Noah dari belakang, diam-diam merasa sesuatu terasa aneh.
Intuisi adalah hal yang penting dalam hidup seseorang.
Ilina mengeluarkan sesuatu dari saku dalam kecil lengan bajunya, benda serupa suntikan super mini.
Nyaris bersamaan dengan Noah membuka pintu kamar, Ilina maju. Menancapkan benda itu ke tangan yang menjulurkan pistol kedap suara.
Tentu saja itu tidak cukup. Jadi Ilina memutar tangannya, mendorong dia masuk dan membukul kepala pria itu ke tembok.
"Maaf." Ia melepaskannya. "Mataku rabun jadi sulit memastikan bagian yang terluka."
Orangnya sudah tidak sadarkan diri, sih.
Bahkan kalau dia terluka, seharusnya orang yang mau membunuhnya mengirim satu atau dua cadangan lagi.
Karena jika ada mereka, Ilina rasa ia pun akan kesulitan.
Ilina pergi menutup tirai segera. Tak punya waktu untuk berpikir 'ternyata beginilah penampakan apartemen' karena sekarang masih ada kemungkinan mereka terluka.
"Bukankah sekarang kamu harus sedikit terbuka?" Ilina bertanya ketika Noah mengecek nadi pria itu.
Ada beberapa jenis racun yang Ilina bawa. Dia agak kurang beruntung karena racun di bawah lengannya mematikan.
Itu untuk keadaan darurat.
"Sidik jarimu tertinggal di tubuhnya, Lia."
"Itu berbahaya jika sidik jariku terdaftar."
Noah melipat kembali sapu tangan yang dia gunakan sebagai perantara agar sidik jarinya tidak tertinggal. "Dia mati."
Ilina tahu.
Dan dia juga akan terbakar, menghilang seolah tak pernah ada.
*
__ADS_1
Uwwah, menakutkan. Membunuh orang tanpa ragu.
Bukannya Noah kasihan, sebab orang ini mau membunuh mereka. Tapi seorang gadis muda yang usianya mungkin masih baru melewati dua puluh tahun bisa melakukan itu, agak menakutkan.
Instingnya juga tajam. Noah memang mencurigai ada orang dibalik pintu, tapi ia terluka. Jadi sulit untuk Noah menghindar.
Kalau Ilina tidak bergegas membunuhnya, Noah mungkin harus menahan sakitnya tembakan lagi atau bahkan mati.
Ia lelah dengan permainan ini. Bunuh membunuh, kedamaian sejatinya cuma omong kosong.
"Kenapa orang itu mencoba membunuhmu?"
Dia bertanya karena tidak tahu atau karena mau tahu?
"Aku tidak tahu," jawab Noah dengan kebohongan yang sebisa mungkin.
"Apa kamu berpikir Nonaku bekerja sama untuk jawaban omong kosong itu, Tuan?"
"Lalu mengapa Tuanmu bersembunyi, Nona?" balas Noah telak.
Lagi-lagi tanpa ekspresi.
...*...
Ilina tahu. Dia Palmer jadi dia harus mati karena berpotensi menjadi pesaing. Apalagi dia anak kepala keluarga.
Tapi maksud Ilina, apakah tidak ada cerita lain dibalik itu semua?
Mengapa keluarga Palmer repot-repot mencari tahu siapa anak haram kepala keluarga mereka? Mengapa orang ini, yang tidak mencoba terlibat tahu-tahu berusaha dibunuh oleh mereka?
Ada jawaban dari semua pertanyaan itu dan itulah yang Ilina tanyakan.
Tapi balasan Noah sulit untuk dibantah. Ilina bersembunyi tidak lain dan tidak bukan karena berbahaya baginya untuk diketahui. Meski sekarang ia sudah punya kekuatan, akan lebih aman baginya hidup damai di desa itu.
Noah juga diincar tanpa harus dia berbuat apa-apa. Itu hanya karena dia Noah dan dia Palmer.
Begitulah dunia mereka berputar.
"Tinggalkan mayatnya di sana." Ilina berbalik. "Nona sudah mengirim orang membantumu jadi mereka akan datang nanti malam. Untuk sekarang, kurasa kita berdua butuh istrahat."
".... Hanya satu kamar."
"Aku akan tidur di sofa," gumam Ilina.
Tak ada kalimat yang Noah berikan, hanya masuk ke ruang tidurnya begitu saja.
Ketika diam-diam Harja datang di tengah malam, Ilina langsung menerima obat yang dia berikan. Ia makan beberapa kunyahan roti, lalu berbaring meski sebenarnya tak nyaman.
Tubuh Ilina termasuk tinggi dan padat, jadi ukuran sofa dua orang tidak cukup menampung tubuhnya.
Sejenak ia bertanya-tanya untuk apa melakukan semua ini, tapi kembali ingat bahwa semua bukan karena Noah.
Ini karena Mahesa.
__ADS_1
...*...