
Tapi kenapa? Dia cemburu Ilina bersama Xavier?
"Ilina, kamu tidak menyukainya?"
Ilina menggeleng. Maksudnya ia suka dan tidak masalah.
Anehnya Noah menahan tangan Ilina dan tiba-tiba terlihat murung. "Jika tidak enak, jangan memaksakan diri. Aku akan buatkan yang baru."
Ilina memiringkan wajah. Kenapa dia begitu sensitif? "Aku ...."
Tidak. Jangan katakan sesuatu seperti itu.
Jangan memujinya.
"Akulah yang harusnya memasak." Ilina menepis tangan Noah. "Pergilah bekerja dan jangan pedulikan aku."
"Ilina."
"Aku tidak ingin kamu ikut campur pada urusanku." Ilina menatapnya. "Diamlah seperti yang selalu kamu lakukan. Bukankah kamu berpura-pura tidak bisa melakukan apa pun?"
Sebenarnya Ilina tak bermaksud bersikap dingin. Ia baik-baik saja mau Noah ikut campur atau tidak ikut campur.
Tapi ia ingin tahu bagaimana obsesi Noah akan bergerak memberontak.
Dia masih berpura-pura. Dia masih memasang tembok itu di sekitarnya.
Mungkin karena sejak dulu dia telah hidup dalam kebosanan itu, hingga Noah secara alami tidak dapat lepas.
Namun dia harus keluar dari sana jika ingin Ilina benar-benar melihat seperti apa dia.
...*...
__ADS_1
"Ada sesuatu yang harus kukatakan."
Xavier menutup pintu kamar Tabios dengan kakinya bahkan sebelum ia mendapat izin masuk ke kamar sang sepupu.
Akhir-akhir ini Bella sering mengikutinya, karena memang tidak banyak yang bisa mereka lakukan dalam kurungan dan batasan.
Anak itu tidak usah tahu apa yang akan Xavier lakukan. Karena mungkin ini sesuatu yang akan melukai dia sangat dalam.
Di dalam sana, Tabios tersentak. Baru saja mandi dan bahkan belum melepas bathrobe ketika Xavier datang.
"Apa?" tanyanya di tengah rasa heran.
"Pergilah diam-diam."
"Apa? Ke mana?" Tak langsung Tabios mengerti.
"Paman."
"Benar."
"Kamu gila?"
"Kurasa." Xavier tersenyum.
Itu membuat Tabios tersentak, sebab Xavier nyaris tak pernah tersenyum tanpa sebab sejak ibunya pergi.
Mungkin itu perubahan seorang anak yang ditinggal oleh kekasih pertamanya. Xavier yang dulu, meski memang sudah dingin dan menyebalkan, tetap saja masih terlihat seperti manusia berkat ibunya.
Dia tahu cara tertawa, tahu cara tersenyum dan bersikap hangat.
Namun kematian ibunya merenggut senyum Xavier. Dia mengikuti jejak Benedict sesuai pesan ibunya dan hidup sebagai laki-laki tanpa hati kecuali hanya untuk Bella.
__ADS_1
Melihat dia tersenyum, itu aneh. Ada banyak yang mau Tabios tanyakan, tapi ia memikirkan sesuatu.
"Apa Bella bersamaku?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena Bella putri ayahku dan adikku."
Jawaban itu mengisyaratkan hal yang Tabios pikirkan.
"Xavi."
"Pergilah." Xavier mendekat. Menepuk bahu Tabios dan kembali tersenyum samar. "Akan kukatakan ini. Bunuh dirimu jika ada dendam di sana."
Napas Tabios memburu. Hanya terpaku tanpa bisa bergerak sampai Xavier pergi, meninggalkan sebuah pesan terakhir.
Dasar bodoh, bisik Tabios kesal. Namun tak bisa melakukan apa pun saat Xavier sendiri sudah memutuskan.
...*...
Ilina tidur lebih cepat malam ini. Berbeda dari kemarin, ia dan Noah tidak tidur berpelukan.
Sepertinya dia memutuskan tidur di sofa bawah sementara Ilina tidur di tempat tidur atas.
Namun malamnya, Ilina terbangun oleh lantunan suara lembut dari nyanyian di atas melodi piano. Sontak, Ilina terduduk. Mengintip dari pinggir tempat tidur yang memang tidak menyisakan apa pun selain pembatas kaca, hingga mudah bagi Ilina melihat Noah tengah duduk di depan piano.
Ilina tidak banyak tahu soal musik. Tapi sewaktu ia kecil, Mahesa beberapa kali menyanyikan melode dari lagu klasik untuknya.
Lagu itu bercerita tentang seorang gadis yang merayu seorang pria, namun meninggalkan pria yang telah dia rayu dalam perasaan dalam seorang diri.
__ADS_1
...*...