Menolak Cinta Bos Mafia

Menolak Cinta Bos Mafia
35. Peraturan Mutlak


__ADS_3

Noah tersenyum dengan semu merah di wajahnya.


Dia seperti pria yang sudah dimabuk asmara sampai tak peduli pada apa pun kecuali mata gadis yang dia cintai.


"Ilina." Dia mengucapkan namanya seolah-olah tidak ada nama yang lebih cantik di dunia selain nama itu. "Apa sekarang aku sudah terlihat?"


Diam-diam, Ilina terkejut.


Jangan katakan dia melakukan ini agar terlihat di matanya? Hanya untuk itu?


"Ilina, lihat aku."


Noah berlutut. Membuang pedangnya dan meraih tangan Ilina meski itu membuat darah di sana mengotori tangan mereka.


"Lihat aku juga. Aku membunuh mereka untukmu. Aku menari untukmu. Bisakah sekarang aku juga terlihat?"


Pria ini ....


"Senior melihatmu."


"Aku hanya ingin kamu."


Ilina meraih pipi Noah untuk mendongak padanya. "Kamu menipuku, memberiku pekerjaan hanya karena kamu tidak peduli, lalu sekarang aku harus peduli padamu?"


Dia masih tersenyum. Menggosok pipinya ke tangan Ilina meski darah di sana merembes ke bibirnya. "Maka hukum aku yang membuatmu marah."


".... Kenapa kamu menerimanya? Perlakuan tidak adil dari mereka dengan kekuatanmu ini. Benedict takut padamu. Mereka mewaspadaimu."


"Aku tidak peduli."

__ADS_1


Jadi begitu. Mereka berdua sama.


Dalam dunia ini, ada dua faktor penggerak bagi Ilina dan sepertinya juga Noah.


Ketidakpedulian atau obsesi.


Ilina bergerak meninggalkan desanya bukan karena ia peduli pada Noah atau cerita Noah. Itu semua hanya obsesinya pada Mahesa.


Dan pria ini melakukan hal sama. Dia bergerak untuk ketidakpedulian.


Melimpahkan segalanya pada Ilina karena dia tidak peduli bahkan secuil pada keluarga Palmer.


Kepalsuan dan kemunafikan yang sempurna.


"Ilina." Noah mendekatkan wajah mereka hingga terlihat betapa bersih wajah tampannya.


Dia sedikitpun tidak memiliki beban, bahkan kantong mata, meski Palmer menyerang mereka. Dia tidur nyenyak setiap malam.


Ilina tertarik.


"Aku tidak mau."


Tapi bukan berarti Ilina akan setuju.


"Aku tidak membutuhkanmu." Ilina menarik tangannya dari Noah. "Bunuh mereka, Noah. Hancurkan saja semuanya. Karena meskipun kamu membawakan bulan ke kakiku, aku tidak peduli padamu."


Gadis itu beranjak.


"Sudah kubilang. Jangan menghargai, jangan memberi penghargaan. Jangan berbelas kasihan. Itu mutlak."

__ADS_1


...*...


"Nona."


Harja dan Ayana harus muncul sekarang setelah terang-terangan Noah menghabisi penyusup hingga terjadi adegan baku tembak.


Jadi sebelum itu terjadi, Ilina mencari mana pria yang tadi ia lempar dengan jarum bius.


"Dia hidup." Ilina mengambil uluran suntik dari Ayana dan memberikan penawar pada pria itu agar segera sadar. "Bawa pria ini dan buang ke tempat jauh."


Tentu saja Ilina menyuruh Ayana menulis pesan di atas kertas lalu diselipkan ke tubuh pria tersebut.


Isinya : pergi dan beritahu Benedict bahwa yang melakukannya adalah Noah. Kembali padaku dalam keadaan hidup atau keluargamu lenyap.


Setelah menyerahkan hal itu pada Harja, Ilina melepas pakaiannya begitu saja.


Menerima dress yang diberikan Ayana, memakai kacamata hitam, bermaksud menyamar sebagai orang lain dari pemukiman elit ini.


Ilina sempat menoleh pada Noah yang tampak murung di sana. Dia belum bergerak, tapi sepertinya Ilina tidak perlu peduli.


"Jika dia bermaksud menyerahkan diri pada polisi, seret dia padaku."


Ternyata Noah belum bermaksud menyerahkan diri. Karena sewaktu Ilina turun dengan Ayana melalui tangga darurat, pria itu muncul, lengkap dengan setelan baru dan suara ledakan kecil beruntun.


Bibir Ilina hanya mau diam darinya, tapi terkejut begitu tubuhnya ditarik, tiba-tiba melayang dengan bertumpu pada lengan kokoh Noah.


"Akan lebih cepat," kata dia tenang.


Berlari menuruni tangga bersama Ayana yang mengikuti mereka.

__ADS_1


Nampaknya ... dia belum menyerah.


...*...


__ADS_2