Menolak Cinta Bos Mafia

Menolak Cinta Bos Mafia
45. Bahasa Bunga


__ADS_3

Ilina menatap bingung pada vas bunga asing yang tahu-tahu ada di sisi tempat tidur saat ia keluar dari kamar mandi.


Ditatap sekitarannya yang tidak menampilkan siapa pun, namun jelas ia tahu siapa pemberinya.


Perlahan, Ilina mendekat. Menyentuh permukaan bunga matahari putih tersebut.


Ada tiga batang bunga, samar-samar tercium aroma Noah pada vasnya.


Bunga matahari.


Ada banyak makna dari bunga tergantung kultur dan kepercayaan seseorang. Namun Ilina memikirkan arti dari bunga matahari putih menurut kepercayaan orang Jepang.


Noah memakai kata Oto, bahasa Jepang, untuk organisasinya.


Ryo untuk anak buahnya.


Jadi jika bunga matahari putih diartikan menurut bahasa bunga orang Jepang, maka ....


Kamu indah. Aku hanya melihatmu. Begitu, kah?


Tiga bunganya mengisyaratkan pengakuan cinta.


Ilina mengarahkan tangannya untuk mengambil bunga itu. Buang saja, pikirnya otomatis.


Akan tetapi tangannya berhenti, malah mengelus permukaan bunga itu, diam-diam tersenyum.

__ADS_1


Ilina menyukai bunga. Karena ada banyak hal tersirat di dalamnya yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang tertentu.


Malam hari ketika Noah kembali, pria itu berpura-pura tidak melakukan apa-apa.


Dia mandi, meletakkan makanan yang dia beli di atas meja, lalu naik ke tempat tidur tanpa berkata apa-apa.


Entah kenapa, itu membuat Ilina tersenyum kecil.


Duduk menikmati salad buah yang dibeli oleh Noah, dan untuk pertama kali benar-benar menghabiskan makanan yang disediakan untuknya.


Setelah merapikan sisa peralatan, Ilina ikut naik ke tempat tidur. Lagi-lagi merasa tergelitik pada Noah yang tertidur di sisi lain kasur luas itu, seolah dia tidak menyadari Ilina naik.


Ilina duduk di tepi kasur. Mengambil vas bunga tersebut dan melihatnya mulai layu.


Ilina mengambil sebatang bunga matahari itu, lalu meletakkannya di atas lengan Noah.


"Dalam bahasa bungaku, layu artinya lakukan yang lebih baik."


Berpura-pura tidak tahu bahwa Noah memerah, Ilina berbaring. Memejamkan matanya dan tertidur dengan perasaan aneh di sana.


...*...


Ilina terbangun tanpa Noah keesokan harinya. Apa yang ia dapati adalah meja makan yang diisi oleh sandwich dan vas bunga baru berisi sekumpulan tulip merah.


Ada sesuatu yang aneh dalam diri Ilina. Meski ia tahu Noah sedang merayunya lagi, ia tak merasa risi atau tertekan.

__ADS_1


Ini manis, gumam Ilina dalam dirinya sendiri.


Menggelitik kelopak bunga tulip itu sambil menikmati sandwich buatan Noah.


Dia pria yang melakukan sesuatu untuk orang yang dia cintai. Sepertinya memang bukan tipe pria yang suka berkata 'aku cinta' atau 'aku sayang'.


Apa Ilina harus menyukai dia juga?


"Nona?"


Ilina tidak tahu. Namun yang jelas baginya sekarang adalah ia harus menyelesaikan permainan ini dulu.


"Pria itu memberikannya padaku." Ilina menjelaskan sewaktu Ayana terkejut dengan sekumpulan bunga tulip di tangannya. "Apa aku harus membuangnya, Ayana?"


".... Itu indah dipelukan Anda, Nona."


Maka baik-baik saja.


Sambil mereka kembali mengarah pada lokasi taman Xavier Palmer berada, Ilina hanya duduk mendekap bunga tulip di tangannya.


Ia turun di dekat taman kali ini, karena nampaknya Xavier Palmer belum datang ke sana.


Di tepi danau yang sunyi, Ilina menikmati embusan angin dan aroma bunga menggelitik hidungnya. Tanpa sadar justru Ilina terlelap, agak merasa terbuai pada bagaimana ia dirayu hari ini.


*

__ADS_1


__ADS_2