
Mata Ilina seakan mau membelahnya.
"Apa maksudmu?"
Noah hanya menatapnya tenang. Lagi-lagi dia datang, memegang wajah Ilina dengan darah Benedict yang menggeliat di lantai.
Wajahnya terdongak menatap Noah. Dia benar-benar tidak waras. Pipinya malah memerah oleh semu asmara di tengah peperangan dan bau anyir darah yang bercampur dengan bau mesiu.
"Aku menyukai matamu." Noah membelai kecil sudut matanya. "Aku sangat menyukainya sekalipun matamu selalu terlihat dingin, Ilina."
Apa itu bisa jadi alasan mengapa dia mencegah Ilina menusukkan jarumnya pada Benedict?
"Aku tidak ingin matamu berubah atau tertuju pada pria lain."
Ilina menatap dia tanpa emosi. "Apa menurutmu tindakanmu akan membuatku menyukaimu?"
Noah malah meraih tangannya. Menuntun jarum itu ke leher dia tanpa sedikitpun kehilangan semu merah di pipinya.
"Aku sudah bilang aku cemburu pada Xavier."
"...."
"Aku sudah bilang tidak masalah diperlakukan seperti apa olehmu."
Noah menunduk, menyatukan kening mereka bahkan ketika Ilina bisa saja menusuk dia detik berikutnya.
"Jangan berikan tatapan matamu yang cantik pada pria lain, Ilina. Berikan padaku. Kebencianmu, dan apa pun setelah itu."
__ADS_1
Ilina hanya diam.
"Lihat aku." Noah menggosok pipinya ke tangan Ilina seperti kucing manja. "Lihat aku yang terobsesi padamu."
"...."
"Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian."
Mata Ilina melebar samar.
"Aku tidak akan pergi ke tempat yang tidak bisa kamu jangkau. Aku akan memegang tanganmu setiap saat. Jadi perlakukan aku sepuasmu, buat dirimu senang denganku."
"Akan kuanggap itu tidak pernah diucapkan oleh Noah."
Ilina terlonjak. Menoleh ke arah di mana pria berpakaian hitam melepaskan penutup wajahnya, hingga nampak sosok Mahesa Mahardika tersenyum menikmati pertunjukan mereka.
Pria itu terkekeh. Menepuk singkat kepala Ilina sebelum dia berlalu, mendekati Benedict Palmer yang berada dalam kurungan tangan Ryo.
"Ya, Ben. Kulihat kamu baik-baik saja."
"Mahardika!" Benedict menggeram marah. "Ini caramu berterima kasih atas semua kerja samaku?!"
Mahesa berjongkok. Menatapnya seperti serangga menggelikan. "Kamu ingat apa yang kukatakan saat orang tua Ilina mati?"
Kalimat itu membuat Ilina tersentak sekali lagi. Tentu saja mudah memahami bahwa Mahesa mengisyaratkan dia tahu rencana Benedict. Tapi itu seharusnya di usia Mahesa yang masih terlalu muda.
"Senior."
__ADS_1
Mahesa tertawa kecil. "Tenanglah, Ilina. Aku bukan bekerja sama dengan pria ini agar orang tuamu terbunuh lalu bisa memilikimu. Dari awal, orang tuamu menyerahkan kamu padaku."
Mulut Ilina terkatup.
"Tapi yah aku tahu rencananya. Dan masih terlalu kecil untuk berbuat apa-apa." Mahesa menepuk-nepuk pipi Benedict yang mengumpatinya. "Aku yang saat itu masih berusia di atas lima tahun berkata pada orang ini: kematian yang dibuat-buat membawa dendam orang setelahnya."
"Dasar bajingan!" Benedict berusaha menendang Mahesa namun tak mungkin bisa ketika dia bahkan tak lagi dapat melihat. "Semua idemu! Aku melakukannya karena hasutanmu!"
"Hasutanku yang mana? Mengenai Noah? Apa jika aku bilang ambil bola di atas gunung kamu akan melakukannya? Dasar bodoh. Biar kuberi tahu satu hal padamu, Orang Tua."
Mahesa menekan telunjuknya di kening Benedict.
"Kesombongan harus disertai pemahaman akan kerendahan hati. Jika otakmu tidak bisa memahaminya maka sampai di sana kemampuanmu."
Mahesa tersenyum remeh.
"Aku memang menggunakan Ilina menghancurkanmu. Aku akan menerima kekayaanmu dan Bumantara untuk keuntunganku. Apa aku berbuat salah, Ilina?"
Ilina tersenyum kecil. "Senior selalu benar."
"Dengar? Kesombonganmu hanya tentang harga diri. Tidak berguna sama sekali. Karena itulah Xavier memilih mati. Anak sombong itu paham apa itu kerendahan hati."
Setelah mengatakannya, meski Benedict mengumpat, Mahesa beranjak.
"Yah, dengan begini aku menyelesaikan hutangku dari Arman Bumantara. Jika bertemu dia, jangan lupa sampaikan salamku."
*
__ADS_1