
Apa yah namanya? Menikmati sesuatu yang berbahaya dan memicu adrenalin? Apa itu semacam kesenangan pria yang ia lewatkan selama hidupnya?
"Ilina Bumantara." Noah menarik napas panjang dan membelai bekas tempat Lia tidur seolah masih banyak tersisa bayangan dia di sana.
Apa dulu Noah salah membuat permintaan? Bukankah harusnya ia bilang 'menikah denganku'?
Noah terkekeh. Merasa dirinya sedikit gila padahal tidak mabuk.
Tapi perasaan mabuk itu harus ia hilangkan sejenak ketika terdengar suara aneh di balkon kamarnya.
Bergegas Noah beranjak, menemukan burung hantu yang menjadi alternatif lain pengirim pesannya hinggap di sana bersama secarik kertas di kakinya.
Tangan Noah bergerak membelai kepala Ola.
"Ilina," bisiknya pada bayangan di kepalanya sendiri. "Aku pun tidak menyukai kepedulian sia-sia. Bahkan jika semua orang mati di depanku, aku tidak akan pernah mau peduli apalagi membantu."
Burung hantu itu hanya menjadi saksi bisu bisikan Noah.
"Apa aku sudah terlihat sekarang?"
Dalam kepala Noah, sosok Ilina yang tak ia kenali hanya berbalik pergi seolah menjawab belum dan tidak akan pernah.
...*...
Katanya, saat gadis sedang jatuh cinta, maka dia akan gampang mempermalukan diri sendiri.
Kalau harus jujur, Ilina sependapat. Selogis apa pun dirinya selama ini, Ilina tahu rasanya mencintai pria dan memedulikan orang itu di atas segala-galanya, bahkan kadang diri kita sendiri.
Tapi tetap saja karena Ilina bukan berada dalam posisi Marissa sekarang, maka ia sebagai pengamat hanya merasa kasihan pada gadis itu.
__ADS_1
Padahal cantik, pergaulannya pasti juga luas. Kenapa malah terpaku pada pria yang senyumnya palsu dan segala ucapannya palsu itu?
Meski sudah bertengkar dan terang-terangan Noah menunjukkan tidak peduli pada pendapat Marissa, gadis itu masih datang mengurusi Noah. Apa karena Noah tampan makanya dia tak bisa menolak?
"Hei."
Ilina tidak menoleh.
"Aku bicara padamu, Lia—atau siapa pun namamu."
Baru ia menoleh. Tidak merasa harus bertanya ada apa.
Ekspresi Marissa tampak berusaha keras menahan kesal karena sikap Ilina. Namun dia menarik napas dan berkata, "Aku akan mengajarimu cara beradaptasi dengan kota, jadi ikuti perkataanku nanti. Mengerti?"
Tidak.
Ilina tidak pernah mengikuti perkataan siapa pun seumur hidupnya kecuali perkataan ia sendiri.
Kalau orang berkata benar, ia mengikutinya atas kehendak sendiri. Pertanyaan Ilina, memang dia ini apa?
"Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan dengan wajah menjengkelkanmu itu tapi dengar! Pergaulan Noah menentukan kariernya. Semakin orang lain menyukai dia, maka semakin baik dia di mata publik. Aku tidak ingin kamu malah menyusahkan Noah, menjadi beban bagi kariernya sementara kamu harusnya berguna baginya. Mengerti?!"
Beban.
Beban, yah?
Beban.
Tiga kali.
__ADS_1
Tiga kali adalah batas.
"Baik, Nona." Ilina tersenyum teduh. "Aku tidak akan menyusahkan."
Rupanya dia terkejut, tapi mengabaikannya dan meninggalkan Ilina untuk pergi menyusul Noah.
Hari ini Noah memang akan keluar untuk tampil di acara live music salah satu klub malam. Karena sementara waktu dia membatasi diri tambil di acara televisi, Noah berpindah menerima tawaran untuk menyanyi di live music.
Meski Ilina tidak tahu live music itu apa—ia cuma tahu secara bahasa—intinya dia tidak ditayangkan di televisi.
Kondisi Ilina memang sudah cukup baik untuk dibawa pergi.
Sementara Noah berdandan dibantu oleh Marissa, Ilina ganti baju dengan pakaian lebih modern. Ia diberi sebuah dress selutut yang bagian atasnya terbuka, hanya disangga oleh tali menyilang di leher.
Rasanya aneh melihat bayangan sendiri memakai baju yang juga asing. Tapi Ilina tidak terlalu peduli, menyisir rambutnya yang dilarang untuk dikepang cupu.
Tidak boleh pakai kacamata, katanya.
Ilina duduk menunggu sampai mereka keluar, lalu berdiri mengikuti tanpa melihat wajah mereka. Matanya tidak bisa melihat jelas, jadi buat apa juga?
Di mobil Ilina hanya menatap gemerlap lampu kota sambil mendengar suara Noah bersenandung. Dia nampaknya baru berlatih, memperdengarkan suaranya yang memang merdu dan ringan.
Untuk suara, Ilina suka suara nyanyian. Tidak mengganggu, tidak terlalu mencolok, terdengar nyaman.
Mendadak Ilina merasa seseorang meliriknya. Ia spontan menoleh ke arah Noah sedang menyetir, tak bisa melihat jelas apa benar dia melihatnya atau tidak.
Dia menyanyikan lagu dengan lirik asing, tapi Ilina paham artinya. Rayuan lagi, kah?
Ilina merasa tidak ada gunanya menanggapi. Ia memalingkan wajah lagi, sibuk memandangi kendaraan di luar sambil terus berharap mereka cepat pulang.
__ADS_1
Pasti membosankan.
...*...