Menolak Cinta Bos Mafia

Menolak Cinta Bos Mafia
28. Jangan Terlalu Bersuara


__ADS_3

Radit tergelak. "Kamu menggemaskan sekali. Berhati-hatilah. Tempat semacam ini membunuh kepolosan, terutama seorang gadis."


"Apa tempat semacam ini juga kerap terjadi kejahatan?"


Wajahnya agak bingung meski dia kembali tersenyum, menjawab, "Mungkin saja. Sebenarnya aku tidak boleh berkata seperti ini, tapi jaga baik-baik tasmu. Pencurian juga bisa terjadi. Walaupun jarang, setidaknya sepanjang aku bekerja."


Ilina menyesap minumannya dan agak berjengit dengan rasanya. "Apa ini?"


Dia tertawa. "Itu soda. Astaga, Lia. Kamu belum pernah minum soda? Aku tidak percaya."


Ilina membulatkan mata begitu polos. "Soda? Jadi ini yang namanya soda? Rasanya menggelitik lidah!"


Pria itu semakin tertarik. "Kamu sungguhan tidak pernah?"


"Tidak. Pengasuhku bilang ini berbahaya bagi kesehatan."


"Pengasuh? Apa orang di desa memiliki pengasuh?"


"Ya. Aku punya dua pengasuh. Tiga dengan pengasuhku yang posesif."


"Aku jadi ingin tahu siapa itu pengasuh posesifmu."


Ilina tertawa ceria. "Aku akan memperkenalkannya nanti kalau kamu mau."


"Aku penasaran."


...*...


Udara ... sedikit panas.


"Noah, ada apa?"

__ADS_1


Noah tak melirik Marissa. Fokus menatap ke arah Lia tertawa ceria bersama barista yang cukup ia kenal.


Di klub dia dipanggil Radit, dan ... entahlah, Noah tiba-tiba saja lupa dia siapa. Siapa, yah?


"Hei, Noah." Marissa menyentuh lengannya, tapi tanpa sadar Noah melirik dingin.


Hal itu langsung jadi alarm bagi Marissa. Dia menarik tangan, segera mengalihkan perhatian. "Kurasa kamu lelah. Ayo selesaikan ini dan cepat kembali. Lia pun mungkin sudah lelah."


.... Dia benar.


"Aku pun lelah, Marissa." Noah menghela napas. Berusaha tersenyum kecil. "Ayo cepat selesaikan. Oh, dan jangan lupakan kopiku sebelum pulang."


"Tentu saja."


Tentu saja.


Ayo cepat selesaikan agar Noah bisa bergegas mandi.


...*...


Tubuh Ilina panas.


Apa setelah minum soda memang tubuh seseorang panas? Ia tak tahu karena memang baru kali ini seumur hidupnya ia melihat sesuatu yang disebut soda.


Ia tak bohong karena Ayana memang melarangnya minum soda demi kesehatan.


Sambil berusaha berjalan mengikuti langkah Radit, Ilina tertatih-tatih. Kakinya lemas sekali. Tak tahu kenapa tapi Ilina merasa sesak napas.


Perasaan aneh apa di tubuhnya ini? Entah kenapa terasa familier juga tidak familier.


"Marissa, apa ini benar baik-baik saja? Kurasa gadis ini tidak layak diperlakukan seperti ini."

__ADS_1


Samar-samar Ilina mendengar suara Marissa dari telepon Radit. "Lakukan saja! Aku sudah membayarmu! Lagipula jika tidak selesai, kamu ingin Noah curiga?!"


"Ya, tapi—terserah. Aku melakukannya karenamu, mengerti? Setelah ini tidak lagi."


"Ya, ya, dasar cerewet!"


"Kalau begitu cepat kemari!"


Ilina terbatuk. Ia mendongak pada pria yang kini menatapnya sambil kembali tersenyum ramah.


"Apa tubuhmu baik-baik saja, Nona?"


"Panas." Ilina menjawab jujur. "Aku haus."


"Benarkah? Akan kubantu jika kamu mau. Kemari."


Ilina kembali mengikuti langkahnya, berusaha keras untuk bisa berjalan. Ketika mereka memasuki sebuah bilik yang ternyata adalah toilet laki-laki, Ilina kembali mendongak pada Radit.


"Apa baik-baik saja di sini?"


"Ya." Radit mendekat. "Baik-baik saja selama kamu tidak banyak berduara."


Ilina tersenyum lemah. "Kamu juga jangan terlalu bersuara."


Dia terkekeh gemas. Mengulurkan tangan untuk mengangkat dress Ilina lepas.


Dibiarkan saja pria itu menggantung dressnya, menyisakan dalaman di tubuh Ilina.


Tepat ketika tangannya akan menjamah, Ilina menancapkan suntikan mini yang sejak tadi ia rekatkan di telapak tangannya, dalam-dalam ke urat nadi di leher pria itu.


...*...

__ADS_1


__ADS_2