
Bukankah itu sudah jelas? Memang kenapa kalau mereka saling membantu atau apa pun itu omong kosong dia? Tidak peduli hubungan antara mereka baik atau buruk, yang penting hanya tentang membantai Palmer.
Noah mengalihkan mata dan tersenyum lemah. “Kamu sangat dingin.”
“Aku tidak memintamu memaklumiku.” Ilina diam-diam menarik tangannya dari tangan Noah.
“Kalau begitu setidaknya jawab pertanyaanku sedikit. Aku pun akan menceritakan sesuatu tentang Mahesa sebagai gantinya.”
Ilina diam sejenak. “Ya.”
“Kamu tahu Mahesa sudah menikah?”
“Ya.”
“Kamu tidak cemburu?”
Ilina menatap penuh permusuhan. “Kamu mengaku mengenal Senior tapi bicara merendahkan dia. Cemburu? Apa di matamu Senior manusia payah yang hidup untuk kelemahan?”
“Aku bertanya padamu. Aku tahu pernikahan Mahesa memiliki tujuan. Aku pun mengenali istrinya sebagai wanita yang ... entahlah, lembut dan menakutkan.”
“Tidak akan.” Ilina menyumpit sushi ke mulutnya meski sedikit kesulitan. “Jika Senior memilih sesuatu, itu berarti benar. Hanya itu.”
Sama seperti ketika Mahesa mendorong Noah mendekatinya. Tak peduli apa alasannya, jika Mahesa berkata lakukan, maka berarti itu lebih baik dilakukan.
“Sekarang giliranku.” Ilina hanya menatap makanannya agar tidak terlalu kentara ia bersikap dingin pada Noah. “Apa hubunganmu dengan Senior?”
“Dia melindungi ibuku.”
“Kamu bekerja untuk Senior.”
“Katakan saja seperti itu.”
Mencurigakan. Kalau dipikir-pikir, pria ini ... sebenarnya apa?
Maksud Ilina, dia tampaknya tidak terlalu aktif sebagai penyanyi. Dia cuma sekadar tampil, tidak terlalu terkenal kecuali soal wajahnya yang tampan.
Dia juga tidak pernah berlatih banyak. Tidak bolak-balik ke studio untuk rekaman, bermain gitar atau sesuatu.
Kalau diinggat lagi, dia bahkan tidak punya gitar, piano atau apa pun. Pekerjaan aslinya bukan penyanyi, tapi penghasilannya terlihat cukup stabil dari bagaimana dia santai dengan hidupnya.
Kalau begitu, apa pekerjaan dia sebenarnya?
...*...
Noah, kamu di mana?
Noah menatap chat yang dikirim oleh Marissa sebelum membalas.
__ADS_1
^^^Restoran. ^^^
Dengan pembantumu?
^^^Iya. ^^^
Tanpa menunggu balasan, Noah menepikan ponselnya dan melanjutkan makan mereka.
Ia tahu Marissa akan mengusiknya nanti, tapi nanti urusan nanti saja.
"Lia."
"Apa lagi?"
"Kamu akan kembali ke sana setelah semua selesai?"
"Tempatku memang di sisi Nona."
Nona, yah?
"Aku—"
Noah membatalkan ucapannya sendiri ketika Lia bahkan tidak mendengar.
Gadis itu sibuk memakai sumpit, mengerut-ngerut kesal karena tak terbiasa, lalu mengunyah dengan tenang begitu saja.
Noah batal mengajaknya bicara. Hidup dalam mengabaian membuat Noah tahu bahwa ketika seseorang menunjukkan ketidakpedulian, maka dia sunguh-sungguh tidak ingin memedulikan.
Sisa waktu makan, Noah memutuskan diam. Makanan mereka habis cukup cepat, membuat Noah segera mengajak Lia pergi.
Tapi ketika akan masuk ke dalam mobil sekali lagi, Noah memegang tangan Ilina, menunduk lebih dekat hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari telinga gadis itu.
"Aku ...," Noah menggelitik telapak tangan Lia yang tak bisa seenaknya menepis atau menarik diri, "..., aku merasa di suatu tempat, kamulah Ilina."
Dia hanya melirik tenang.
"Jika benar, kenapa ... kamu berbohong?"
"Kenapa aku harus menjadi Lia jika aku Ilina?"
Dia menarik tangannya dengan halus. Menjauhkan wajah secara alami dan masuk, mengakhiri permainan Noah.
Noah pun merasakan hal sama. Jika dia Ilina, mengapa dia harus menjadi Lia?
Tidak ada yang bisa memastikan identitas itu kecuali menelusuri desa. Tapi Noah tak bisa mendekat ke sana ataupun pada perempuan ini.
Dia menarik, namun saat mendekat, dia berduri.
__ADS_1
Dia menggoda, namun saat tergoda, dia berbahaya.
Aku, Noah menatap telapak tangannya yang perlahan mengepal dengan sensasi sentuhan mereka, mulai serakah.
Noah pikir dirinya cukup baik-baik saja. Ternyata sekembali dari sana, dua puluh menit berbaring di tempat tidur, ia tiba-tiba terbangun dengan napas berat.
Tenggorokannya terasa kering menemukan ia bermimpi tentang gadis desa itu.
Noah menelan ludah. Terbayang-bayang jika Lia yang begitu sensitif dan pemarah mengizinkan telapak tangan Noah mendarat di pinggangnya.
Jika ia mendekat, sedikit mendesak, apa dia akan tetap memasang wajah datar itu?
Tak ingin menjadi panas dan gila sendirian, Noah bangun. Masuk ke dapur untuk membuat minuman hangat.
Matanya diam-diam melirik tempat tidur Lia yang berada persis di dekat jendela kaca dan televisi.
Dia terlihat kedinginan dengan selimut tipis yang Noah berikan. Mungkin kulitnya tidak terlalu terbiasa dengan dingin AC ruangan.
Noah lagi-lagi membayangkan hal mustahil. Sesuatu seperti, ia mendekat untuk memasangkan selimut lain, lalu Lia yang tertidur pulas mengerang kecil, tak sadar bahwa Noah mengecup bibirnya.
Yah, di dunia nyata jika ia mendekat, racun koleksinya mungkin harus masuk ke tubuh Noah.
"Lia."
"Berhenti memandangiku, dasar menjijikan."
Lihat, kan.
"Aku hanya ingin menawarkan selimut." Noah berdiri di dekat tembok. "Kamu terlihat kedinginan."
"Pergilah."
"Aku akan mengambilnya untukmu. Jadi bisakah aku mendekat sebentar?"
"Tidak."
Noah sudah bilang, kan? Hatinya bukan es. Hatinya batu.
"Aku tidak akan bertanggung jawab jika kamu sakit."
"...."
Dia tidak mau menjawab lagi.
Noah beranjak ke kamarnya. Mengunci pintu sebelum ia menjatuhkan diri dengan napas terhela lelah.
Lia dan Ilina. Mengapa begitu sulit menjangkau mereka?
__ADS_1
...*...