
Dia mengerang terkejut, tapi Ilina segera mendorong kepalanya membentur tembok.
"Sudah kubilang jangan bersuara." Pria itu kejang-kejang. Reaksi alami karena dia tak dibuat pingsan saat racun memasuki tubuhnya.
Sebenarnya Ilina itu tipe yang gampang berterima kasih kalau merasa seseorang sudah melakukan sesuatu untuknya.
Jadi ia berjongkok, meraih pisau mini di bawah sepatunya untuk ditancapkan ke dada pria itu.
"Minuman buatanmu enak."
Ilina melakukannya berulang-ulang. Agar dia cepat mati dan tidak tersiksa.
"Kamu orang baik. Aku bisa merasakannya dari caramu tersenyum dan menatapku. Kamu menyukaiku? Nasibmu kurang beruntung. Kalau menyukaiku, lakukan sesuatu untukku, bukan melakukan sesuatu padaku. Di kehidupan selanjutnya, belajarlah berpihak pada orang yang berguna."
Darahnya mengucur deras ke mana-mana.
Padahal tadi Ilina sudah bertanya apa di sini kerap terjadi kejahatan. Kalau dia bilang tidak, pasti Ilina tidak akan membuatnya berdarah.
"Radit, apa dia sudah—AAAKKKHHH!"
Ilina menoleh. Melempar pisaunya dengan niat mau menancapkan itu ke leher, tapi matanya yang buruk malah membuat pisau itu lewat di pipi.
"Jangan berteriak."
Ilina beranjak. Keluar dari bilik itu untuk mendekati Marissa yang meringkuk ketakutan memegangi pipinya yang berdarah.
__ADS_1
Kini Ilina berjongkok di dekatnya.
"Aku tidak mengerti denganmu."
Matanya sayu, tapi juga memperlihatkan kebingungan yang dingin.
"Senior memberitahuku, bahwa hewan punya insting yang membuat mereka memahami siapa yang lebih kuat. Apa kamu tahu? Gajah lebih besar daripada harimau dan singa, tapi gajah adalah makanan sementara singa dan harimau adalah predator."
Tangan Ilina yang berbau amis darah bergerak mengetuk kening Marissa lembut.
"Apa kamu tidak bisa membedakan sesuatu seperti hewan? Kamu sepertinya sangat kesal kupandang sebagai serangga, tapi kamu bahkan tidak bisa merasakan insting seekor sapi dan kambing. Kenapa aku harus memandangmu sebagai manusia?"
"...."
Ilina mengelap tangannya ke pakaian gadis yang sibuk menahan napas itu.
Dia akan pingsan dalam beberapa saat.
"Namaku Ilina. Akulah yang membunuh keluarga Palmer dan kamu selalu meributkan hal sekecil itu sampai telingaku sakit. Mulai sekarang, bekerjalah dalam diam dan berhenti membicarakan hal bodoh. Mengerti?"
"Aku tahu itu kamu."
Ilina menoleh. Tidak terlalu terkejut.
Tubuhnya didorong tiba-tiba oleh Marissa yang berlari menuju Noah, masuk ke pelukannya dan menangis. Dia tampak menyedihkan saat dia memeluk orang yang sedikitpun tidak akan peduli.
__ADS_1
Sampai akhir dia tetap menjadi bodoh.
Pria itu menutup pintu. Sekilas, Ilina melihat seorang pria berdiri di depan pintu, memakai pakaian serba hitam.
"Lia. Ilina. Aku merindukanmu, Nona."
Noah menghempaskan tubuh asistennya begitu saja. Sesuai kata Ilina, dia pingsan, meski sekarang dia pingsan dengan kepala bocor akibat benturan sangat keras dan bukan pingsan menahan napas.
Kepala Ilina kembali berkunang-kunang. Ia membungkuk dengan tubuh lemah, nyaris terjatuh ke lantai jika Noah tak segera berjongkok, menangkap tubuhnya.
"Kamu berkeringat banyak. Kurasa bukan hanya aku yang panas malam ini."
Ilina ingin muntah. Segalanya terasa berguncang dan tidak terkendali. Sambil berusaha menarik napas dalam-dalam, ia melihat Noah tersenyum.
Senyum yang lebih tulus dari senyum biasanya.
"Tidurlah, Ilina. Aku akan membawamu pulang diam-diam."
Ilina merasakan sesuatu menutupi tubuhnya sesaat sebelum ia diangkat. Hal terakhir yang ia tahu adalah Noah memakai serbuk tertentu yang membuat aromanya menarik kesadaran Ilina hilang.
Sebelum benar-benar tak sadarkan diri, Ilina mendengar satu kata.
"Ryo."
*
__ADS_1