
Noah lelah berpura-pura bingung dia Lia atau Ilina.
Tidak ada yang bisa memastikan keadaanya, karena Ilina Bumantara bukanlah nama yang terdaftar di pencatatan sipil mana pun.
Fotonya tidak ada, akta kelahiran tidak ada, apa pun tentangnya tidak ada kecuali nama yang diberikan Mahesa secara lisan ke telinga Noah.
Dia hanya dikenal sebagai 'anaknya' Arman Bumantara. Bahkan keluarga Bumantara sendiri tidak tahu Ilina perempuan atau laki-laki.
Lebih mudah menyimpulkan anak itu tidak pernah ada daripada mencari tahu apakah dia pernah lahir atau tidak.
Sekarang dia mengungkapkannya sendiri.
Noah membawa Ilina keluar lewat pintu belakang yang sudah ia siapkan. Hanya butuh menjauh seratus meter dari gedung tersebut, suara ledakan bom terjadi, menerbangkan puing-puing hingga ke kendaraan di jalan.
Pergerakan Noah pasti akan terbaca. Sekarang ia benar-benar akan kesulitan bergerak seperti dulunya.
Yah, itu hanya berarti ia harus berhenti bergerak.
Lagipula Noah harus memikirkan asisten baru jika ingin tampil lagi. Meski ia menduga dirinya akan berhenti tampil di sini, memanfaatkan kasus ledakan bom tadi.
Dia pintar sekali, Ilina Bumantara.
Ataukah Marissa yang bodoh?
Jika Ilina tersenyum pada seseorang, maka itu berarti dia sudah memutuskan akan mengakhiri orang itu.
__ADS_1
Noah menghafal sensasinya sebab setiap kali dia tersenyum, bergegas Noah mundur.
Ini bukan kesalahan Marissa. Dia bisa menjebak seseorang dengan taktik receh itu jika saja orangnya bukan Ilina.
"Bos."
Noah melirik ke kaca spion, menemukan sebuah mobil mengikuti mereka dengan gelagat mencurigakan.
Itu bukan mobil penjaganya Ilina.
"Biarkan saja."
Mereka tidak menyerang, berarti cuma ingin membuntuti.
Darah di tangannya sudah Noah basuh. Memang tanpa ampun jika sudah menganggap seseorang musuh.
Jika Noah sampai dianggap sama seperti Radit, mungkin dia pun tidak akan ragu menusukkan belati ke jantungnya.
"Ilina." Noah sudah lama ingin memanggilnya dengan nama itu. "Lihat aku juga."
Fakta bahwa dia tak cukup sadar untuk menepis tangan Noah membuatnya sedikit lemah.
Untuk sekarang ia belum bisa meminta secara langsung. Ilina masih belum mau menatapnya. Dia masih fokus dalam dunia yang begitu dingin itu.
Itu sangat lucu hingga Noah ingin tertawa. Pada awalnya ialah yang mau memanfaatkan Ilina, namun dirinyalah yang bermain di telapak tangan gadis ini sekarang.
__ADS_1
Noah menumpukan keningnya pada tangan kecil gadis itu, menyadari untuk pertama kali, ia menyukai sebuah sentuhan kecil dari seorang manusia sungguhan.
Ibu ... mungkin akan terkejut.
...*...
Untuk kedua kali, Ilina terbangun di ruangan ini.
Bedanya, ia terbangun sendirian, dengan tubuh berbalut kemeja kebesaran seorang pria dan pintu kamar tertutup.
Ilina diam menatap langit-langit kamar Noah. Pelan-pelan mengumpulkan informasi mengenai berbagai hal di kepalanya.
Ryo. Siapa Ryo?
Pria berbaju hitam yang mengikuti Noah itu, dia jelas orangnya Noah dan bukan mata-mata bodoh yang mengikuti mereka.
Juga respons Noah terhadap perbuatan Ilina.
Bahkan jika Ilina tidak terkejut dengan kejamnya Noah melempar asisten cerewet itu, Ilina tetap merasakan tekanan.
Sebuah tekanan dari Andreas Noah yang mencekik.
Siapa dia? Apa yang dia sembunyikan dibalik punggungnya itu?
*
__ADS_1