Menolak Cinta Bos Mafia

Menolak Cinta Bos Mafia
12. Nona Tak Kenal Takut


__ADS_3

"Ada seseorang yang mengawasi di sekitar apartemen ini, Nona," ujar Harja yang datang memberikan informasi pada Ilina diam-diam.


Ilina sudah menduganya. "Hanya satu orang? Bagaimana profilnya?"


"Mata-mata profesional yang cukup sering digunakan beberapa orang di kota. Namun secara individu, kemampuannya tidak terlalu hebat. Saya rasa orang itu masih permulaan."


Hanya untuk memastikan, kah? Ilina akan bersembunyi dulu. "Awasi gadis asisten itu."


Dia terlihat punya perasaan setia pada Samuel namun ada banyak kemungkinan bahkan dibalik kesetiaan. Jadi tidak ada salahnya berhati-hati.


"Baik, Nona."


"Dan kirimkan beberapa keperluanku."


"Baik, Nona."


Setelah Harja pergi, Noah keluar dari kamar tanpa menyadari kedatangan seseorang.


Ilina berniat untuk membaca buku, tidak merasa harus membagikan informasi juga karena Noah tidak punya kekuatan untuk membantunya, tapi diusik oleh aroma sabun mandi yang menguar di udara.


Dia mengganti aroma sabunnya?


Lebih dari seminggu tinggal bersama, empat atau lima kali Ilina tiap hari menghirup aroma sabun mandinya. Noah punya selera wewangian yang lembut. Tidak pekat di udara, tidak keras tercium, hanya dapat terasa sekilas dan samar-samar.


Kenapa tiba-tiba?


Ilina terpaksa menoleh. Tak terlalu berekspresi menemukan pemandangan tubuh Noah tanpa kaus, hanya dililit oleh perban yang baru terpasang lagi sehabis mandi.


Tidak salah lagi.


Dia merayu.


"Barusan aku mendapat kabar kalau kacamatamu sudah bisa diambil. Kamu ingin keluar mengambilnya bersama?" tanya dia santai.


"Tidak." Ilina membaca buku lagi. "Aku akan minta orang suruhan Nona mengambilnya."


".... Baiklah."


Ingin rasanya Ilina menyuruh dia pergi ke kamar kalau memang tidak ada yang mau dia lakukan. Bukan duduk di sana memandangi Ilina dengan matanya yang menjengkelkan itu.


Sudah cukup ia tersiksa oleh tatapan Noah, tiba-tiba bel apartemen berbunyi. Noah langsung beranjak ke kamar memakai kausnya sebelum dia pergi membuka pintu untuk Marissa.


Wangi makanan enak yang dia bawa tercium, tapi Ilina lebih merasa muak karena pasti dia akan berisik.


"Noah, aku membawakan makan malam."

__ADS_1


Pergilah ke kamar, demi Tuhan.


...*...


Lagi-lagi ekspresi datar itu.


Marissa berusaha keras untuk menerima dia karena Noah, tapi bagaimana dia menatap seseorang tak lebih dari bagaimana dia menatap serangga tidak berguna itu sangat menyakitkan.


Noah dan dia sama. Marissa dibuat kesal karena rasanya Noah malah lebih tertarik pada dia dengan semua tatapam mata tanpa perasaan itu.


Berusaha terus abai, Marissa membukakan makanan untuk Noah.


Ia membawa lebih, tahu bahwa Noah bukan tipe yang akan makan sendiri lalu membiarkan tamunya tidak makan. Namun Marissa sengaja tidak mengajikan, karena untuk apa juga ia menyiapkan makanan pembantu?


Itu bahkan tugasnya.


"Noah, pembunuhan kedua terjadi." Marissa datang untuk membahas hal itu.


Tidak banyak yang tahu bahwa Noah adalah anak haram keluarga Palmer. Dia yang selama ini hidup dalam bayangan memang terpaksa harus diam seperti tikus untuk melindungi dirinya.


Namun, sekeras apa pun seseorang bersembunyi, kadang-kadang itu terbuka juga.


Bergabung dengan dunia entertainment membuat Noah disorot habis-habisan. Hanya butuh waktu kurang dari dua minggu, keluarga Palmer mengetahui keberadaannya.


Awalnya mereka diam saja. Tapi Marissa tak tahu kenapa sekitar sebulan ini tiba-tiba saja Noah berkata seseorang mengincarnya.


Melihat sekilas saja sudah bisa ditebak tidak mungkin itu kebetulan.


Tapi siapa dan kenapa?


"Benarkah? Siapa lagi yang mati?" balas Noah cuek.


"Berhenti membuat pertanyaan seolah yang mati hanya serangga. Aku serius, Noah."


"Maka berhenti serius pada hal tidak penting, Marisaa."


Marissa mendengkus. Orang ceroboh ini. "Memang tidak ada hubungannya dengan kamu siapa yang mati, tapi bagaimana kalau mereka mengincar keseluruhan Palmer termasuk kamu? Mereka memperlakukan manusia seperti binatang menjijikan. Bagaimana bisa kamu tenang di sini?"


"Lalu aku harus berbuat apa, Marissa?" Noah malah santai menyesap minumannya. "Selama bukan aku targetnya, tidak perlu terlalu mencemaskan mereka."


"Karena itulah aku bilang berhati-hati agar bukan kamu selanjutnya!"


"Aku berhati-hati."


Marissa menggigit lidahnya kesal. Noah selalu saja bersikap acuh tak acuh pada apa pun. Sedikit saja, apa dia tidak tahu bahwa orang lain menganggap dia penting?

__ADS_1


...*...


Callista mati.


Noah akui itu strategi gerilya yang menarik, tapi tidak ia sangka Lia dan Nonanya itu membabat Callista setelah Lucas.


Berbeda dari Lucas yang mungkin tidak terlalu disayangkan kematiannya oleh mereka, Callista disayangi oleh kakeknya dan merupakan anak dari bungsu tersayang keluarga Palmer.


Kematian Lucas sebagai pembuka lalu Callista sebagai pernyataan perang.


Si Nona itu tak kenal takut.


Apa mungkin si Nona yang entah di mana itu memiliki ekspresi sama dengan Nona yang ada di sini?


Dia yang berusaha mengalihkan diri dengan buku, menatap tanpa emosi ketika Noah datang memberikan boba ke tangannya.


Boba cokelat langganan Marissa itu enak. Meski rasanya sangat manis dan membuat muak setelah diminum, sejujurnya Noah cukup suka.


Apa dia akan mengubah ekspresinya jika diberi minuman manis yang mungkin belum pernah dia cicipi seumur hidup?


"Minum ini." Dengan sengaja Noah menyentuh punggung tangannya saat meletakkan gelas boba itu ke telapak tangan Lia.


Dia mengamati Noah setajam dia mengamati orang yang akan dia bunuh.


Mengapa orang yang mengaku pelayannya si Nona Muda memiliki kepribadian sebatu ini?


Maksud Noah, dia aman di desa terpencil yang bahkan tidak memiliki kompor gas itu. Haruskah dia dijaga oleh pengawal yang kewaspadaannya seperti sang Nona sudah pernah akan dibunuh berkali-kali?


"Apa orang tuamu tidak pernah mengajari cara berterima kasih?" Lagi-lagi, Marissa memprotes tak senang.


Noah melirik pada Marissa. Kenapa dia begitu terganggu akan keberadaan Lia?


Noah tahu bahwa Marissa menyimpan rasa padanya. Itu sudah cerita lama dan selesai dalam pembahasan tidak bisa sebab Noah tidak menyukainya.


Namun Marissa terlalu agresif. Apa dia hilang akal karena cemburu? Atau karena dia juga merasa ada sesuatu yang terlalu berbahaya dari perempuan ini?


Terlepas dari bagaimana, Marissa adalah orang yang berpihak pada Noah sejak lama. Dia satu-satunya yang tahu nama Palmer di nama Noah dan marah-marah karena sikap tak adil hanya karena Noah anak haram.


Meskipun hanya secuil rasa, Noah berharap Marissa tidak terlalu banyak tingkah. Karena gadis ini nampaknya tidak akan merasa bersalah jika membunuh Marissa yang menyebalkan.


"Itu manis." Noah menarik tangannya lembut hingga timbul gesekan halus di kulit mereka. "Minumlah lalu bereskan dapur."


Agar Marissa berhenti merasa dia terlalu dimanjakan padahal dia pembantu.


"Marissa, ikut aku."

__ADS_1


...*...


__ADS_2