
"Kamu menyukai permen?" Di malam hari mereka sudah kembali ke apartemen dan asistennya yang cerewet itu pergi, Noah tiba-tiba bertanya.
Ilina menyukainya. Memang kenapa?
"Kamu terlihat sedikit lebih nyaman hari ini, Lia. Aku akan membelikan permen jika itu membuatmu merasa lebih baik."
Ilina berbalik tak peduli. "Tidak, terima kasih."
Tapi Ilina terlalu senang untuk terlalu peduli pada orang tidak penting itu. Ia duduk di kasurnya, menggenggam tangan satu sama lain.
Sudah lama tidak bertemu.
Apalagi sejak dia menikah, Mahesa bepergian kesana-kemari meninggalkan negara ini. Jika saja Ilina tidak bersembunyi, ia bisa selalu mengikuti Mahesa seperti semua orang yang mendampinginya.
Ia bisa membantu.
...*...
Ilina tersentak dalam tidur tiba-tiba. Ada sesuatu bergerak di dekatnya. Siapa?!
"Aku."
Ilina terengah-engah dengan jantung berdebar keras. Gejala yang muncul tentu saja saat orang disentak dari tidur tiba-tiba oleh perasaan terdesak dan bahaya.
Kenapa tiba-tiba Noah berada di dekat tempat tidurnya, mengulurkan tangan seolah—
"Tenanglah, Lia." Noah bergumam rendah. "Aku hanya bermaksud meletakkan kopi. Hanya itu."
Ilina menoleh. Agak terlalu fokus pada keterkejutan dan ancaman untuk menyadari bahwa Noah membawa gelas putih berisi kopi panas yang jatuh di atas kasur Ilina.
Lagipula kenapa tiba-tiba pagi seperti ini, sebelum jam enam menyapa, dia sudah keluar membuat kopi? Biasanya dia keluar jam delapan!
"Maaf."
Ilina terganggu dengan wajah tak berdaya Noah itu. Sekarang apa lagi permainannya? Sudah merayu dengan cara sombong sekarang dia merayu dengan wajah lemah?
"Aku memperingatimu." Ilina mengeraskan cengkramannya. "Jangan dekati tempat tidurku lagi."
Dihempaskan tangan pria itu menjauh, beranjak buru-buru ke kamar mandi. Jantungnya masih berdebar keras. Agak sakit dan mengganggu lantaran tiba-tiba disentak.
Sambil memejamkan mata untuk tenang, Ilina menggenggam permen pemberian Mahesa. Pelan-pelan merasa lebih tenang.
Orang itu tidak berguna. Ilina akan membunuhnya setelah selesai dengan tujuan datang ke sini. Tapi jika dia merayu dengan cara seperti kemarin, Ilina akan langsung membunuhnya di tempat.
Ilina memegang lehernya. Terasa seperti sesuatu mengganjal dan menjijikan lagi.
__ADS_1
Itu adalah doktrin yang Mahesa Mahardika berikan demi keamanannya.
Jangan percaya siapa pun, jangan biarkan seseorang mendekat dari belakang. Siapa pun itu, tidak peduli siapa, bahkan Mahesa sendiri, bisa saja mengarahkan senjata ke lehernya baik dari depan atau dari belakang.
Nyawa manusia begitu mudah melayang. Daging dan kulit mereka lembut seperti kapas.
Karena itu, selalu berhati-hati dan tidak percaya pada siapa pun.
...*...
Noah melirik gadis yang menepi di sudut ruangan itu. Sejak pagi dia duduk di sana, tidak menatap buku atau mencatat, namun termenung dengan waspada.
Ini kesalahan Noah. Harusnya ia tahu bahwa gadis yang tidak mau dirayu jelas saja gadis yang dikelilingi rasa waswas.
Niat Noah untuk pergi keluar batal, daripada ia membawa Ilina pergi dengan penjagaan level tingginya itu. Untung saja Noah meminta untuk tidak menerima tawaran yang terlalu tinggi. Noah cuma ingin keluar agar tidak terlihat ia sangat tahu serangan di keluarga Palmer.
"Lia."
Gadis iru menatapnya lebih dingin dari biasanya.
"Aku mengakui kesalahanku. Melihatmu tersenyum kemarin, kupikir—"
"Aku tidak pernah memintamu melihatku tersenyum."
Lia bahkan tidak melihatnya seperti manusia. Dia melihat Noah seperti tembok.
Noah memejam dan menghela napas.
Ada apa dengannya? Kenapa pula ia terlalu agresif padahal tahu gadis ini pernah mau membunuhnya bahkan sebelum dia tahu nama Noah.
Ilina Bumantara membunuh dua anak buahnya dan satu orang dimutilasi sebagai bentuk peringatan.
Gadis ini tidak akan berterima kasih oleh sikap baik.
"Aku akan mengingatnya." Noah menarik senyum tulus. "Kuharap kali ini saja kamu memaafkanku."
Dia tak menjawab, bahkan tak terlihat peduli.
...*...
Aroma cendana.
Ilina melirik ke arah aroma itu datang yang tak lain adalah kamar pemilik unit apartemen ini.
Ternyata memang palsu. Memasang wajah bersalah dan terluka, tapi masih terang-terangan merayu.
__ADS_1
Jika dia memerhatikan senyum Ilina, maka dia tahu senyum itu ia tujukan untuk Mahesa yang menyukai wewangian alami seperti kasturi, cendana, tembakau dan cengkeh.
Tapi sialnya rayuan dia kali ini terlalu halus.
Wangi cendana adalah salah satu wangi favorit Ilina. Di tempat asing yang sekarang dalam suasana tegang ini, ia merasa lebih nyaman menghirup udara yang diwarnai dengan aromanya.
Dirinya harus bergegas menyelesaikan ini agar pulang dan kembali hidup normal.
Sekarang ... mungkin sebaiknya mereka mulai memasuki inti peperangan.
...*...
Mahesa memang kelemahannya, kah?
Noah tak terlalu senang, tapi ketika ia mendekat dengan aroma khas Mahesa, Lia bahkan terlambat dua detik untuk waspada.
Hanya dua detik, memang, tapi biasanya dia tajam dan tangkas.
Berpura-pura seolah tak terjadi sesuatu, Noah memperlihatkan kematian saudara laki-laki dan saudara perempuan Benedict Palmer di sebuah klub malam yang berbeda.
Dua-duanya tewas dengan dugaan yang sama. Overdosis heroin. Waktu mereka tewas berselisih beberapa jam, namun ada di malam yang sama dan sama-sama di klub malam juga.
Kini seluruh pergerakan keluarga Palmer sudah dibatasi. Nyaris tidak ada yang bergerak bebas lantaran menghindar dari kemungkinan pembunuhan.
Pergerakan Ilina yang semula membunuh lewat dalih bunuh diri, lalu jatuh ke jurang, lalu membunuh rekan bisnis dan sekarang dua dari saudara Benedict sudah cukup untuk jadi pesan.
Entah bagaimana caranya. Entah di mana mereka berada. Kapan saja Ilina mau, mereka mati.
Kematian adalah sesuatu yang membuat siapa pun takut.
Siapa pun itu, tidak peduli sebanyak apa harta yang mereka kumpulkan.
Benedict orang yang licik, tapi dia pun tak bisa menjamin keselamatannya sendiri hingga mau searogan apa pun mereka, mereka harus diam.
"Kurasa sekarang mulai sulit bergerak menyerang mereka secara langsung." Noah memberi pendapatnya. "Aku tahu intel yang melindungi Nonamu itu milik Mahesa Mahardika. Aku memahaminya dengan pasti sehebat apa mereka dibawah bimbingan Mahesa. Tapi kekuatan bukan hanya milik Nonamu di dunia ini. Jadi dia harus tenang untuk sekarang."
"Kamu benar." Dia menatap daftar anggota keluarga Palmer seolah semua itu hanya susunan batu di jalanan. "Biarkan mereka berselisih dengan Bumantara sekarang. Target selanjutnya hanya dia."
Noah berhasil tidak memperlihatkan keterkejutannya.
Orang yang dia tunjuk bukan Benedict. Dia menunjuk putra Benedict, anak kesayangannya yang Noah tahu punya kemampuan hebat.
Oto menyerahkan dokumen sesuai permintaan. Meski tidak ada nama Ilina Bumantara, Oto harus menyerahkan kata 'anak dari Arman Bumantara' yang menghilang sejak sebelum dilahirkan.
Jika itu Xavier Palmer, Noah rasa keponakannya itu punya taktik juga. Dia tidak akan semudah itu dibu—
__ADS_1
"Aku yang akan membunuhnya secara langsung."
...*...