
Pusing.
Ilina memang merasa kurang enak badan sejak semalam. Apalagi Noah juga sempat keluar dan itu membuatnya kesal. Tapi ia tak menyangka suhu tubuhnya akan naik pesat, dan tenaganya jadi lemah.
Apa dirinya sakit?
Tidak mungkin. Ilina bukan tipe yang bisa sakit dua kali dalam sebulan, apalagi tanpa alasan jelas begini.
Mungkin hanya lelah. Benar, hanya lelah. Tidur lebih banyak akan memberinya perasaan lebih baik.
"Lia, bangunlah. Marissa sedang menuju kemari. Dia akan ribut melihatmu tidur sepanjang hari."
Ilina berusaha bangun. Mengabaikan perasaan tak nyaman di tubuhnya, ia bangkit, namun nyaris terjatuh jika tubuhnya tak ditahan oleh Noah.
"Menjauh." Dirinya tak mau ditolong oleh pria ini. "Aku hanya—"
"Kamu demam." Noah seenaknya menyentuh pipi Ilina meski hanya sekilas untuk mengecek. "Berbaringlah di kamarku. Aku akan bilang kamu sedang pergi jika Marissa datang."
Rasanya Ilina mau berkata tidak butuh bantuan, tapi ia cukup sadar tubuhnya benar-benar sakit.
Jauh lebih sakit dari saat pertama kali datang.
Harja tidak lagi sering datang setelah Ilina memberitahunya untuk tenang dulu. Jika ada Harja, Ilina bisa minta obat segera. Sakit di tempat musuh adalah tindakan memalukan.
"Lia."
Ilina benci saat ia terlalu lemah untuk bisa menjauhkan wajah Noah dari telinganya.
Wangi cendana yang dia gunakan membuat Ilina tenang. Berimajinasi bahwa dia Mahesa dan dia akan menjaga Ilina.
"Aku tidak ingin melihatmu sakit. Kumohon. Berbaringlah di kamar."
Ilina tak bisa menolak. Dijauhkan tubuhnya dari jangkauan Noah, tapi tertatih-tatih menuju kamar dia biasa tidur.
Tubuhnya berbaring untuk pertama kali di tempat yang terasa lebih nyaman. Menarik selimut tebal untuk berlindung dari hantaman pendingin ruangan yang memang tidak terbiasa bagi kulitnya.
Lia terbiasa tidur tanpa bantuan kipas angin. Apalagi pendingin ruangan.
Insting Ilina jadi tumpul gara-gara itu. Nyaris terlambat ia menangkap tangan seseorang yang terulur padanya.
"Ini kompres."
Sial. Menjauhlah saat Ilina tidak bisa memastikan apa-apa.
__ADS_1
Terus terasa seperti ia digerogoti karena tak bisa menebak apa yang dia inginkan dan niatkan.
...*...
"Noah, di mana pembantumu?"
Noah berpura-pura fokus menonton televisi. "Aku menyuruhnya pergi membeli bahan makanan."
"Aku bahkan tidak percaya dia bisa melakukan itu." Marissa mendengkus.
Tapi tidak banyak bicara karena yang penting baginya hanya Lia melakukan sesuatu sesuai statusnya.
"Kamu sudah makan? Aku tidak membawa sesuatu, kupikir dia sudah membuatkan sesuatu."
"Tidak, dan aku lapar. Bisa buatkan aku bubur, Marissa? Kurasa aku sedang ingin bubur."
"Bubur?"
"Kenapa?"
"Hanya aneh mendengarmu ingin makanan lembut."
"Aku makan sushi cukup banyak kemarin. Perutku hanya ingin makanan lembut."
"Kamu membawa pembantumu makan di restoran? Kalian hanya berdua?"
"Itu hanya kebetulan. Aku pergi mengambil ponselku yang selesai diperbaiki dan mampir untuk makan."
Meski sebenarnya itu alibi yang cukup memuaskan, Marissa sudah yakin tak mungkin hanya itu.
Dia menatap Noah dengan mata memicing, dan ia pura-pura tidak paham dengan menyaksikan tayangan di televisi.
"Apa yang menarik dari gadis desa seperti itu?"
Noah bertingkah tak dengar.
"Aku tahu kamu dengar. Berhenti membuat wajah tidak berdosa setiap kali aku bertanya tentang dia!"
"Marissa, aku dan Lia—"
"Aku mengenalmu sejak lama." Marissa membuat suara lirih yang terkesan penuh luka. "Kamu menolak datang ke restoran denganku karena takut seseorang melihatmu."
Dirinya pernah mengatakan itu? Entahlah, sulit mengingat sesuatu yang dirinya anggap tidak terlalu penting.
__ADS_1
Itu hanya makan di restoran. Jadi sebenarnya itu tidak sespesial yang Marissa pikirkan.
Karena Noah membuat wajah seperti itu, Marissa akhirnya diam. Berganti membahas pekerjaan dan beberapa tawaran yang menurutnya bisa Noah terima.
Tentu saja dia juga membahas masalah pembunuhan di keluarga Palmer yang kini sudah berhenti terjadi setelah pembunuhan terakhir.
Cukup lama Marissa di sana. Ikut makan menemani Noah sampai kemudian dia pergi untuk mengurusi pekerjaannya sebagai manager.
Tepat setelah Marissa pergi, Noah beranjak. Memindahkan sisa bubur yang mulai dingin ke dalam mangkok, mengetuk pintu kamarnya sendiri sebelum masuk.
Sebenarnya Noah punya obat. Tapi ia berencana tidak memberikannya kecuali Lia meminta.
Melihat dari kepribadiannya, dia tidak akan minta. Seperti Noah yang tidak meminta obat sekalipun dulu tahu Lia hanya berbohong soal dia tidak punya obat waktu itu.
"Lia."
Kesadarannya menghilang. Dia mengerang samar-samar, meracau akibat demamnya sampai tak sadar Noah duduk di tepi kasur.
"Lia, aku membawa makanan. Bangun dan makanlah sedikit."
Sepertinya dia tidak bisa.
Dengan sedikit ragu, Noah mengulurkan tangan. Hanya untuk menarik selimut ke leher Lia.
Tapi melihat dia tak menepis atau berkata menjauh, berarti benar dia terlalu demam untuk bersuara.
Noah memberanikan diri menyingkap rambut di sekitar wajah Lia. Samar-samar masih bisa mencium aroma pewangi di rambutnya yang kemarin dibawa ke salon.
Meski betah duduk di sana memandangi ketidakberdayaan gadis menakutkan ini, Noah rasa ia harus beranjak.
Bermaksud meninggalkan dia beristirahat selama yang dia mau ketika tiba-tiba tangan halus itu menyentuh jemari tangannya.
Seketika, Noah tersentak.
"Senior."
Tangannya terulur ke pipi Ilina yang hanya bergerak menerima. Dia benar-benar berpikir Noah itu Mahesa hingga justru dialah yang menggosok pipinya ke telapak tangan Noah.
Menyebalkan.
Tapi menggemaskan.
...*...
__ADS_1