Menolak Cinta Bos Mafia

Menolak Cinta Bos Mafia
39. Pesan Pribadi


__ADS_3

Noah tersenyum. Mencium rambut itu sebelum kembali meletakkannya dalam tisu untuk dikantongi. Mulai sekarang ia akan mengumpulkan rambut Ilina dan mengepangnya.


Agar Noah bisa terus merasakan dia bahkan jika brrjauhan. Apa mereka menyebutnya? Jimat?


Ia mulai merasa cukup sadar. Beranjak turun untuk ke kamar mandi saat menemukan Ilina sedang membuat masakan di dapur.


Dia tampaknya sudah mandi, dari rambutnya yang masih basah.


Noah memutuskan untuk pergi mandi juga, agar saat ia mendekat, Ilina bisa menikmati aroma cendana di tubuhnya.


"Kamu bisa meminta pelayanmu datang membawakan makanan, Ilina."


Gadis itu hanya fokus memasak. "Aku bosan."


Noah tersenyum samar. Berdiri di belakangnya dan meraih sejumput rambur Ilina ke bibirnya. "Kamu ingin pergi ke suatu tempat?"


Dapat ia rasakan Ilina meliriknya.


Sekarang sedang berbahaya untuk mereka keluar. Ketika Noah perlahan-lahan sudah bergerak dan informasi yang Ilina lemparkan sudah mereka makan, tentu saja Noah benar-benar jadi buronan mereka.


Tapi, keluarga Palmer tidak bisa terang-terangan memburu Noah. Karena mereka tidak akan membiarkan publik tahu Noah adalah bagian dari Palmer sebelum Noah setuju bergabung dengan mereka.


Disamping itu, jika seorang publik figur tiba-tiba dikaitkan dengan Palmer yang sedang mengalami krisis, akan ada banyak kotoran mereka yang terkorek.


"Tidak." Ilina menatap tanpa emosi buih dari sup yang dia buat. "Aku lelah."


Dia tidak ingin keluar dengan Noah.

__ADS_1


Noah pelan-pelan menyentuh punggung tangan Ilina, agak terkesan memeluknya, namun masih dalam batas aman.


"Boleh aku menciummu?"


"Tidak."


Noah membawa tangan Ilina menyilang. Naik ke pipinya, bergerak lembut mengecup pipi di dekat bibirnya.


"Kalau begitu, boleh aku memelukmu?"


"Tidak."


Senyum Noah mengambang. Ditarik tangan Ilina berbalik, memeluk punggungnya saat Noah mengecap bibir itu lagi.


*


Siapa kamu?


Siang ini Ilina sedang tidur setelah Noah mengompres lebam di lengannya akibat keributan kemarin.


Dia mengoleskan cream juga di siku dan kaki Ilina, lalu mengeringkan rambutnya dengan kipas angin sebelum Noah pergi untuk membeli sejumlah kebutuhan mereka di tempat baru ini.


Ketika itu Ayana datang membawa kertas ini, dan mengatakan itu sengaja diletakkan secara terbuka untuk Ilina.


"Apa Noah mengeceknya?"


"Tidak, Nona. Penjaga yang bersiaga mengabaikannya. Saya pun berpikir demikian jika tidak mengingat pesan Nona."

__ADS_1


Pesan Ilina pada bawahannya: jangan abaikan apa pun, hal seremeh apa pun, karena bisa jadi itu petunjuk.


Pertanyaan ini bukan ditujukan untuk Noah, tapi Ilina.


"Siapa?"


"Kami mencurigai Xavier Palmer, Nona."


"Anaknya Benedict?"


"Oto membagikan informasi kepada kami, bahwa Benedict Palmer dan Xavier Palmer memiliki sumber informasi yang berbeda. Sepertinya, walaupun calon pewaris dan dikatakan berbakat, Xavier masih diperlakukan sebagai anak kecil dalam keluarga Palmer. Karena itu dia tidak mengetahui informasi yang lebih serius mengenai Nona."


"Singkatnya?"


"Xavier Palmer kemungkinan mencurigai Anda, Nona."


Anak muda yang pintar. Tapi karena dia masih muda, omongannya belum terlalu penting untuk pergerakan Palmer dan semua terserah ayahnya, kah?


Dia hanya menduga tanpa dasar meski kenyataannya dugaan dia benar.


Kalau begitu ini ... pesan pribadi.


"Jangan biarkan Noah tahu." Ilina menyerahkan kertas itu pada Ayana lagi. "Akan kutemui anak itu."


"Saya akan memberitahu Tuan Muda dan mempersiapkan pengamanan Nona."


"Jangan terlalu mencolok."

__ADS_1


"Baik, Nona."


*


__ADS_2