Menolak Cinta Bos Mafia

Menolak Cinta Bos Mafia
58. Kamu Ingin Mati?


__ADS_3

Ilina pergi begitu saja? Begitu saja?


Bukankah setidaknya dia ....


Noah menutup wajahnya untuk menyembunyikan ringisan sakit kepala. Belum pernah. Sekalipun belum pernah ia ditolak seperti ini oleh seorang gadis sampai ditinggalkan seolah ia debu.


Kenapa sebenarnya? Apa yang kurang dari Noah?


"Aku tidak membutuhkanmu. Bunuh mereka, Noah. Hancurkan saja semuanya. Karena meskipun kamu membawakan bulan ke kakiku, aku tidak peduli padamu."


Akan kubuat kamu peduli. Noah mencengkram setirnya kuat-kuat, melampiaskan rasa frustrasi akibat gejolak perasaan di hatinya.


"Tidak masalah." Noah mengembuskan napas. "Beli rumah terbaik di desa itu malam ini. Beri mereka waktu tiga hari untuk pindah ke mana pun yang mereka mau. Gunakan sebanyak apa pun dana."


"Riokai."


Noah akan bersabar. Ia selalu tahu cara bersabar. Tiga hari lagi ia akan memaksa Ilina menemui ibunya.


Bahkan kalau harus mengobrak-abrik desa.


...*...


Noah tersenyum kecil, membaringkan kepalanya ke pangkuan sang ibu yang kini duduk di kursi santai mansion mereka. Wanita itu mendengar dengan sabar seluruhnya, mengusap-usap kepala Noah seolah ia masih anak kecil dan Noah tidak keberatan akan hal iti.


"Kamu selalu bertindak ceroboh." Wanita yang memiliki nama Indonesia Kenanga itu membalas halus. "Padahal Mama menyuruhmu untuk lebih bersabar. Bagaimana kalau kamu terluka? Mama bersabar di Prancis bukan untuk mendengar kamu melakukan semua ini."

__ADS_1


Noah terkekeh kecil. "Maafkan aku, mengecewakan harapan Mama."


"Berhenti minta maaf saat tertawa, anak nakal."


Meski Mama juga tersenyum kecil membelai rambutnya.


"Mama hanya berharap kejadian brutal ini tidak menyeret-nyeretmu lagi. Lakukan apa pun agar kematian keluarga Palmer dan Bumantara tidak dilimpahkan padamu. Mama tidak ingin mendengar kamu terseret masalah lagi."


"Mama tidak perlu cemas. Jika aku terseret, Mahesa Mahardika ikut terseret. Dia akan membereskannya bahkan kalau tidak ingin."


Mama menghela napas. "Kamu selalu mengikuti orang berbahaya." Tangannya menggelitik pipi Noah agar mendongak padanya. "Lalu, di mana Nona Keras Kepala yang berhasil mencuri hatimu itu?"


"Dia kabur dariku."


"Jika Mama jadi wanita itu, Mama rasa memang lebih baik kabur darimu."


Wanita itu tertawa. Membuat Noah memegangi tangannya yang masih tampak sehat meskipun mungil kecil seperti wanita Korea pada umumnya.


Satu-satunya saat di mana Noah membenci Palmer mungkin adalah saat ia tahu ibunya yang mungil harus tersiksa akibat mereka.


"Mama tidak sabar menemuinya."


"Aku akan membawa Mama besok menemuinya. Bisakah Mama sedikit bersabar kalau dia bersikap dingin? Aku masih perlu membujuknya."


Mama malah tersenyum misterius. "Mama sangat menunggu sikap dingin macam apa yang dia tunjukkan padamu."

__ADS_1


...*...


Waktu Laras, pelayannya yang baru berkata bahwa ada orang asing tiba-tiba membeli rumah tuan tanah hingga pemiliknya pindah ke kota, Ilina tidak terlalu peduli.


Tapi ternyata alasan Laras memberitahukannya adalah karena orang asing itu adalah pria setengah Korea keras kepala.


Ilina hanya mampu memijat keningnya pusing, memutuskan tidak peduli. Meski beberapa jam setelah itu tiba-tiba halaman rumahnya sudah dipenuhi sekumpulan bunga matahari yang berjumlah ratusan batang.


Kepala Ilina makin pening.


Apalagi beberapa orang mengintip. Kekagetan mereka tentang Ilina datang memakai helikopter saja belum reda, lalu tiba-tiba malah halamannya yang kosong dipenuhi bunga matahari kuning yang mencolok.


"Singkirkan ini."


Ilina masuk ke rumah dan memutuskan tetap di kamar sampai esok hari. Paginya ia mau keluar mencari udara segar, tahu-tahu halamannya dipenuhi oleh sekumpulan bunga merah dan merah muda.


"Singkirkan dan bunuh siapa saja yang berani meletakkan ini lagi."


"Baik, Nona."


Siangnya Ilina mengecek, tidak lagi ada bunga konyol. Tapi sewaktu ia masuk ke dapur untuk makan siang, Noah sudah duduk di sana, membawa bunga anyelir yang dia letakkan di vas tengah meja usang.


"Apa otakmu sudah meleleh? Kamu ingin mati?"


Pria itu tersenyum menyebalkan. "Aku akan berhenti melakukannya jika kamu menerimaku."

__ADS_1


*


__ADS_2