Menolak Cinta Bos Mafia

Menolak Cinta Bos Mafia
50. Tidak Dapat Mengerti


__ADS_3

"Bos."


"Aku menyuruhmu tidak menggangguku."


Ilina membuka matanya saat menangkap suara dari bawah itu.


Berguling dengan tubuh tanpa pakaian dan tertutupi selimut, Ilina mengintip seorang pria berpakaian serba hitam berdiri di jendela besar sebagai tempat satu-satunya datang setelah pintu.


"Katakan," ucap Ilina, menarik perhatian Riu dan Noah yang sedang membuat minuman hangat di dapur.


"Ilina."


Gadis itu duduk. Mengabaikan Noah yang tergesa-gesa menaiki tangga menuju kasur tempat ia berada.


"Katakan laporanmu."


Orang yang ia tahu merupakan bayangan kedua Noah setelah Ryo itu menundukkan kepala sopan dari bawah sana.


"Baru saja terjadi penyerangan pada Bumantara, Nona. Menewaskan sejumlah orang dari Bumantara termasuk—"


"Aku bisa meminta Noah membunuhmu tanpa alasan jelas. Dan kamu tahu kesalahan siapa itu jika terjadi."


Apa dia pikir Ilina kehilangan otaknya saat muntah darah? Orangnya Andreas Noah sangat cerdas, melihat dari bagaimana mereka begitu mandiri dan gesit bergerak ketika Noah dulu hanya berkomunikasi lewat burung.


Bumantara dan Palmer tidak penting. Itu yang tertanam di benak semua orang.


"Riu, bicara." Noah tahu Ilina tidak berbohong ataupun salah.


"Orang-orang yang melindungi Nona seluruhnya ditemukan dan dibunuh."


Ilina tersentak. "Siapa?"

__ADS_1


"Pelayan Anda dan pria penjaga Anda dibunuh, Nona."


Jantung Ilina berdetak cepat. Untuk waktu yang lama, ini pertama kali dirinya kesulitan memproses sebuah informasi padahal sudah diucapkan dua kali.


Tidak mungkin.


Benedict Palmer tidak mencurigai Ilina sebelum kejadian terakhir di apartemen itu. Sulit bagi dia jika harus menjangkau Harja ataupun Ayana, apalagi orang-orang selain mereka.


Mereka berlindung pada Mahesa.


Tidak mungkin mereka ....


Xavier.


Ilina menutup mulutnya saat merasakan perasaan terdesak yang asing itu.


Sejak awal, sejak mereka bertemu, Xavier seperti orang yang sudah lama mempersiapkan diri.


Sejak awal pula, dia mencari tahu keberadaan Ilina lewat organisasi Oto.


"Ilina."


Sesuatu dalam diri Ilina terusik. Ia tak tahu apa namun rasanya mendidih dengan sensasi tercubit.


Napasnya memburu. Kehilangan penjagaan meski Noah memeluknya.


"Aku menyuruh Ayana dan Harja pergi pada Senior." Ilina bergumam, kedinginan. "Mereka selalu mendengarku. Mereka akan baik-baik saja selama Senior melindungi mereka."


"Mereka tidak bergerak dari posisi mereka mengawasi Anda, Nona." Riu menjawab di bawah sana.


"Aku menyuruh mereka."

__ADS_1


Ilina tidak mengerti. Ia sudah berkata pergi jadi seharusnya mereka pergi.


"Kurasa itu karena mereka diawasi." Noah bergumam di puncak kepalanya. "Pada dasarnya pusat kekuatanmu bukan dalam tanganmu, tapi di tangan Harja dan Ayana. Jika aku adalah Xavier, daripada terlalu mengawasimu yang jelas-jelas terlindungi, akan lebih baik mengawasi orang yang mengawasimu."


"...."


"Mereka sibuk melihat ke arah seseorang yang diletakkan Argantana, mengabaikan orang yang Xavier letakkan di belakang mereka."


"Tapi aku menyuruh Ayana pergi." Ilina menatap kosong wajah Noah. "Aku sudah bilang pergi. Apa itu sulit dimengerti? Kenapa?"


Noah membuat wajah seakan-akan pertanyaan Ilina membuat dia bersedih. "Peperangan memakan korban, Ilina."


"Aku tahu. Aku tahu karena itu aku mengorbankan kamu."


"Aku kekuatanmu. Mereka mengerti itu."


Noah menarik wajahnya dan mengecup hati-hati pipi Ilina yang pucat.


"Hubunganmu dengan Mahesa adalah rahasia. Jika mereka diikuti lalu mereka kembali pada Mahesa, itu memberi Palmer bukti untuk menyusahkan Mahesa."


Ilina tetap tidak mengerti.


Tangannya terkepal. Hanya terdiam kosong memandangi udara.


Haruskah ia menangis?


Bagaimana caranya agar ia menangis?


Ayana dan Harja tidak mungkin meninggalkan Ilina.


Ia tak menangis karena itu sama sekali tidak bisa dimengerti.

__ADS_1


Apa sebenarnya yang mereka semua bicarakan?


...*...


__ADS_2