Menolak Cinta Bos Mafia

Menolak Cinta Bos Mafia
6. Perempuan Batu


__ADS_3

Noah menunggu dengan sabar sampai gadis itu kembali. Dia kembali di siang hari, ketika matahari sudah terik dan kondisi Noah tidak bisa disebut baik.


Demamnya naik pesat. Tubuhnya minta istirahat tapi harus selalu terjaga demi keamanan. Itu hanya kebetulan ia belum terlelap ketika gadis yang mengaku Lia itu datang. Tidak baik mengandalkan kebetulan dalam urusan nyawa, jadi Noah harus terus terjaga.


"Apa kamu akan kembali ke kota?"


Noah mengamatinya lagi. Ketenangan aneh dalam diri gadis ini membuatnya terus tak percaya. "Ya."


"Maka aku akan pergi denganmu."


"Apa maksudmu?"


"Nona menyuruhku mengawasimu sekaligus membantumu."


"Kamu yang membantuku?"


"Hanya itu penawaran Nona."


Sebenarnya tidak terlalu buruk. Meski juga tidak menjamin, namun setidaknya ia mendapat awal dari yang diinginkan.


"Baiklah." Noah menyentuh lukanya yang berdenyut. "Sampaikan terima kasihku pada Nonamu."


*


Ada keraguan, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Kondisinya jadi semakin buruk ketika malam harinya mereka langsung berangkat. Dia belum tidur sama sekali, dan melihat dari kondisi kejiwaannya sebagai korban percobaan pembunuhan dua kali—Ilina yang kedua—tidak heran dia benar-benar waspada.


Tapi Ilina juga tidak bisa membiarkan dia mati karena luka, jadi setelah melewati perjalanan menyiksa luar biasa, mereka berhenti di depan puskesmas kecamatan.


Harja langsung menemani dia masuk untuk mendapat pengobatan sementara Ilina diam di kursinya.


Sudah paham bahwa mungkin dia butuh penanganan intensif selama beberapa hari, Ilina mengambil kesempatan untuk membaca laporan mengenai Andreas Noah.


Keberadaannya nyaris tidak terlihat sejak dia lahir. Tidak didukung oleh siapa-siapa, setelah perjuangan panjang dia akhirnya menemui Mahesa Mahardika dan diberi bantuan dalam mengembangkan kariernya.


Dilihat dari sini dia sebenarnya tidak berniat memakai nama Palmer atau muncul sebagai anggota keluarga Palmer. Dia sungguh-sungguh mau hidup sebagai orang lain yang tidak ada hubungan dengan Palmer.


Tapi, kadang keinginan tidak ada hubungannya dengan darah.


Dia Palmer, mau dia mengaku bukan atau tidak.


Nasib mereka sama ternyata.


"Bagaimana kondisinya?"

__ADS_1


"Perawat berkata harus membiarkan pasien menginap beberapa hari, Nona. Apa Nona ingin kembali dulu?"


"Tidak. Biar aku yang mengawasinya."


Ilina turun dari mobil. Merapikan sejenak penampilannya yang memang polos.


Tidak salah menyebut Ilina gadis desa tulen. Mulai dari alis hingga warna bibirnya tak pernah tersentuh sesuatu seperti kosmetik.


Setelah mengikat rambutnya asal-asalan, Ilina masuk ke ruang rawat inap. Dia dipindahkan dengan cepat karena kurangnya pasien dan permintaan Harja.


Mungkin ada obat yang disuntikkan padanya, kesadaran Noah hilang. Dia tampak sangat pucat saat dipasangi sejumlah peralatan medis yang ada hingga diberi oksigen bantuan.


"Siapa dia?"


Suara itu memaksa Ilina menoleh. Dia Susan, bisa dibilang teman masa kecil Ilina meskipun sekarang sudah bukan.


"Tidak tahu."


Ada kekesalan di wajah Susan akibat jawaban tak acuh itu. "Bohong. Mana mungkin orang seperti kamu keluar dari tempat persembunyian hanya untuk mengantar orang asing."


Hubungan mereka memburuk sejak menginjak usia remaja. Susan membenci Ilina yang merasa dia diperlakukan seperti serangga.


Tidak peduli apa yang dia lakukan, lambat laun sikap Ilina jadi semakin dingin hingga Susan merasa Ilina tidak menganggap dia teman sama sekali.


Sejujurnya, itu benar. Bagi Ilina, dia hanya sesuatu tak bernama yang hadir dalam hidupnya.


Ilina sudah tidak pernah melihat dia sejak dia bekerja di puskesmas ini sebagai salah satu perawat muda. Sejujurnya ia bahkan lupa Susan itu siapa sampai dia muncul.


"Akan kulaporkan kondisinya pada kepala desa."


Baru Ilina bergerak menoleh. "Jangan."


Susan tersenyum sinis. "Kenapa? Kamu bilang tidak tahu tapi kenapa tidak mau? Lagipula kondisinya aneh. Harusnya sekarang polisi di sini. Dia tertembak di desa terpencil. Ini kasus besar."


Makanya Ilina bilang jangan.


Nanti Noah marah, memang dia siap tangannya dipatahkan? Kalau Ilina sih tidak masalah dia diapakan.


"Apa?" Wajah Susan berkerut tanpa rasa takut ketika Ilina bangkit.


Tapi dia langsung terbelalak mengetahui Ilina hanya lewat, meninggalkan dia sendirian.


Kasus ini perlu dirahasiakan. Jika diketahui Andreas Noah ada di desa ini, maka tentu saja akan ditelusuri apa tujuan dia kemari dan siapa yang dia temui.


"Harja."

__ADS_1


"Ya, Nona?"


"Kamu sudah memastikan tidak ada yang melaporkan kondisinya?"


"Ya, Nona. Saya sudah bicara dengan penanggung jawab."


"Maka baiklah." Ilina kembali masuk, melewati Susan yang ternyata masih di sana menunggu apa yang ia lakukan, lalu duduk tanpa suara.


Sikap itu membuat Susan mengepal tangannya kuat-kuat.


"Hiduplah selamanya dengan sifatmu itu, dasar perempuan es!"


Ilina tidak berkata apa pun. Hanya bersyukur dia pergi.


Ohiya, benar juga. Ia butuh kacamata baru.


*


Perempuan es, yah?


Entah kenapa Noah tidak setuju dengan suara yang samar-samar terdengar itu. Gadis yang mengaku sebagai Lia ini bukan perempuan es.


Es meleleh. Artinya bisa berubah bentuk. Perempuan ini batu.


Karena ketika Noah bangun setelah dua hari terbaring sakit, ekspresi yang dia berikan hanya satu. Hanya wajah tak peduli.


Noah berkata ia sudah bisa berangkat, tak sedikitpun Lia bertanya benarkah atau kamu baik-baik saja seperti di awal.


Yang dia katakan hanya satu, ayo pergi, lalu mereka sungguhan pergi.


Noah selalu melihat dia menunduk membaca buku catatan. Kadang-kadang dia menulis, kadang-kadang dia mencoret.


Satu sisi Noah masih ingin menduga dia Ilina Bumantara, tapi sisi lain ia juga berpikir seorang nona yang disembunyikan rapat-rapat mana mungkin terlihat seperti ini.


Nyaris tiba di jalan menuju perkotaan, Noah mulai mengenali sekitar. Ia memang datang ke tempat ini sebelumnya. Tapi kenapa mereka turun dari mobil?


"Menarik perhatian dengan mobil pribadi itu berbahaya." Dia sibuk memicing memandangi terminal di depan mereka. "Ayo pergi."


Noah bingung haruskah ia menyesali sudah merusak kacamata Lia.


Penglihatannya baru memberi dampak kesulitan justru saat mereka berada di kerumunan. Dia samar-samar terlihat bingung. Tak tahu harus melakukan apa meskipun dia juga tidak terlihat kesulitan.


Walau bisa membantu, Noah diam saja.


Ia pun perlu memastikan siapa gadis ini.

__ADS_1


...*...


__ADS_2