
Noah tersentak. "Kamu?"
"Mereka semua sudah tidak bernyawa. Mereka hanya sedang pura-pura bernapas." Lia tersenyum kecil menatap permen di tangannya. "Akan kuakhiri kepura-puraan mereka sesuai keinginan Nona."
Mengapa itu terlihat seperti keinginan dia pribadi?
"Bagaimana cara melakukanya? Kamu bahkan tidak bisa berpura-pura jadi asisten."
"Mengapa aku harus berpura-pura jadi asisten?"
Apa dia terlalu senang sampai tak sadar menjawab dengan sedikit keangkuhan?
Noah mengalihkan mata. Tak tahu kenapa ia merasa wajahnya panas melihat bagaimana Lia tersenyum lagi.
Ada apa dengannya?
...*...
Xavier Palmer, setelah ditelusuri baik-baik, ternyata memang dia pemuda yang punya potensi sebagai musuh yang layak.
Punya kepribadian tenang, tidak pernah menampakkan kesombongan, dan terlihat baik di permukaan.
Satu yang menjadi poin penting darinya.
Ibunya Xavier mati saat usia Xavier masih belasan tahun. Sejak kematian ibunya itu, Xavier sering menghabiskan waktu di taman tempat ibunya biasa membawa dia.
Akhir-akhir ini, dia sering latihan memanah di sana dan Ilina akan mendekatinya lewat cara itu.
Tapi mendekati seorang anak konglomerat yang akan segera naik status sebagai ahli waris jika ayahnya menjadi kepala keluarga tidaklah mudah.
Daya tarik seorang wanita di mata pria selalu saja sama. Kecantikan. Karena itu Ilina harus menonjolkan dirinya.
"Apa menurutmu Xavier akan mudah didekati dengan hal semacam ini?"
"Entahlah."
Jika tidak bisa dengan cara A, maka lakukan dengan cara B. Hanya itu pilihannya.
Tapi Ilina cukup percaya diri setelah mengetahui profil Xavier.
"Lia."
Ilina menoleh pada suara Noah itu. Kenapa dia terlihat kesal?
Anehnya, dia tiba-tiba tersenyum. "Aku akan menemanimu ke salon langgananku. Rambutmu perlu dirawat dulu."
Rambut?
Ilina spontan menyentuh rambutnya. Agak bertanya-tanya apakah itu terlihat kasar dan jelek sampai dia berpikir harus dirawat ekstra.
Namun Ilina merasa rambutnya biasa saja. Cukup halus dan bersih meski memang agak kering lantaran tidak sempat ia olesi minyak.
Tinggal dengan pria ini membuatnya harus hidup lebih sederhana lagi. Tapi karena tawarannya tidak buruk, Ilina terima.
__ADS_1
Masih ada cukup waktu libur sebelum ia pergi membunuh anaknya Benedict.
...*...
Menyebalkan.
Secara tidak langsung dia bermaksud memikat Xavier dengan kecantikan khas desanya yang tampak lugu, bersih, polos, meski rada menakutkan dengan wajah datar itu.
Noah selalu tersekat setiap kali ia mau bernegosiasi. Dirinya menjadi pihak lemah dalam hubungan 'kerja sama' ini hingga apa pun yang Lia dan Nona Ilina Bumantara putuskan, itu keputusan mutlak mereka.
Mood Noah buruk beberapa hari ini. Ia bekerja sambil membawa Lia sebab mustahil meninggalkannya, dan sepanjang itu pula Lia membawa-bawa permen pemberian Mahesa.
Tidak untuk dia makan. Hanya untuk dia pandang seolah itu sumber energinya setiap hari.
Noah membelikan Lia berbagai jenis makanan. Memesan berulang kali makanan yang jarang ia makan cuma untuk disisakan pada gadis itu. Tapi tidak ada yang dia sentuh.
Matanya cuma menatap dingin, lalu berpaling pada permen yang tidak bisa dia rasakan sama sekali.
Lia tidak peduli meski Marissa memarahinya. Apa pun yang Marissa bahkan Noah katakan, Ilina hanya diam. Masih bersikap 'kalian tidak penting' pada mereka.
Sekarang ia menemani Lia sungguhan ke salon, dan gadis itu melakukan hal yang tidak Noah sangka.
Gadis itu tersenyum lembut. Senyum yang memang seharusnya dimiliki gadis desa lembut dan penyayang.
Ocehan pegawai salon yang memujinya hanya dibalas senyum dan tawa, lalu setelah selesai, di dalam mobil, Ilina kembali bersikap dingin.
"Kamu baik-baik saja?" Noah coba menanyainya.
"Ya." Dia membuang muka.
"Terserah."
"Ayo makan sushi saja. Kurasa itu bisa mengembalikan tenaga."
Tiba di restoran sushi, Noah pura-pura tidak tahu akan dua orang yang berada dalam mobil di belakang mereka ikut turun.
Tapi Noah menjadikan itu kesempatan.
"Lia." Noah membuka pintu untuknya. "Pegang tanganku dan berpura-pura jadi kekasihku."
Dia melakukan bahkan tanpa berpikir.
Tangan mereka bersentuhan lagi setelah sekian lama. Noah tersenyum menuntun Ilina, dan sepertinya dia paham apa maksud Noah.
Diluar dugaan, dia kembali tersenyum.
Tenggorokan Noah serada diganjal oleh batu. Ia berusaha mengendalikan diri, tersenyum tenang saja sebab sekarang mereka berakting di depan dua pengawas.
Kenapa ia malah sibuk berdebar sekarang?
"Lepas kacamatamu saja."
"Aku tidak membawa kotaknya."
__ADS_1
"Tidak apa. Berikan padaku."
Lia menatapnya sekilas. Lalu melepaskan kacamata itu agar Noah bisa menggantung di kerah kemejanya.
Pada dasarnya dengan atau memakai kacamata dia nyaris sama saja. Tapi tanpa kacamata, keningnya tidak perlu berkerut akibat sakit kepala.
Dia cantik saat wajahnya lepas.
...*...
Ilina paham bahwa mereka harus berpura-pura memiiliki hubungan selama diawasi. Karena satu-satunya alasan yang cukup masuk akal mengapa Noah memiliki seorang gadis asing di apartemnya adalah karena dia memiliki pacar simpanan.
Pacar yang terlalu memalukan untuk dipublikasikan oleh seorang penyanyi tampan single seperti Noah.
Tapi haruskah dia menggenggam tangan Ilina seperti itu?
Itu sangat mengganggu ketika tangan mereka bersentuhan. Setelah melakukan rayuan dengan cara halus, mengganti parfumnya serupa parfum Mahesa, sekarang dia menggunakan pengawas sebagai alasan agar mendekat?
Lagipula sejak awal, untuk apa sebenarnya dia mendekat?
Ilina berusaha tidak acuh. Hanya terus melatih senyumnya pada Noah sekaligus berakting.
Mereka menunggu sampai sushi datang di masing-masing piring mereka.
Pernah beberapa kali Ilina membuat sushi dibantu oleh Ayana, namun ia tak pernah makan dengan sumpit sebagai medianya.
Seolah tahu atau mungkin memang sudah tahu, Noah mulai menyentuhnya lagi dengan alasan mengajari.
“Lakukan seperti ini.”
Ilina harus bersabar menerima pengajaran tak perlu itu.
Sabar pada kontak fisik berlebih sebab sepasang kekasih normalnya memang saling menyentuh.
“Lia.”
“Ya.”
“Sejak kapan kamu mengenal Mahesa?”
Jadi dia masih mencurigai Lia adalah Ilina.
“Sejak lama.” Ilina melirik ke sekitar, cukup yakin jarak mereka dan orang yang mengawasi tidak terlalu dekat. “Dia guruku.”
“Kamu menyukainya?”
“Kenapa itu penting?”
Noah tersenyum lagi. “Aku tidak tahu harus membahas apa denganmu. Kamu selalu menghindariku dan waspada padaku. Karena kejadian pagi itu juga, kamu jadi semakin dingin.”
“....”
“Aku mengerti, Lia. Aku dan kamu hanya terlibat hubungan saling membantu—maksudku hubungan di mana kamu membantuku dan aku memberimu tempat tinggal. Tapi apa tidak bisa aku sedikit bertanya?”
__ADS_1
“Tidak.”
...*...