Menolak Cinta Bos Mafia

Menolak Cinta Bos Mafia
17. Hidup Dalam Kepalsuan


__ADS_3

Noah fokus mengatur fitur ponsel yang berencana akan ia berikan pada Lia.


Dia setidaknya harus melihat sendiri perkembangan informasi lewat berita, kan? Meski kata Noah tadi, informasi yang diberitakan sudah difilter berkali-kali, setidaknya dia tidak diam saja.


Juga ... alasan agar Noah mendekat.


Memasak bersama sudah tidak bisa, jadi ia akan mulai membuat kesan 'belajarlah mandiri karena kamu pembantu'.


"Tapi, Noah, jika ada yang mati sekali lagi, baik dari Bumantara atau Palmer sendiri, kurasa ini benar-benar persoalan serius."


Noah rasa itu akan terjadi dalam tiga atau empat hari lagi.


Sulaiman Bumantara sudah mati, permainan saham yang naik-turun pun pelan-pelan mulai membaik. Dia bersembunyi sejenak untuk membuat mereka gelisah, lalu saat mereka waspada—


—dia hanya tinggal maju, mempecundangi mereka dengan keangkuhannya.


*


"Lia."


Ilina baru akan berbaring ketika lagi-lagi pria itu memanggilnya.


Hari ini, kemarin dan sepertinya besok dia terus memanggil namanya sebelum memberikan perintah.


Nyaris tidak ada waktu Ilina fokus membaca. Tapi sekali lagi ia diam, sebab sadar dirinya bukan Ilina Bumantara di mata Noah sekarang.


"Ada apa?"


Pria itu tiba-tiba datang, duduk di atas tempat tidurnya. Ilina jelas terkejut. Agak terlalu terkejut untuk menyembunyikan ekspresinya.


Meski hanya sekilas, sebelum ia sadar ada yang dibawa di tangannya.


"Aku memutuskan membeli ini untukmu." Dia mengulurkan kotak persegi panjang berukuran sedang kepadanya. "Bukalah."


Ilina melirik, lalu membuka kotak itu hanya untuk menemukan perangkat ponsel berwarna putih cantik di sekitarnya.


"Aku sudah mendiskusikan ini dengan Marissa. Kurasa sekarang aku harus berhenti bersembunyi terlalu sering. Nonamu menunda pergerakannya dan sulit mengetahui kapan dia bergerak lagi. Jadi aku harus muncul dan bertingkah seakan-akan aku terpaksa harus muncul karena pekerjaan."


Ilina tidak membuat ekspresi.


"Aku sudah mengaturnya sesuai—"


Ia beranjak, pergi ke tempat sampah untuk membuangnya.


"Ponsel bisa disadap dan digunakan sebagai alat pengawas. Nonaku membencinya. Tapi terima kasih atas hadiahmu."

__ADS_1


Bukankah sudah Ilina bilang? Jangan menghargai atau menerima penghargaan. Dan jika dia mengusik, injak dia tanpa belas kasihan.


Beraninya dia menawarkan sesuatu dengan kalimat manis hanya untuk menutupi maksud ingin mengawasi dan mengontrol.


Jika seluruh Palmer dan Bumantara mati, benda semacam ini tidak ia butuhkan untuk mencari informasi, menghubungi seseorang, memberi perintah atau apa pun.


Ilina hanya perlu bicara pada bayangannya. Terserah dengan cara apa, itu tersampaikan pada seluruh orang dan keinginan Ilina terwujud.


Itu hal yang harus dia camkan dalam kepalanya yang menyebalkan.


*


Noah tidak menduganya.


Dia membuang itu bahkan tanpa membuat wajah 'ambil saja kembali'. Dia sedikitpun terlihat tidak enak membuang hadiah pemberian seseorang di depan mata orang itu.


Seolah-olah dia berkata ponselnya sudah milik dia jadi mau dibuang atau dibakar itu terserah dia. Yang marah adalah yang kalah, kah?


Noah pikir ia sedikit mengendalikan, tapi sepertinya Lia dan Ilina Bumantara yang entah di mana atau mungkin di depanya sekarang, itu hanya menganggap semua tidak penting.


"Aku mengerti." Noah beranjak. "Tidurlah dan lupakan saja."


Dia sulit dan berhati-hati. Jika Noah tidak bersabar, tidak tenang dan menahan diri, maka ia yang akan dikuasai.


Noah mengunci pintu kamarnya dan keluar menuju balkon. Ada suara burung elang terdengar mendekat, bertengger di kayu dekat sarang buatannya.


Dibelai burung elang pendiam itu, menarik surat yang dililitkan di kakinya.


Perkataan Lia benar. Ponsel dan jaringan internet bisa diretas, bisa diawasi dan diam-diam mereka mengambil informasi. Makanya Noah berhenti menghubungi Oto lewat media telepon sejak Lia keluar.


Dia pasti sudah sadar Noah meletakkan orang mengawasinya.


Kabar dari Ryo tidak baik ternyata. Orang mereka yang dikirim ke desa dimutilasi.


Perempuan itu ... sulit sekali disentuh.


Asistennya dingin, Nona-nya bengis, keduanya sama-sama sulit diketahui.


"Pergilah ke Mahesa." Noah membelai burung elangnya itu. "Jangan hinggap kecuali padanya."


Karena memang dia cuma aktif saat digunakan berkirim pesan, maka elang bernama Tobi itu langsung bisa terbang ke arah yang diinstruksikan. Posisi dia terbang bukan dari arah ia diawasi, jadi Tobi tak diketahui oleh dua pengawas yang mengawasi.


Untuk sekarang ia harus meminta Mahesa untuk berhenti membunuhi anak buahnya. Oto tidak akan melukai gadis itu.


Karena Noah membutuhkan dia.

__ADS_1


*


Hari ini, Noah bilang dia akan menerima undangan dari acara talkshow. Dia menggunkan alasan jatuh sakit hingga harus menghilang selama beberapa waktu lalu sekarang diundang untuk menunjukkan diri sekali lagi.


Ilina tidak terlalu tahu bagaimana tugas artis atau penyanyi. Tapi sepertinya yang paling menonjol dalam diri Noah bukan nyanyian melainkan tampang.


Kepala Ilina pusing sejak mereka memasuki gedung tempat dia akan tampil. Apalagi dirinya harus pura-pura jadi asisten hingga mengikuti Noah dan Marissa sambil membawa barang bawaan.


Gedung televisi, kah? Kalau tidak salah ini salah satu televisi nasional besar hingga menyusupkan orang ke dalamnya sulit. Apalagi karena tiba-tiba, Ilina tidak melakukan banyak persiapan.


Tapi seharusnya tidak masalah. Karena keamanan ketat, jadi Ilina pun tidak terlalu harus pusing dengan ancaman pada dirinya.


Yang jadi masalah cuma suara bising. Di ruang make up, orang berbicara satu sama lain seolah tidak bisa mereka menunggu yang satu selesai baru satunya lagi bicara.


Ilina tidak terbiasa dengan hal itu. Orang-orang bicara padanya dengan tenang. Teriakan yang ia tahu cuma teriakan anak kecil saat bermain, itupun dari kejauhan.


Ia tak tahu harus apa, jadi cuma diam disuruh-suruh kesana-kemari.


Yah, tak lengkap kalau tidak dimarahi.


"Aku bisa bersabar padamu kalau tidak becus bekerja di rumah tapi jangan permalukan Noah di sini! Kamu ingin dipecat, hah?!"


Kapan dia bersabar?


Marissa marah karena Ilina memasak air di dapur untuk membuatkan kopi ketika dia minta kopi untuk Noah. Ternyata maksudnya pergi beli kopi di depan.


Bukan cuma itu. Dia malu karena katanya ada alat dispenser—tidak ada dispenser di apartemen—lalu Ilina malah masak air.


Ilina cuma menghela napas. Dirinya terus bertanya-tanya kapan sebenarnya harus berhenti pura-pura.


Kenapa yah ia tak mengaku saja sebagai Ilina? Biar Noah pun bersujud di kakinya dan bocah ini berhenti marah.


Tapi pada akhirnya Ilina diam lagi. Pergi menepi setelah dimarahi habis-habisan, sementara Noah pergi ke ruang tempat dia melakukan siaran langsung televisi.


Dari layar yang ditempatkan dekat mereka, Ilina bisa melihat betapa berbeda Noah.


Dia tampak suci. Menampilkan kesan pria tampan yang lembut dan murah senyum.


Palsu.


Baik dia, atau Ilina.


Segalanya cuma soal hidup dalam kepalsuan.


*

__ADS_1


__ADS_2