
Ilina melepaskan seluruh atribut di tubuhnya lengkap dengan jarum-jarum sisa yang tidak digunakan. Kepangan rambutnya telah ia lepaskan dan kacamatanya terpasang mempermanis wajah Ilina.
Sekarang sudah tak tersisa apa pun.
Palmer mati, Bumantara mati.
Orang-orang yang membunuh ayah dan ibunya sudah mati, berikut mereka yang mengusik Ilina selama ini, atau mungkin mereka yang berpotensi mengusiknya lagi kedepan.
Tidak tersisa apa pun, kecuali keheningan.
"Ayo pergi," ucapnya pada pelayan dan penjaga baru yang diberikan Mahesa.
Malam ini juga Ilina putuskan kembali ke desa. Mereka tak memakai kendaraan seperti saat ia bersama Noah. Malam ini Ilina naik ke helikopter yang diberikan Mahesa, menidurkan dirinya sampai helikopter itu mendarat di desa tempat tinggalnya.
Suara baling-baling terasa jelas hingga tidur beberapa warga sekitar terganggu. Mereka berbondong-bondong keluar, terkejut menemukan sebuah kendaraan udara baru saja mendarat, disusul kemunculan Ilina.
Tempat yang bagus untuk pendaratan memang berada cukup dekat dari puskesmas. Ilina dengan mudah menemukan Susan tertegun melihatnya, sebelum ia berpaling tak peduli.
"Anda ingin berjalan, Nona?"
"Ya." Ilina menarik selendang untuk dipasang ke tubuhnya. "Berjalanlah beberapa meter di belakang."
Desa tempat ia tumbuh ini adalah desa tempat ia diasuh oleh Harja dan Ayana. Ilina memejamkan mata ketika perasaan tertikam itu muncul, menusuk-nusuknya untuk hal yang tidak bisa ia mengerti.
Padahal sudah menghancurkan Palmer dan Benedict. Kenapa rasanya masih sulit untuk bernapas?
Ilina merasa ingin terhuyung, tapi menahan diri sampai ia tiba di dalam rumah kecilnya.
Berbaring telentang di atas kasur usangnya, Ilina menatap langit-langit dalam hening.
Matanya lantas terpejam, tak mau mengakui pada keheningan itu, bahwa ia menangis kesepian.
*
"Ilina?"
Noah celingak-celinguk mencari sosok gadis itu yang ia pikir sudah pulang duluan ke tempat mereka.
__ADS_1
Lagipula dia selalu melakukan itu. Bersikap dingin, mengabaikan Noah, lalu pulang untuk tidur sendirian.
"Riu, di mana Ilina?"
"Maaf, Bos. Nona Ilina berkata akan pergi sendiri jadi saya tidak bertanya lebih jauh."
"Siapa yang mengikutinya?"
"Nona dikawal oleh puluhan orang Mahardika jadi kami tidak mengusik."
Noah menghela napas kecil, agak kesal.
Harusnya dikawal agar ia bisa langsung tahu di mana Ilina.
Yah, sudah tidak ada bahaya jadi tidak seperti Ilina akan dilukai. Malah sepertinya penjahat yang akan dalam bahaya jika coba berbuat jahat pada Ilina.
"Mungkin dia sedang merayakan kebebasan."
Noah berjalan keluar. Masuk ke mobil sport-nya yang berencana ia gunakan mengajak Ilina berkeliling merayakan kebebasan juga.
Mobil Noah berhenti di taman itu. Keluar menyusuri sekitaran taman hanya untuk menemukan keheningan tanpa adanya Ilina di mana pun.
Tidak mungkin. Apa dia pergi berkeliling kota sendirian?
"Ryo."
"Ha?" [Ya?]
"Cari Ilina. Aku ingin tahu posisinya dalam lima belas menit."
"Riokai." [Laksanakan.]
Noah menjatuhkan kepalanya ke sandaran jok mobil, menatap keremangan taman. Rasanya setiap kali mengingat Ilina dan Xavier berciuman di sana, Noah mau mengobrak-abrik kuburan Xavier.
Tapi Noah masih cukup waras untuk tidak mengusik orang mati.
Lagipula sekarang Noah hanya tinggal menghabiskan waktu dengan Ilina.
__ADS_1
Ah, benar juga. Noah harus menghubungi ibunya juga.
Pipi Noah agak bersemu merah saat ia menatap kontak ibunya. Sudah lama sekali. Mereka nyaris tak pernah berhubungan demi menghindari kemungkinan terlacak oleh Benedict.
Meski dilindungi oleh Mahesa, ibunya akan selalu dalam bahaya selama Benedict masih hidup.
Sekarang ....
"Selamat sore?"
Suara berbahasa prancis menyapanya. Namun Noah tahu itu bukan suara ibu.
Di sana memang masih sore.
"Ini Noah." Ia membalas dengan bahasa Prancis yang sama. "Aku ingin bicara dengan Madam Ra-im."
Karena ibunya Noah memang orang Korea.
Hanya butuh waktu beberapa menit, sebuah suara yang akrab, lembut dan halus terdengar. "Noah?"
"Ma." Noah menumpukan keningnya pada setir mobil, rasanya ingin menangis setelah sekian lama. "Ma, bisakah hari ini Mama kembali?"
"Noah, apa yang kamu bicarakan?"
Noah punya banyak waktu membicarakannya. Tapi ia ingin ibunya segera datang hingga menyimpan itu nanti.
"Aku akan segera menyiapkan penerbangan. Aku merindukan Mama."
".... Mama merindukanmu juga."
Ryo yang menunggu di luar pintu sudah kembali. Membuat Noah segera berpaling, karena ingin Ilina juga menemui ibunya setelah ini.
"Nona sudah kembali ke desa itu, Bos."
Noah melebarkan mata, tercengang.
*
__ADS_1