Menolak Cinta Bos Mafia

Menolak Cinta Bos Mafia
27. Baru Akan Memutuskan Hari Ini


__ADS_3

Kenapa Noah terobsesi pada gadis desa itu?


Marissa tidak pernah paham bagaimana perasaan Noah.


Sejujurnya, kadang Marissa merasa Noah itu ... tidak memedulikan apa pun. Apa pun itu termasuk diri Noah sendiri.


Ada rasa takut dalam diri Marissa pada Noah di suatu tempat. Ia pikir, itu karena Noah memiliki darah kotor Palmer, tercemari oleh beberapa keburukan mereka hingga dia terlihat arogan.


Namun kadang juga bukan.


Kadang itu hanya seperti ... seperti diri Noah yang sebenarnya.


Noah itu tahu dia tampan. Noah juga tahu dia mahir bernyanyi. Noah tahu orang lain menyukainya, fans, rekan kerja, bahkan Marissa.


Maka dia tidak pernah bertingkah butuh pada orang lain.


Seolah-olah orang lainlah yang harus datang memenuhi kebutuhan Noah. Kenapa dia yang seperti itu malah tertarik pada gadis desa macam Lia?


Tidak. Gadis itu juga sebenarnya mencurigakan. Dia terlihat jelas memang gadis desa, tapi auranya mencengkram seperti lilitan ular.


Akan kubongkar dirinya malam ini. Marissa melirik cermin tengah mobil yang menampilkan Lia.


Dia jelas tahu Noah melirik dia, tapi dia memalingkan muka dengan sombong.


Menyebalkan. Padahal cuma gadis desa.

__ADS_1


Banyak gadis di kota ini rela jadi simpanan Noah, dia malah tidak tahu diri memalingkan wajah.


Menyebalkan. Wajah sombong seolah dunia miliknya itu menyebalkan.


...*...


Ilina tidak bisa melihat jelas apa yang tertulis di papan berlampu tempat mereka singgah. Matanya menyipit, tapi tulisannya memang cukup jauh untuk ia membaca jelas.


Sebelum bisa berhasil membaca, dirinya sudah diajak masuk mengikuti Noah.


Mengandalkan penglihatan buram, Ilina mengikuti langkah Noah dan Marissa yang semakin jauh.


Mereka tampak menyapa sekumpulan teman yang juga baru masuk, berbicara sesuatu tentang pertemuan terakhir mereka dan entah apa lagi.


Ilina merasakan kepalanya berdenyut-denyut sakit. Tanpa kacamata, telinganya sangat sensitif. Karena ia merasakan pergerakan, apa pun itu dengan telinga sebagai pengganti mata.


"Hei, pergilah ke sana dan tunggu aku."


Ilina terlalu sakit kepala untuk berpikir. Ia lebih suka menepi daripada ikut-ikutan kelompok itu, pergi ke sebuah meja dekat tempat rak minuman bersusun dibalik konter.


Ada seorang pria meracik minuman di sana, dan beberapa orang tengah duduk juga.


"Butuh sesuatu, Nona?"


Ilina mengerjap. Matanya berkunang-kunang lantaran telinganya dimasuki suara tanpa henti. "Apa saja yang membuat kepalaku tidak sakit."

__ADS_1


Dia tertawa. Lalu pergi dan sepertinya membuat sesuatu.


Suara seseorang bicara dengan mic tapi berteriak terdengar. Mengatakan bahwa Noah ditunggu-tunggu telah datang, disusul teriakan didominasi oleh wanita.


Tempat menjengkelkan ini.


"Radit, dia orangku." Tiba-tiba suara Marissa terdengar, mencegah pria tadi menyerahkan minuman yang hampir Ilina minum. "Beri dia sesuatu yang rendah alkohol saja. Dia orang desa."


Pria itu mengangkat bahu. "Orang desa datang ke klub, menarik. Siapa namamu, Cantik?"


"Lia."


"Lia. Orang desa bernama Lia. Baiklah. Akan kubuatkan sesuatu yang manis." Dia pergi lagi meracik minuman.


"Sementara diamlah di sini. Dan jangan minum alkohol!"


Jadi yang ada di rak itu alkohol?


Mahesa tidak pernah memberitahunya sesuatu tentang klub malam, jadi Ilina pikir tempat ini mirip restoran.


Ilina memandangi kepergian Marissa dengan sorot mata penuh arti. Sedikit tersenyum sebelum ia menerima minuman pemberian Radit itu.


"Terima kasih," ucapnya tulus.


Pria itu ikut tersenyum. Sejenak menumpukan kedua lengannya ke atas meja dan condong pada Ilina. "Apa hubunganmu dengan Marissa, Lia?"

__ADS_1


Ilina tersenyum seperti anak kecil. "Aku baru akan memutuskannya hari ini."


...*...


__ADS_2