
"Duduklah, Lia. Ayo makan bersama."
Ilina sangat sulit ditebak. Karena itu Noah sedikit terkejut dia mau duduk, ikut mengambil sendok yang ada di dekat piring.
Jadi dia sudah tidak berpikir Noah meracuninya? Bisakah Noah menganggap itu perkembangan?
"Bagaimana kondisimu? Aku ingin menghubungi dokter, tapi aku menahan diri karena kamu mungkin membencinya."
Selama mengenalnya beberapa minggu terakhir, Noah sadar bahwa Ilina sangat benci identitasnya diketahui.
Sepertinya bukan sebatas karena dia merasa berbahaya. Dia hanya tidak suka apa yang dia sembunyikan diketahui oleh orang lain.
Makanya Noah akan tetap memanggilnya Lia. Agar dia tahu bahwa Noah akan terus berpura-pura, sampai setidaknya dia mau Noah berhenti berpura-pura.
Noah tersenyum manis ketika Ilina meliriknya. Dia makan dengan tenang, tak tahu bahwa ujung jari Noah gemetar.
Menggemaskan. Perasaan obsesif ini baru dan menggelitik.
Noah menyenangi perasaan ketika melihat Ilina makan dengan mulut penuh, mengunyah perlahan-lahan hingga pipinya bergerak-gerak.
Dia pasti akan mencari tahu rahasia Noah. Dan dia cukup dekat dengan itu, sebab Palmer akan mulai memburunya secara terang-terangan sekarang.
"Aku sudah bicara pada pihak agensi." Noah berharap dia sedikit merespons. "Kematian Marissa bisa jadi alasan bagiku untuk beristirahat dari pertelevisian sejenak. Atau haruskah aku vakum, Lia? Bagaimana menurutmu?"
Dia makan dengan mata menatap Noah tajam.
Sangat lama rasanya menunggu dia selesai mengunyah, baru Ilina berkata, "Lakukan sesukamu."
"Maka mungkin sebaiknya aku berhenti." Noah menatap makanannya dengan jantung berdebar-debar. "Akupun tidak menikmati profesi sebagai penyanyi."
".... Lalu kenapa kamu menyanyi?"
Ilina bertanya. Hanya Tuhan yang tahu betapa keras perasaan Noah melambung karenanya.
"Karena aku bosan." Noah tersenyum setengah tertawa. "Mereka bilang wajahku tampan dan punya nilai jual. Dibanding berakting, aku lebih suka bernyanyi, jadi aku muncul sebagai penyanyi. Tentu, aku sudah memperkirakan bahwa aku tidak akan menaiki puncak. Aku tidak memiliki ambisi."
Diluar dugaan, Ilina tersenyum. "Padahal akting adalah kemampuanmu yang lebih baik."
Ah, jarum. Noah tersenyum lembut dan memberi kesan kuat ia mundur.
Sepertinya sekarang Ilina sudah tidak akan membunuhnya meski Noah mendekat, tapi dalam arti lain, senyum itu masih menandakan sesuatu yang berbahaya.
"Aku tidak membenci pria yang tahu cara berakting." Ilina tersenyum sama lembutnya.
Menunduk pada makanan lalu menusuk lurus pada telur gulung di piringnya.
"Aku menyukai pria yang memiliki kekuatan. Bukankah itu memang sebuah dorongan alami?"
Apa maksudnya? Jarang-jarang Noah bingung pada permainan kata seseorang.
"Tapi aku sebenarnya membenci pria yang tidak mau berterus terang."
Ujung jemari Noah semakin bergetar. Matanya berkunang-kunang dan napasnya agak tergesa-gesa.
__ADS_1
Ilina. Dia benar-benar kepingan yang Noah cari dalam hidupnya. Menggoda dan mengancam dalam waktu yang sama.
"Aku benci pria yang menyembunyikan maksudnya dariku."
Noah mengepal tangan. Menatap lembut gadis itu meski dia menatapnya dingin. "Bagaimana jika pria itu hanya berusaha menarik hatimu lewat cara yang berbeda?"
Sang gadis berhati batu kini menusuk keras makanan di meja. "Aku benci pria yang tidak menuruti kemauanku."
"...."
"Aku benci pria yang berdebar seenaknya tanpa izinku."
Napas Noah semakin memburu.
"Aku benci pria yang setiap kali dia melihatku, pikirannya dikotori oleh khayalan yang mustahil terjadi."
Noah menelan ludah panas.
"Dan aku benci pria yang berpikir bisa memilikiku saat dia sebenarnya tidak memiliki apa-apa."
Selesai dengan penolakannya, Ilina beranjak. Masuk ke kamar Noah, meninggalkannya dengan suara pintu terkunci.
Wajah Noah rasanya memerah. Ia menutup mulut, menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan keinginan untuk tertawa.
Kenapa dia sangat menggemaskan?
"Aku membencimu." Itu yang mau dia katakan. "Aku membenci segala hal tentangmu. Aku tahu tentang hasratmu dan aku makin membencimu."
Itu yang dia sampaikan.
Menggemaskan.
Tapi belum.
Belum waktunya.
Sedikit lagi.
Noah harus bersabar sedikit lebih banyak lagi meski ia tak sabar.
...*...
"Ilina, kamu menyukaiku?"
Saat itu, Ilina masih berusia dua belas tahun kurang ketika Mahesa tiba-tiba menanyakan sebuah pertanyaan telak.
Dirinya yang masih begitu bocah untuk percaya diri tentu saja memerah, panik memberi reaksi karena takut Mahesa berkata dirinya menggelikan.
"Ti-tidak, Senior! Aku tidak menyukai Senior!"
"Kamu membenciku?"
"TIDAK!"
__ADS_1
Mahesa malah tertawa geli. Membuat Ilina semakin memerah dan bingung harus melakukan apa.
Dirinya berencana untuk kabur saja daripada terus ditanyai mengenai suka, tapi Mahesa mengulurkan tangan.
Jika dia mengulurkan tangan pada Ilina, berarti Mahesa mau ia datang memeluknya.
"Aku juga menyukai Ilina." Mahesa mengusap pipinya yang terasa panas oleh rasa malu. "Tapi bolehkah aku berkata sesuatu?"
"Tentu saja."
"Jangan menyukaiku."
Ilina mematung.
"Aku mengizinkanmu menyukaiku kalau kamu sudah yakin tidak meminta balasan dariku. Sebelum itu, jangan menyukaiku."
Butuh waktu sangat lama bagi Ilina memahami.
Bahwa maksud Mahesa adalah dia hidup di dunia di mana dia enggan merasakan cinta, tak menyukai permainan emosi dalam cinta, dan membenci harus terjebak di dalamnya.
Diam-diam Ilina tahu bahwa ia selalu berharap balasan. Karena itulah Ilina tak berani lebih dari batas yang diberikan Mahesa.
Kalau dipikir-pikir, Noah adalah pria kedua dalam hidupnya selain dari orang-orang yang merawat Ilina.
Dicintai adalah hal yang asing bagi Ilina. Apa yang ia ketahui hanya tentang kesetiaan bawahan kepada tuannya, dan rasa suka seorang gadis pada pria yang mereka kagumi.
Ia tak pernah tahu apa itu rasa cinta pria pada wanita.
Ilina membacanya di buku. Cinta adalah rasa suka yang didorong oleh ketertarikan emosional dan seksual.
Tentu saja Ilina pernah mengalaminya. Kadang-kadang ia bermimpi menghabiskan malam dengan Senior Mahesa sebagai pria dan wanita.
Tapi ... perasaannya tidak terbalas.
Karena itulah ini asing.
"Jangan bermain perasaan." Ilina mengusap-usap debu pada patung not musik di samping tempat tidur Noah. "Jangan berbelas kasih. Jangan peduli pada orang lain, dan jangan menunggu seseorang peduli."
Itulah prinsip hidupnya.
"Emosi adalah kelemahan." Ilina meletakkan kembali patung itu. "Dan orang lemah ... itu menyedihkan."
Benar. Jangan pedulikan apa pun perasaan Noah.
Lebih mudah untuk mencari apa tujuan tersembunyi dibalik perasaan itu.
Ilina hanya diam di kamar sepanjang waktu, dan keluar untuk mandi atau makan.
Setiap kali bertatapan dengan Noah, pria itu tersenyum palsu, mengatakan Ilina tidak perlu melakukan apa-apa, beristirahatlah dengan baik.
Lama-lama, rasanya Ilina diperlakukan seperti orang sakit parah. Tapi ia diam, karena bersabar dalam mengamati adalah kunci pengamatan itu sendiri.
Sampai kemudian Ilina merasa sudah waktunya ia bergerak.
__ADS_1
"Aku akan menemui Xavier Palmer."
...*...