Merebut Cinta CEO Kulkas

Merebut Cinta CEO Kulkas
Martabak Yang Berendam


__ADS_3

"Kas, bisa nggak, kalau larangan jatuh cintanya dicabut?" Cindy bertanya dengan nada biasa saja. Walau begitu, wajahnya menunjukkan rasa penasaran. Tama hanya diam dan menatap kosong layar handphone.


Larangan ini dibuat karena dirinya tahu hubungan mereka berdua tak akan bertahan lama. Dunia mereka begitu berbeda. Sekarang saja, mereka bisa tetap bersama tanpa gangguan, karena papa Tama menyuruhnya membuat Dhita cemburu.


Kalau tidak, pasti akan banyak gangguan yang menyakiti Cindy. Tama tak ingin Cindy terluka, juga tak ingin menyakiti orang tuanya. Dhita adalah jalan paling aman untuk semua orang.


 


“Kas, apa sih yang lagi kamu pikirin?” tanya Cindy keheranan. Pria yang dipanggil hanya menggeleng seraya menggaruk pelan pipinya.


“Kenapa pertanyaan aku nggak dijawab?” Cindy kembali meminta jawaban dari pertanyaan yang bikin Tama berpikir jauh. Jauh di lubuk hati Tama, ada sebuah pertanyaan mengenai apakah mungkin mereka bisa bersama. Tama harus jujur kalau dirinya merasa nyaman saat bersama Cindy. Terlebih lagi, dia merasa disayang dan dicintai.


“Kas!” Panggilan Cindy membuyarkan lamunan Tama. Pacar Cindy itu lalu menghela napas dan menggeleng.


“Nggak bisa, Cindy. Memangnya, kamu sudah cinta sama aku?” Tama bertanya untuk mencairkan suasana, tapi wajah Cindy justru bersemu merah mendengarnya. Wanita yang akhir-akhir ini merebut perhatian Tama itu hanya menggeleng. Dia masih punya harga diri dan tak ingin mengemis cinta pada si pacar kulkas.


“Nggak. Cuma nanya aja. Siapa tahu kalo aturan dilarang jatuh cinta ditarik, aturan dilarang minta uang juga ditarik.” Cindy tertawa canggung. Terlihat sekali dirinya berusaha mengubah arah pembicaraan.


“Aku ngantuk.” Cindy mengucek-ucek matanya lalu melanjutkan perkataannya,


“Kamu belum mau tidur?” Tama yang masih salah tingkah hanya menggeleng.


Cindy mengangguk, lalu bertanya dengan nada lembut, “kalau kita tetap videocall sampai aku tidur, bisa?” Tama berpikir sebentar, lalu mengangguk.Dirinya melihat Cindy yang mulai memejamkan mata.


Dalam hati Tama, tanpa sadar dia berkata “Good night, princess”


***


Cindy beberapa kali memeriksa whatsappnya di kamar, tapi tak ada tanda-tanda balasan dari Tama. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam dan Tama tak kunjung datang. Bu Anita, Ibu Cindy, mendekati anaknya yang cemberut.


“Nak, kita mulai aja dulu makannya, ya? Tama mungkin sibuk.” Bu Anita menyisir lembut rambut anaknya yang mengangguk pelan.

__ADS_1


“Tama bilang kalau dia akan datang,” ujar Cindy pelan. Ibunya mengangguk untuk mengiakan perkataan sang anak.


“Kenapa anak ibu sedih? Tama kan belum datang, bukan nggak datang. Ibu juga yakin, Tama nggak akan mau pacarnya sakit gara-gara telat makan.” Bu Anita menggenggam tangan anaknya untuk menguatkan.


Cindy kesal pada dirinya sendiri. Mengapa dia tak menggunakan kartu remi untuk mengikat janji Tama. Pacar mungil Tama itu meyakinkan diri kalau Tama tak akan datang.


Untuk apa juga Tama datang tanpa keharusan dari kartu remi? Hati Cindy semakin sakit saat mengambil kesimpulan sepihak kalau selama ini, pria yang mencuri hatinya itu tak pernah suka melakukan kegiatan dengannya.


Ternyata benar, Cindy hanya wanita bodoh yang bertepuk sebelah tangan. Apa yang dia punya sampai merasa pantas bersanding dengan CEO seperti Tama?


“Cin, yuk makan,” ajak Susi yang baru datang. Cindy mengangguk, lalu keluar makan bersama ibunya dan Susi. Rintik hujan yang perlahan berubah deras mengiringi langkah mereka.


“Nah, yang kita tunggu akhirnya tiba. Mari kita makan.” Pak Surya, ayah Cindy, berkata dengan riang gembira. Cindy dan Susi lalu membantu Bu Anita menyiapkan peralatan makan.


Pacar Tama itu lalu menatap hujan di luar rumah dan berpikir, “Tama pasti senang karena bisa pakai hujan jadi alasan.” Dirinya mentertawakan kebodohan dirinya yang mengira Tama akan datang tanpa kartu.


“Kenapa kamu terlambat, Sus?” tanya Pak Timo, ayah Susi.


Sampai sekarang, Pak Timo masih menyesal kenapa harus menerima dua bersaudara itu sebagai pegawai di toko. Harusnya, satu diterima dan satu ya…ditendang ke jurang juga nggak apa-apa.


“Memangnya, kenapa lagi mereka berdua?” tanya Bu Anita penasaran.


 


“Biasalah tante, si Nina kan baru putus. Makanya, jadi frustasi. Dia berkali-kali lihat ke cermin dan bilang kalo dirinya jelek.” Penjelasan Susi membuat Bu Anita tambah penasaran.


“Berarti, si Nini baik, ya? Dia nggak mau saudaranya rendah diri,” ujar Bu Anita yang mengambil kesimpulan dengan energi positif.


“Nggak juga sih, Tante. Nina dan Nini kan kembar. Nah setiap kali Nina bilang dirinya jelek, si Nini pasti kesal karena itu artinya dia juga jelek.” Bu Anita terkekeh mendengar alasan yang sebenarnya.


Tiba-tiba, perhatian semua orang teralih pada ketukan pintu di depan. Bu Anita yang menebak kalau itu Tama, menatap Cindy dan mengarahkan kepala ke arah pintu. Cindy berdiri dengan berat hati.

__ADS_1


“Kas?” Cindy kaget melihat pacarnya yang basah kuyup. Di tangannya, ada martabak yang tak kalah basah. Cindy langsung menarik tangan Tama untuk masuk dan segera mencari handuk. Tama yang menjadi pusat perhatian semua orang di meja makan, menggaruk kepalanya dengan malu-malu.


“Astaga, Nak Tama. Kenapa sampai basah begitu?” tanya Pak Surya prihatin.


“Mobil saya tiba-tiba mogok,Om.” Tama sudah menelepon sopirnya untuk mengurus mobilnya, tetapi merasa menyesal karena datang terlambat. Apalagi, martabak yang menurut internet harus dibawa ke orang tua pacar, sudah berendam dengan ceria dalam kotak kertas.


Pak Surya berhenti bertanya saat melihat Cindy keluar dengan handuk dan pakaian kering sang ayah. Tanpa aba-aba, Cindy langsung mengeringkan rambut Tama dengan handuk lalu mengeluh, “Kenapa kamu ngga nunggu sopir kamu saja?” Karena kepanikan Tama, mengingat jarak yang tak jauh, dirinya memutuskan untuk langsung berlari ke rumah Cindy.


Tama hanya diam saja dimarahi seperti itu. Dirinya tak bilang soal alasannya terlambat, karena akan merusak kejutan ulang tahun Pak Surya darinya.


Selesai mengeringkan rambut Tama, Cindy langsung menyodorkan kartu ke-15. “Aku tahu kamu pasti akan nolak, tapi aku nggak mau kamu sakit. Permintaan ke-15 aku, kamu mandi air panas lalu pake baju ayah. Oke?” Wajah Cindy sangat serius sampai Tama segan. Tangannya mengambil baju Pak Surya lalu mengikuti Cindy ke kamar mandi.


Selesai mandi, Tama keluar dari kamar mandi dengan canggung. Walau pakaian dalam Pak Surya yang dikasih Cindy masih baru, dirinya tetap merasa tak nyaman memakai milik orang lain.


"Kamar mandi kamu romantis. Ada gayung lovenya," bisik Tama malu-malu. Manusia ini, hidupnya dimana sih, sampe terkesima banget sama gayung love?


Pak Timo yang melihat kehadiran Tama, langsung menyambut tanpa basa-basi, “Wah, bisa pas, ya. Pakaian dalamnya juga pas?”


“Pas, Om.” Tama menggaruk kepalanya malu-malu.


“Wah, berarti besar juga ya,” Susi langsung menepuk tangan ayahnya supaya berhenti bicara yang tidak-tidak.


"Maksudnya, besar hati dan ketulusannya," Pak Timo buru-buru mengoreksi perkataannya.


"Nggak nyambung, Ayah!" Susi mulai kesal dengan kerandoman sang ayah.


Tama yang mendengar perkataan Pak Timo hanya senyum. Dirinya baru akan duduk, tapi terhenti karena ada ketukan pintu dari luar. Akhirnya, hadiah Tama datang, dan dia berhasil bikin seisi rumah melongo.


Hayooo, apa coba hadiah Tama?


Jangan lupa like, vote, subscribe dan share untuk mendukung author ya ❤

__ADS_1


__ADS_2