
“Kamu mau minta apa?” Cindy bertanya saat melihat kartu ke-13 Tama.
“Aku mau kita buka time capsule.” Tama berkata dengan penuh senyuman. “Aku ingin tahu apa yang pacar kesayanganku tulis di kaleng itu untuk aku.” Cindy langsung gelisah, dan itu membuat Tama jadi kurang percaya diri.
“Kamu…maki-maki aku ya, dalam time capsule?” Wajah pria kulkas itu langsung pucat. Cindy menggeleng, tapi juga menolak secara halus.
“Time capsule itu dibuka kalau sudah bertahun-tahun. Kita kan belum lama bikin itu…” Perkataan Cindy terhenti karena Tama sudah melekatkan telunjuk di bibir Cindy seperti di drama-drama.
“Aku mau baca hari ini. Aku nggak mau kamu ganti isinya pas aku nggak lihat.” Cindy menggeleng, seolah mengganti isi time capsule adalah dosa terbesar yang dilakukan oleh umat manusia.
“Memangnya kamu nggak khawatir kalo aku baca isi time capsule kamu?” Cindy menggunakan peluru terakhirnya, tetapi tak mempan untuk membuat Tama mengurungkan niat
“Aku mau kamu baca time capsule aku. Memangnya kamu nggak penasaran, apa isi hati pria tampan dan perkasa seperti aku?” Cindy langsung mendorong wajah Tama dan membuat pria itu tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Setelah itu, tanpa mempertimbangkan perasaan Tama yang aslinya penakut, Nathan mengajak mereka masuk ke rumah hantu. Di wahana itu, mereka akan naik kereta yang mengelilingi area-area berhantu.
“Seperti anak-anak saja. Kita nggak usah…” Tama menghela napas saat Cindy sudah berlari dengan ceria untuk bergabung dengan Nathan dan Lia di pintu masuk wahana rumah hantu. Pria itu pun berjalan ke arah mereka dengan membungkuk karena tahu apa yang akan dihadapi.
“Kamu nggak perlu ikut, Kas. Aku nggak sendirian. Kan ada Nathan dan Lia.” Cindy merangkul pinggang Tama seraya tersenyum melihat wajah tegang pria itu.
“Bocah itu pasti maunya duduk sama Lia, dan ninggalin kamu duduk sendirian. Gimana kalo nanti ada orang aneh yang duduk di samping kamu? Siapa yang akan melindungi kamu?” tanya Tama dengan mata yang menatap kereta wahana dengan dua kursi per baris.
Saat kereta mulai berjalan, semua penumpang berteriak, kecuali Tama. Pria itu tetap memasang wajah datar walau tangannya sibuk meremas tangan Cindy karena dalam hatinya sangat ketakutan.
Nathan yang tak malu-malu menunjukkan ketakutannya, sampai merentangkan tangan ke belakang dan mengenai wajah datar Tama. Pria itu hampir berdiri untuk menggampar sang adik, tapi segera ditarik Cindy.
“Mana yang sakit?” Cindy bertanya di depan para kuntilanak yang memperhatikan mereka sepanjang perjalanan. Tama menunjukkan pipi kanannya dengan jari telunjuk, dan langsung dicium Cindy. Dalam sekejap, rasa sakit itu hilang entah kemana.
__ADS_1
“Aku sudah ngabulin permintaan kamu di bianglala, jadi aku nggak perlu cium kamu lagi di mobil. Okay?” Tama mengusap pipinya dengan bahagia.
Saking bahagianya, gerombolan genderuwo yang menampakkan diri tak terasa menakutkan lagi. Di mata Tama, mereka hanya makhluk yang butuh disayang-sayang dan dicium pipinya saja.
“Ini kan di tempat umum, Heat. Yang ada di sini bukan hanya manusia, tapi juga hantu, tapi kamu berani cium aku. Anak Om Surya sudah nakal, ya.” Cindy tertawa geli karena bisikan Tama itu.
“Tapi Heat, yang aku minta bukan ciuman di pipi.” Cindy langsung menatap Tama dengan galak. Para hantu di sekitar mereka seakan sudah tak ada wibawanya sama sekali.
“Eh, maksud aku, ciuman di tangan. Tapi, ciuman di pipi juga sudah cukup, kok. Makasih.” Tama berusaha mencegah terjadinya perang dunia ketiga. Cindy lalu mengangguk puas. Wanita itu lalu tiba-tiba memiliki ide saat melihat Nathan dan Lia yang begitu antusias melihat hantu.
Kira-kira, apa ide yang ada di pikiran Cindy?
Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih ❤
__ADS_1