Merebut Cinta CEO Kulkas

Merebut Cinta CEO Kulkas
Karaoke


__ADS_3

“Aku mau kita karaoke bareng.” Permintaan Tama seperti mimpi buruk bagi Cindy, sampai wanita itu berpikir kalau Tama berencana untuk membunuh dia dan Ferdinand dengan suaranya.


“Aku boleh ikut, kan?” Ferdinand langsung bertanya, tanpa basa-basi. Jauh di dalam hatinya, selain menginginkan Cindy sebagai pasangan, Ferdinand ingin selalu menemani Cindy agar tak disakiti Tama seperti sebelumnya.


Tama menghela napas ketika Cindy mengiakan pertanyaan Ferdinand. Pria kulkas itu ingin mengeluh, tapi kehadiran Ferdinand memang ada dalam persyaratan Cindy. Tama benar-benar berharap kalau suaranya akan menyiksa Ferdinand nanti.


“Om Timo, boleh bantu saya jual emas?” Tama bertanya dengan nada memohon.


“Nak Tama, Om tahu berapa banyak uang yang ada di dompet kamu. Bagi orang biasa, itu seperti gaji tiga bulan. Karena itu, stop minta Om jual emas kamu, dan pakai uang yang kamu punya secara efisien.” Pak Timo menolak tanpa basa-basi.


Tama menggaruk kepalanya dengan frustasi. Dirinya ingin menjual sendiri, tapi pasti akan ditolak toko emas karena permintaan papanya. “Om, saya akan pergi karaoke dengan Cindy dan Ferdinand. Saya malu kalau nanti uangnya cukup.”


Pak Timo menggeleng. “Pasti cukup. Kalo perlu, kamu nggak usah pesan apa-apa. Biar mereka berdua saja yang pesan.” Setelah memberikan nasihat kejam, ayah Susi itu pun pergi tidur tanpa rasa bersalah.


 


Sesuai usulan dari Susi, Tama memilih tempat karaoke yang biasa-biasa saja, dengan paket yang harganya terjangkau. Setelah menyetujui ruangan karaoke yang akan dipakai, Tama, Cindy dan Ferdinand pun masuk ke dalam sana.


Saat berada dalam ruangan, Tama langsung mendekati layar touchscreen yang dipakai untuk memilih lagu. “Kamu mau lagu apa, Cin?” tanya Tama lembut dengan senyumannya yang paling manis. Cindy bersiap untuk menggeleng, tapi tiba-tiba teringat dengan suara jelek Tama. 


Wanita itu langsung menyebut judul lagu, lalu mengambil dua mic yang berada di samping layar. Setelah itu, Cindy menyerahkannya pada Ferdinand.


Tama cemberut karena akan menyaksikan Cindy berduet dengan saingannya, apalagi yang dipilih Cindy adalah lagu romantis.


Setelah lagu pertama, Cindy dan Ferdinand terus-terusan menguasai mic sampai Tama kesal. Pria kulkas itu pun lalu memilih satu lagu berbahasa Prancis yang hampir mustahil diketahui mereka berdua. Sayang, rencana Tama gagal total.

__ADS_1


Saat melihat lagunya, Cindy dan Ferdinand hanya saling menatap, tapi Cindy sudah bertekad untuk tak membiarkan Tama menyanyi. Mereka berdua lalu memaksa diri menyanyikan lagu berbahasa Prancis yang dipilih Tama, lalu tertawa geli.


Dunia Tama seakan hancur berkeping-keping. Dirinya tak masalah jika tak bisa menyanyi, tapi melihat Cindy tersenyum dan tertawa bersama Ferdinand sungguh menyakitinya. Rasanya, Tama ingin berteriak, “Berhenti tersenyum! Pemilik senyummu adalah aku, bukan dia.”


Cindy benar-benar menikmati kebersamaannya dengan Ferdinand, sampai mengabaikan Tama yang hanya duduk melamun. Saat Cindy sadar, ada rasa bersalah yang merayapi dirinya. Sampai kapan dia akan menyakiti pria itu?


Cindy lalu menggelengkan kepala. Dalam pikirannya, saat ini, Tama hanya bermain-main dengannya, sama seperti sebelumnya. Cindy yakin, pria itu hanya ingin bersenang-senang sebelum menikahi Dhita.


Lamunan Cindy buyar karena panggilan telepon yang diterima Ferdinand. Wajah Ferdinand terlihat serius saat bicara, dan tiba-tiba meminta izin untuk pergi dari ruang karaoke. Dalam ruangan itu, hanya tinggal Cindy dan Tama.


“Kamu mau lagu apa?” tanya Cindy di depan layar, bersiap untuk mengetikkan lagu yang diinginkan Tama. Tama hanya menghela napas dan mengambil mic, dan mulai berbicara datar,


"Aku sayang kamu apa adanya,


Karena kamu layak dicintai,


Walau semuanya dimulai dengan sebuah syarat,


Walau harus ada hati yang tersakiti,


Tapi selalu ada yang siap menyembuhkan.”


Cindy tahu jelas kata-kata yang diucapkan Tama. Itu adalah lirik lagu romantis yang ditulis oleh mereka berdua saat candle light dinner.


“Kamu ingat…” Cindy berkata pelan.

__ADS_1


“Bukan hanya ingat. Liriknya sudah terpatri di hati aku.” Tama tersenyum, lalu meletakkan mic. “Aku tahu suara aku jelek, tapi rasanya nggak adil kalo nggak dikasih kesempatan berduet sama kamu. Apa untuk bisa menyanyi di sini, suaranya harus bagus?”  Secara tak sadar, Tama mengungkapkan perasaan kecewa yang dia pendam sejak tadi.


“Kamu hanya diam, Tam. Kamu nggak berbuat apa-apa. Itu artinya, kamu setuju. Stop berpikir kalau semua hal harus ada syaratnya. Kamu bisa saja menyanyi, tapi kamu hanya diam, bahkan ketika aku dan Ferdi menyanyikan lagu..."


“Kamu panggil dia Ferdi?” Tama memotong perkataan Cindy dengan dingin, lalu memejamkan mata dengan menahan amarah.


“Kita pulang saja, ya? Lagian, harus ada Ferdinand kan, supaya permintaannya sah,” ajak Tama yang ingin menghindari pertengkaran, dan diiyakan Cindy.


Tama sedikit menyesali kata-katanya, tetapi hatinya sudah terlanjur sakit dengan perlakuan Cindy.


Yang Tama inginkan saat karaoke bareng? Menyanyi bersama Cindy, tertawa bersama Cindy, dan duduk di samping Cindy. Kenyataannya? Dia hanya menonton Ferdinand melakukan semua itu dengan Cindy. Cindy-nya bahkan kini memanggil Ferdinand dengan Ferdi!


Seolah semua itu belum cukup, saat bayar, Tama baru tahu kalau Ferdinand sudah membayar semuanya. Kalau seperti ini, Tama sudah tak punya apapun lagi yang bisa di tawarkan ke Cindy.


“Aku pesan taksi online dulu, ya.” Perkataan Tama dijawab Cindy dengan anggukan kepala. Mereka datang dengan mobil Ferdinand, jadi tanpa kakak Dhita itu, Tama dan Cindy harus pulang dengan taksi online.


Dalam perjalanan pulang, hujan mulai turun, dan semakin deras saat mereka sampai di rumah Cindy. Saat akan masuk, Tama menyodorkan kartu keenam ke Cindy.


“Aku mau kita berpelukan. Bisa?” Tama bertanya dengan nada memohon. Dirinya sudah begitu putus asa dan sedih, dan hanya pelukan Cindy yang bisa mengobati dia saat ini. Tangan Tama bahkan sudah terentang, tapi Cindy menggeleng.


“Harus ada Ferdinand. Oke?” Wanita itu lalu masuk ke dalam, meninggalkan Tama yang membungkuk kecewa. Pria itu lalu berjalan pulang ke rumah Pak Timo di bawah hujan, dan sudah bisa ditebak, dirinya demam di tengah malam.


Dalam keadaan setengah sadar, dia sempat melihat Pak Timo yang mendekatkan wajah, Susi yang berdiri dengan tangan di pinggang, dan…seseorang yang membuatnya tak ingin bangun kalau saja itu adalah mimpinya.


Siapa ya kira-kira?

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih ❤


__ADS_2