
“Aku suka kamu.” Pria berbadan besar itu berkata dengan datar, tapi berhasil mengguncang hati Tama dan Pak John. Tama masih bertanya-tanya mengenai tujuan Cindy melakukan itu, tapi dirinya senang karena merasa dicintai dengan cara yang unik.
Bagaimanapun juga, Tama sudah mulai memikirkan cara agar hal ini tak merugikan hubungannya dengan Cindy, seperti ketika dirinya merobek kertas pemutusan kerja sama.
Sekarang, dia akhirnya mengerti kenapa Pak Karyo mengunyah kertas jawaban saat game tebak-tebakan. Sungguh dedikasi yang luar biasa untuk menjaga keamanan dan ketentraman.
“Apa maksudnya ini, Bu Cindy?” Pak John bertanya dengan gugup. Cindy tersenyum, lalu berbisik ke pria berbadan besar itu. Si pria mengangguk patuh lalu berdehem sebelum mengeluarkan perkataan dahsyat lainnya.
“Saya suka kamu.” Tama hanya menggeleng dan tak bisa berkata-kata. Cindy melihat Pak John yang hampir pingsan, lalu menjelaskan.
“Saya nggak merasa melakukan kesalahan. Saya hanya ingin kalian melihat dan mengenal staf kami yang berdedikasi, agar membatalkan pemutusan kerja sama. Mengenai kata-kata tadi, namanya memang “Suka Kamu”. Kalau namanya memang itu, saya bisa apa?” Cindy mengangkat bahu dengan santai.
__ADS_1
Karena ruangan Tama tetap sunyi walau setelah dirinya menjelaskan, Cindy pun kembali melanjutkan perkataannya. “Untuk yang kedua kalinya, saya merasa dia nggak sopan, jadi saya minta dia menggunakan kata “saya” , dan bukan aku.”
Tama hanya mengangguk. Pria itu khawatir, kalau Cindy sampai melancarkan serangan lainnya, dia tak bisa menahan diri untuk memeluk Cindy dan berteriak, “Aku juga suka kamu!"
“Pak Tama?” Pak John memanggil Tama agar kembali ke dunia nyata. Pria itu berdehem sebentar, lalu berkata dengan tenang,
“Baiklah kalau begitu. Saya mengerti. Sayang, pemutusan hubungan kerja sama ini adalah keputusan yang tak bisa diganggu gugat.” Cindy menggeleng karena tak setuju.
“Sayang, ini tak bisa diganggu gugat. Sayang, ada yang lebih bagus dari kita. Sayang, ada yang harganya lebih menarik dari kita. Pak Tama nggak bosan sayang-sayang terus?” tanya Cindy dengan nada mengeluh.
“Kami minta maaf, Bu. Tak ada yang bisa kami lakukan. Keputusan ini sudah final.” Cindy menghembuskan napas dengan kesal. Jika saat ini mereka tak diawasi, Tama pasti sudah memeluk pacar mungilnya itu dan menciumnya tanpa henti.
__ADS_1
“Kami terima ini semua, asal biarkan saya membawa pulang satu barang paling berharga di ruangan ini.” Pak John langsung mengajukan keberatan saat mendengar kata-kata Cindy, tapi langsung dihentikan Tama.
Pria kulkas itu tak keberatan jika Cindy mengambil barang yang dia sukai di ruangannya. Bagaimanapun juga, Cindy sudah memiliki hatinya, jadi dirinya bersedia memberikan apapun yang diinginkan Cindy.
“Suka kamu, coba berjalan ke arah jam dinding berwarna biru.” Tama tersenyum mendengar instruksi Cindy. Hari ini, dirinya memakai kemeja biru, dan Cindy jelas memperhatikan.
“Suaranya tegas, selalu tepat waktu, dan kualitasnya baik. Aku suka yang seperti itu. Ambil dan bawa pulang.” Cindy mendeskripsikan jam dinding, tapi jantung Tama yang berdebar tak karuan. Bila ini terus terjadi, bisa-bisa Tama terkena serangan jantung.
Setelah itu, mereka berdua keluar dan ruangan pun menjadi sunyi kembali. Tama mengelus dada untuk memastikan jantungnya masih aman dan terkendali.
Belum juga dirinya berhasil mengatur perasaan ke mode normal, sudah ada panggilan yang bikin Tama mengerutkan kening.
__ADS_1
Kira-kira, itu panggilan dari siapa, ya?
Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih ❤